HOPES

Hehehehehe..

Konnichiwa... Ohisashi buri desu *sok-sokan pake' bahasa Jepang* !!

Nee, saya mau nulis fict lagi nih!! Berhubung lagi senggang *padahal sibuk* dan ga' ada kerjaan *padahal banyak tugas* . Dan untuk fict ini, saya udah siap-siap menerima protes dan lemparan asbak dari pembaca.

Awalnya saya ga' punya niat ngebikin fict ini dan lagi nulis kelanjutan kisah Naruto di "Free Bird". Karena suasana waktu itu sepi banget, saya putuskan untuk nyetel MP3 dan denger "Long Kiss Good Bye".

Lalu tiba-tiba....TING!! Muncul ide gila di otak saya dan akhirnya saya langsumg bikin summary fict ini. Setelah ngobrak-ngabrik kaset-kaset MP3 dengan binalnya, akhirnya saya putuskan untuk menjadikan lagu "Natsu no Yuutsu" punya Laruku sebagai sontrek-nya.

Set! Set! Set! Kats! Kats! Kats! Akhirnya setelah beberapa jam berlalu, jadi juga fict-nya! Aneh mungkin, karena emang bikinnya super dadakan dan kerja otak terbagi-bagi antara mikirin persiapan OSPEK, mikirin plot buat chap. III-nya "Free Bird" serta buat ngebikin fict ini. Jadi pasti banyak kekurangan. Dan untuk itu, saya hanya bisa bilang, "Gomen ne...."

Wokey lah, kita langsung tu de poin ajahh...

>> Disclaimer : Kalo kata Hidan, NARUTO dkk itu punyanya Dewa Jashin *dijotos Masashi Kishimoto*

>> Rating : Sebenernya aman-aman aja kok kalo saya bikin K atau K+ *ditendang* . Tapi untuk lebih amannya lagi, saya kasih T aja.

Aturan bacanya sederhana kok!
1. "+ + +" adalah tanda ganti setting
2. "* * *" adalah tanda ganti hari.

########################################################################

HOPES

a NARUTO fanfic
Written by : KeN

Original chara by : Masashi Kishimoto
___________________________________________________________________________



'Mulai hari ini, dia bukan lagi milikku.'

Naruto mengakhiri tulisan di diary-nya itu dengan helaan napas panjang.

"Aku tak yakin bisa melakukannya."

*************

"Pagi!"

"Selamat pagi!!"

Begitulah celoteh khas tiap pagi yang memenuhi segala sudut Konoha Gakuen kala para siswa mulai memadati bangunan besar dengan tiga lantai itu.

Tak terkecuali di ruang kelas 2-B. Sedikitnya sudah ada 25-an anak yang datang. Sebagian bergerombol. Membicarakan sesuatu yang sepertinya mengasyikkan sambil sesekali diselingi derai tawa.

"Ah! Ohayou, Naruto!", sapa salah seorang di antara gerombolan itu ketika Naruto muncul dari pintu kelas.

Naruto memandang gerombolan itu sebentar lalu tersenyum riang, "Ohayou!!"

Kemudian dilanjutkan langkahnya menuju bangkunya yang terletak paling belakang dan paling sudut itu. Ketika itulah, Naruto lewat di samping bangku yang diuduki oleh pemiliknya. Seorang pemuda berambut hitam kebiruan yang tengah membaca buku.

Naruto meliriknya lewat ekor matanya. Mengamati pemuda itu diam-diam. Dan seketika itu pula Naruto berharap bisa melihat senyum, yang meski dingin, selalu tertuju padanya tiap pagi.

Tapi tak ada. Dan Naruto sadar, mulai hari ini senyum itu tak akan lagi terbingkis untuknya.

+ + + + + + + + +

Setelah melewatkan dua jam pelajaran Biologi bersama Kurenai-sensei, anak-anak kelas 2-B bergegas menuju ruang ganti untuk kemudian mengikuti pelajaran olah raga.

"Oi, Naruto! Kau sudah ujian praktek lay-up belum?", tanya Kiba yang menghampiri Naruto.

Naruto mengingat sejenak, "Sepertinya belum. Kenapa?"

"Gai-sensei bilang hari ini ada ujian susulannya. Jadi nanti kau langsung ke lapangan basket saja!", pesan Kiba.

"Oke! Terima kasih!!"

"Good luck! Aku beri tahu teman-teman yang lain dulu!", ujar Kiba yang melenggang pergi.

Sepeninggal Kiba, Naruto pun bergegas menuju lapangan basket dan tak lama kemudian, muncul beberapa teman sekelas Naruto diiringi langkah tegap penuh semangat dari Gai-sensei yang tetap setia dengan setelan hijau nge-jreng dan rambut batok kelapa yang sudah menjadi ciri khasnya sejak dulu.

"Yo, anak-anak!", buka Gai-sensei, "Seperti biasa, jangan nodai pelajarn olah raga ini dengan bermalas-malasan!! Jadi, mari kita lakukan dengan penuh semangat masa muda!"

Anak-anak hanya membuang napas bosan begitu mendengar motto yang selalu mereka dengar tiap hari Rabu itu.

"Sekarang, berbaris yang rapi!", perintah Gai-sensei sambil mulai men-dribble bola di tempat.

Anak-anak mulai membentuk barisan dengan patuh. Meski sesekali saling sikut, karena tak mau dapat tempat paling depan.

Saat itulah Naruto menangkap sosok pemuda berwajah stoic di lapangan sebelah yang tengah bermain rugby dengan sisa teman-teman sekelas Naruto. Pemuda itu dengan gencar berlari sambil membawa bola rugby dalam dekapannya dan menerobos setiap lawannya yang berusaha menerjang dan menghalangi langkahnya atau berusaha merebut bola darinya.

Semua terekam dalam gerakan slow-motion bagi Naruto. Bagaimana pemuda itu melompat ringan saat menghindari jegalan lawan dan rambutnya yang sudah tak beraturan yang melemparkan butiran-butiran keringat dengan deras. Perlahan Naruto tersenyum. Ia ingat bagaimana aroma rambut itu. Ia angat betapa lembut rambut itu. Ia mengingat semuanya dengan begitu jelas.

"Naruto!! AWAAASSS!!!", teriak seseorang.

Naruto yang kaget buru-buru menoleh dan...

BUGH!!

Sukses sudah hidungnya dihantam bola basket yang keras itu hingga ia mimisan seketika dan jatuh terduduk ke tanah.

"Kenapa melamun, eh?", tanya Neji iba begitu semua peserta ujian praktek susulan mengerumuninya.

"Hehehe, gomen..gomen..", Naruto hanya nyengir lebar sambil menyeka darah yang menitik dari hidung dengan punggung tangannya.

"Kau tak apa-apa, Uzumaki?", tanya Gai-sensei yang mengamati keadaan Naruto.

Naruto mencoba berdiri dibantu beberapa temannya, "Tidak apa-apa, Sensei. Tapi kalau boleh, saya mau ijin ke kamar mandi untuk cuci muka dulu."

"Tentu. Kau perlu ditemani!"

"Tak perlu, Sensei! Saya bisa sendiri. Terima kasih.", ujar Naruto yang masih dengan senyum terkembang meninggalkan lapangan basket menuju kamar mandi.



Naruto membasuh tangannya di keran wastafel lalu mengelap daerah antara hidung dengan mulutnya dari darah. Kemudian ia menatap wajahnya sebentar di cermin. Pikirannya kembali terbang pada pemuda yang tengah bermain bola rugby di lapangan tadi.

Naruto berharap pemuda itu datang dengan panik menghampirinya, menyentuk wajahnya dan mengelap darahnya dengan lembut sambil mengumamkan kata, "Baka!", di sela-sela kekhawatirannya.

Tapi tak ada. Dan Naruto sadar, mulai hari ini perhatian itu tak lagi tersedia untuknya.

+ + + + + + + + +

TENG! TENG! TENG!
Lonceng memekikkan suaranya keras-keras. Pertanda bahwa seluruh kegiatn sekolah pada hari itu telah usai.

Naruto menuruni tangga sekolah dengan gontai. Kepalanya pusing akibat baku hantamnya dengan bola basket tadi.

"Rasanya berendam di onsen akan menyenangkan.", ujarnya pada diri sendiri.

Akhirnya Naruto pun melangkahkan kakinya menuju onsen yang tak jauh dari sekolah.

Selama perjalanan, Naruto hanya diam. Bahkan ia tak tahu apa yang sedang ia pikirkan
. Rasanya otaknya bekerja tanpa perintah. Memutarkan sederet kenangan yang pernah ia alami. Dulu. Saat ia tak perlu berjalan sendiri seperti ini. Saat ia tak perlu diam seperti ini.

Dan, otak Naruto pun memutuskan untuk menggambar sosok itu dengan sempurna. Rambut hitam-kebiruan yang melambai tertiup angin. Mata onyx-nya yang bersinar lembut. Hidungnya yang mancung dan bibir merah yang menyunggingkan senyum dingin namun juga menghadirkan kehangatan di saat yang sama.

Naruto meraung keras dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat sambil berujar penuh kefrustasian, "Ayolah, Naruto! Bukankah dulu sebelum kau bertemu dengannya, kau sudah terbiasa sendirian begini!!"

"Kau ini kenapa?", tanya seseorang di belakang Naruto.

Naruto terkejut dan memutar badannya.

DEG!!

Apa yang digambar oleh otak Naruto tadi kini jadi kenyataan. Sosok itu berdiri di hadapannya. OKE! Sekarang giliran jantung Naruto yang bekerja gila-gilaan.

"A...a..apa..kau.. TEME!!", Naruto gugup.

Orang itu mengernyit, menyiratkan protes.

"Begitukah cara bicaramu pada pa...", orang itu terkejut sendiri lalu terdiam sebentar sebelum melanjutkan, "pada temanmu sendiri?"

Mata biru langit Naruto melebar mendengar kalimat yang keluar dari mulut pemuda di hadapannya itu.

"Ini!", Pemuda itu menyerahkan sebuah buku pada Naruto, "Ketinggalan di laci bangkumu. Ceroboh seperti biasa, Dobe?"

Naruto menerima bukunya sambil menyunggingkan senyum pahit, "Kenapa harus repot-repot mengecek bangkuku yang letaknya dua baris di belakang bangkumu, Teme? Tak perlu ada ramah tamah begini lagi kan?!"

Kini mata onyx itu yang terbelalak.

"Kau bilang, kita hanya teman kan?!", Naruto memberikan penekanan pada setiap kata yang diucapkannya, "Kenapa harus ada perlakuan khusus begini?"

Hening. Sesaat kedua pemuda ini terlihat tengat sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.

"Kau lebih suka seperti ini?", tanya pemuda itu.

"Kau yang memilhnya. Dan kurasa kau benar, ini yang terbaik.", ucap Naruto. Berusaha agar suaranya terdengar seperti biasa.

Mata onyx itu meredup pilu, "Begitu?"

Sekali lagi, hening yang menyayat itu datang.

"Pulanglah! Hari sudah hampir gelap!", kata Naruto akhirnya.

Pemuda itu mengangguk, "Gomenasai..."

"Daijoubu.", Naruto berusaha tersenyum.

Pemuda di hadapan Naruto itu kini membalikkan badan dan mulai melangkah menjauhi Naruto.

Naruto memandangi punggung yang tengah menjauh darinya dan tersiram matahari senja itu dalam diam. Direnggutnya pelan buku dalam genggamannya. Rasanya kali ini Naruto tak bisa menahannya. Tak bisa menahan air mata yang sejak kemarin memohon padanya untuk dialirkan. Ia sekali lagi berharap. Semoga punggung itu akan berhenti dan Naruto bisa mendekapnya serta melarangnya pergi.

Tapi tak ada. Dan Naruto sadar, punggung dan tubuh itu tak akan lagi bisa direngkuhnya.

===

FIN

===


#########################################################################


Nyaaaaaaaaaaaaaa..........aneh ya?!

Rasanya saya juga ga' bisa suka sama fict ini. Soalnya bikin inget sama mantan sih, hehehehe...

Ngemeng-ngemeng, saya pingin banget bisa bikin fict antara Kakashi-sensei sama Iruka-sensei. Tapi masih bingung gitu mau bikin yang kaya' gimana. Secara, Kakashi-sensei sama Iruka-sensei itu punya imej dewasa. Lha saya ini?? Cuma bocah bau kencur yang belum banyak makan asam-garam kehidupan *halah, mulai ga' nyambung* . Makanya, saya mau bertapa dulu di "Valley of the End". Minta wangsit sama patungnya Uchiha Madara dan Ichidaime. Hahahaha..

Gitu aja deh dulu! Oh iya, kalo kalian ga' puas sama ending cerita ini dan menuntut saya untuk bikin sekuelnya, bilang aja! Kalo banyak yang minta, nanti saya bikinin deh!! Tapi kalo ga' ada yang minta, ya udah! Gini aja!

As usual, i'll waiting for your comments and critics and supports. Arigatou gozaimasu! JAAAAAAAAAA..............

1 komentar:

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
 

Posting Komentar