Akhirnya berhasil juga bikin 3rd chapter-nya "Free Bird" *sujud syukur* !! Hikz, hikz T-T ... Saya bener-bener terharu *lebay lagi* ..
Nulis draft-nya sampe' jam 12 malem lho! Ditemani secangkir coffee cream dan sekaleng biskuit serta alunan lagu berjudul "Lucky" yang merupakan OST. Boys Before Flower, saya duduk bersila menghadap meja belajar dan mencoretkan kata demi kata. Meski awalnya ga' yakin bakal berhasil, toh akhirnya saya bisa merampungkannya. Seneng buagetdh dweh!!
Maaf atas keterlambatan yang membuat Sodara-sodara sekalian menunggu. Banyak kendala dan godaan dalam pembuatan chapter kali ini. Dan terima kasih kepada semua yang sudah mendukung saya hingga terselesainya fict ini.
Kepada Ai-chan, Saku-chan, dan Chi-chan serta teman-teman FS yang lain yang udah nunggu-nunggu --ini rikuesnya Ritsu a.k.a Kagari-- *tapi emang ada yang nunggu ya?!*, ini hadiah buat kalian seperti yang udah lama saya janjikan. Mungkin masih amat sangat jauh dari kata "bagus", dan lebih jauh lagi dari kata "sempurna". Tapi semoga kalian semua menyukainya.
Tetap dukung saya ya?!
Mari kita mulai!!!
>> Rating : Masih fict yang 'aman' kok! Meski ada sedikit adegan "ehem", tapi masih wajar *benarkah??* . Masih pantas dikasih label "T".
>> Disclaimer : NARUTO dkk punya Masashi Kishimoto dan "Free Bird" punya saya!
Aturan mainnya cuma satu : "+ + +" adalah tanda pergantian setting.
Chapter III
--Heart Beat--
__________________________________________________________________________
Pagi itu, sekali lagi matahari perlahan naik dari persembunyiannya. Menantang dengan gagah segala kehidupan yang mulai padat di hari yang baru.
Begitu pula dengan pemuda yang satu ini. Ia pun mulai dikuasai kesadaran dari tidurnya. Ia menggeliat pelan di ranjang empuknya lalu membiasakan matanya akan kehadiran sang surya yang kembali mengetuk pelupuk matanya untuk terbuka.
Uchiha Sasuke, kini telah sadar seratus persen meski masih dalam posisi berbaring miring. Butuh beberapa detik baginya hingga ia terbelalak saat menyadari ada yang hilang dari tempatnya.
Pemuda berambut pirang, yang semalam ada di dalam dekapannya, menghilang. Kontan, pemuda bermata onyx ini langsung melompat dari ranjangnya dan keluar kamar. Jalannya sedikit terhuyung karena matanya berkunang-kunang akibat kecerobohannya bangun dari posisi tidur tanpa komando.
'Kemana dia?', panknya dalam hati.
Ia membuka pintu kamar mandi dan tak menemukannya di sana.
Sasuke meneruskan langkah ke ruang tamu.
'Bagaimana kalau ia keluar apartemen dan ditemukan maniak-maniak kemarin?', Ketakutan Sasuke makin menjadi.
Saat itulah, Sasuke melintasidapur dan menemukannya di sana.
"Uchiha-san, ada apa?", tanya pemuda yang ada di dapur itu sedikit takut begitu Sasuke muncul dengan wajah penuh kekhawatiran dan cemas.
Sasuke merenggut rambutnya dan menghela nafas lega, "Kukira...", Ia langsung menyandarkan punggungnya ke dinding lalu memerosotkan tubuh ke lantai, " Kukira kamu pergi."
Perahan pemuda berambut pirang itu, Naruto, tersenyum, "Maaf. Aku bangun tanpa memberi tahumu."
"Dari kemarin kau minta maaf terus.", kata Sasuke.
"Hehe, begitu ya?! Maaf...."
"Hei! Kenapa minta maaf lagi?", tegur Sasuke.
Naruto makin terkekeh, "Baik, Uchi..."
"Satu lagi! Cukup panggil aku 'Sasuke' saja! Tak perlu terlalu formil.", Sasuke mendekati Naruto, "Masak apa?"
"Oh!", Naruto menatap masakannya, "Aku menemukan ada bahan kare di lemari es. Jadi kupakai saja.", Naruto mengaduk masakannya yang menggelak, "Uchi..eh, Sasuke suka nasi kare tidak?"
"Asal nanti kamu sajikan dengan tomat, pasti kumakan sampai habis.", Sasuke tersenyum.
Sejenak, Naruto merasa ada yang berdesir dijantungnya. Cepat-cepat saja ia mengalihkan perhatian dari Sasuke.
"Ada yang bisa kubantu?",tawar Sasuke.
"Ah, iya.", Naruto sediki gugup, "Tolong keluarkan nasinya dari rice-cooker dan siapkan piringnya."
"Oke!"
Sasuke segera menghadapi rice-cooker yang duduk manis di meja porselen dekat kompor gas yang dipakai Naruto.
"Kau bisa masak ternyata?!", kata Sasuke.
Naruto memandang Sasuke sebentar, "Aku hanya bisa sedikit kok. Soalnya di panti asuhan ada giliran piket memasak."
"Panti asuhan?", Sasuke mengernyit.
"Tempatku tinggal.", Naruto tersenyum pahit sambil mengaduk kare. Sedikit teringat dengan tempat mengerikan itu.
Sasuke mengamati raut wajah Naruto yang sedih lalu mengucek rambut pemuda itu tanpa ekspresi, "Rumahmu sekarang di sini."
"Tapi, Sasuke..."
"Aku akan mendiskusikannya dengan kakakku. Jangan khawatir!", Sasuke tersenyum lagi.
Mau tak mau Naruto membalas senyum tulus itu.
"Sepertinya karenya sudah matang.", Sasuke menyadarkan Naruto.
"Oh, iya.", Naruto mematikan kompor dan memindahkan panci ke meja makan yang tak jauh dari meja porselen sementara Sasuke meletakkan tempat nasi di sebelahnya.
"Itadakimasu!", ucap Sasuke dan Naruto bersamaan setelah duduk berhadapan di kursi makan.
Tok... Tok...
Terdengar ketukan di pintu.
"Masuk!", perintah Pein.
"Maaf, Bos!", Salah seorang anak buah Peindatang menghadap,"Jadwal Anda untuk hari Sabtu sudah dikosongkan sesuai permintaan."
Pein tersenyum puas sambil duduk di kursi putarnya, "Bagus!"
"Ada lagi yang Anda perlukan?", tanya anak buah itu.
"Tidak. Sekarang kau boleh pergi.", Pein mengayun-ayunkan telunjuk dan jari manisnya ke arah pintu.
"Baik! Permisi, Bos!", Anak buah itu beranjak setelah sebelumya memberi hormat pada Pein.
Pein tertawa kecil sepeninggal anak buahnya, "Naruto, Naruto! Kau memang ditakdirkan untuk menjadi milikku!"
Ia mengambil anak panah dart kemudian melemparkannya dan tepat mengenai foto Naruto yang ditempelkannya ke dinding.
"Sudah kubilang, aku hanya bisa sedikit.", Naruto masih merendah.
"Tapi tetap saja kau lebih jago dariku!"
Naruto hanya tersenyum mendengar pujian dari Sasuke yang tak ada henti-hentinya.
"Wah, aku harus segera berangkat kuliah.", seru Sasuke setelah melihat jam dinding.
"Kalau begitu tinggalkan saja! Biarkan sisanya aku yang urus.", Naruto mendekati Sasuke dengan tujuan mengambil alih pekerjaan pemuda itu. Tapi tanpa sengaja ia menginjak lantai yang basah --akibat cipratan air dari wastafel-- yang membuatnya hilang keseimbangan.
Dengan sigap Sasuke meraih lengan Naruto, mencegahnya jatuh ke lantai. Tapi malang tak dapat ditolak. Pemuda berambut hitam-kebiruan itu malah ikut terjatuh dan menimpa tubuh Naruto.
Sejenak Sasuke dan Naruto merasa ada yang ganjil saat ada sesuatu yang lembut tersentuh. Keduanya perlahan membuka mata dan terbelalak.
Bibir mereka bertemu!
Sasuke buru-buru berdiri, "Ma--maaf..."
Naruto masih terdiam dengan posisi tidur telentangnya.
"Aku...ti-tidak sengaja!", Sasuke terlihat gugup.
Nafas keduanya tak beraturan dan keadaan pipi yang memerah serta debuk jantung yang tidak karuan.
Sasuke mengulurkan tangannya untuk membantu Naruto berdiri dan pemuda itu menyambutnya ragu-ragu.
Keduanya berdiri kikuk dengan Sasuke menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hingga beberapa menit kemudian...
"A-aku siap-siap dulu!", ujar Sasuke yang langsung kabur tanpa mendengar respon dari Naruto.
Naruto hanya memandang lantai dan perlahan menyentuh bibirnya. Seulas senyum terbit.
"Kau ini,", Neji mengaduk isi tasnya, mencari buku yang diminta Sasuke, "lain kali jangan termakan kata-kata Shikamaru lagi!"
"Hnn.", jawab Sasuke acuh sambil menerima buku darti tangan Neji.
Hening. Sesaat yang terdengar hanya suara buku Neji yan dibuka-buka saat Sasuke memeriksanya.
"Hei, Sasuke!", panggil Neji.
"Hnn?", balas Sasuke tanpa mengalihkan perhatian dari catatan Neji.
"Apa yang harus kulakukan?",
Akhirnya Sasuke tertarik untuk mendengarkan dengan seksama.
"Kurasa...aku..."
"Bicara yang jelas!", potong Sasuke.
"Gaara! Aku menyukainya.", aku Neji.
"'Kau' kenapa?", Sasuke lambat merespon.
"Aku suka dia.", ulang Neji sambil berbisik.
"Kau suka siapa?", Sasuke masih lemot.
"G-A-A-R-A!", Neji mulai jengkel pada ketidakpekaan Sasuke.
Sasuke terdiam. Mengartikan semua ucapan Neji yang ia dengar.
"HAHH??", Akhirnya Sasuke melotot. Terlambat sekali, Kawan!
"Husshh!", Neji menempelkan telujuknya di bibir.
"Cukup aniki saja yang suka sesama jenis. Kenapa kau ikut-ikutan?", Sasuke merendahkan suaranya.
"Membicarakanku, Adik kecil?",Terdengar suara yang sangat familiar di belakang telinga Sasuke yang membuatnya malas menoleh.
"Itachi-senpai! Deidara-senpai!",sapa Neji sementara dua orang yang bersangkutan mengangguk kecil padanya.
"Kalian ngobrol apa?", tanya Itachi setelah duduk di samping Sasuke --dan Deidara di seberangnya-- .
"Bukan urusanmu, Aniki!", jawab Sasuk pedas.
"Kejam sekali!! Padahal aku semalaman mengkhawatirkanmua. Iya kan, Dei?", Itachi merangkul leher adiknya sambil menoleh pada Deidara yang tertawa kecil.
"Cih! Menjauhlah dariku!", Sasuke menghindar, "Aku heran, bagaimana bisa Deidara-senpai betah dengan orang ini?"
Deidara tersenyum lagi.
"Dei-dei tak akan bisa hidup tanpaku.", Itachi berbangga diri.
"Percaya diri sekali?", Deidara menatap Itachi dengan sebelah tangan menopang dagu.
"Kenyataannya begitu kan?!", Itachi membalas tatapan Deidara dengan mesra.
Kemudian keduanya tertawa.
Sasuke hanya mengamati kedua pasangan itu dalam diam. Dan tiba-tiba otaknya memutar ulang insiden 'kecil' bersama Naruto di dapur tadi pagi. Ia menggeleng kuat-kuat, ia tak mau seperti kakaknya atau Neji yang suka sesama jenis.
"Kau kenapa, Baka?", tanya Itachi.
"Aku masih normal, tahu?!", seru Sasuke tanpa sadar yang membuat seluruh perhatian yang ada di kantin itu tercurah padanya. Sementara Itachi, Deidara dan Neji hanya bengong melihat kelakuan ajaib Saske tadi.
"Kau teriak pada siapa, Bodoh?", tanya Itachi heran.
Lalu terdengar suara langkah kaki tergesa dari arah lain. Naruto muncul dengan baju dekil dan kemoceng di tangannya.
"Selamat da...", Kaimat Naruto terputus saat melihat Sasuke datang dengan dua orang yang asing baginya. Ada sedikit ketakutan yamg terpancar di wajahnya.
Hening sejenak. Itachi dan Deidara terkejut melihat kemunculan Naruto, terlebih pada luka di wajah dan lengan pemuda itu. Sasuke yang menyadari hal itu, langsung berusaha memecah suasana.
"Jangan khawatir! Dia ini kakakku dan...",Sasuke sedikit bingung menyebut status Deidara pada Naruto, "...kakak tingkatku."
Naruto mengangguk sekali.
Itachi langsung menyikut lengan adiknya, "Kau sudah berani bawa anak laki-laki ke rumah rupanya."
"Harusnya Aniki bicara begitu kalau di perempuan.", kata Sasuke acuh sambil berjalan menuju kamarnya.
Itachi, yang belum puas dengan jawaban Sasuke, bergegas mengekor adiknya itu. Meninggalkan dua pemuda yang sama-sama berambut pirang di ruang tamu.
Deidara tersenyum pada Naruto, "Salam kenal! Aku Deidara."
"Uzumaki Naruto.", jawab Naruto singkat tanpa mengangkat kepalanya pada Deidara.
"Aku tak tahu apa yang membuatmu takut, tapi aku hanya ingin mengatakan, kau aman di sini!"
Naruto mendongak dan menemukan Deidara yang masih tersenyum padanya.
Deidara membantu Naruto memindahkan piring-piring kotor ke wastafel, ""Bukan cuma tanganku saja. Naruto-kun membantuku."
"He?", Itachi bengong, "Para uke memang jago memasak ya?!"
Sasuke mengernyit sementara Deidara terkekeh.
"Nee, Naruto!", panggil Itachi.
"Ah, hai?", Naruto terkejut dan mengalihkan diri dari tumpukan piring kotor.
"Adikku sudah cerita tentangmu.", Itachi memulai.
Sasuke dan Naruto menelan ludah.
"Dan kurasa tak ada salahnya jika menambah seorang lagi di lingkaran keluarga ini.", lanjut Itachi dengan bijak.
Mata Naruto berbinar, "Benarkah?"
Itachi mengangguk.
"Arigatou, Itachi-san!", Naruto membungkuk lalu memandang Sasuke yang juga tengah tersenyum lega.
"Sekarang giliranku!!", Deidara memecah suasana, "Sebenarnya ini agak mendadak sih! Tapi aku ingin Sasuke dan Naruto datang ke pameran seniku yang perdana!"
"Oh, iya. Dia ribut sekali tentang siapa-siapa saja yang diundang.", tambah Itachi.
"Kapan?", tanya Sasuke.
"Sabtu ini.", Deidara mengelap tangannya yang basah.
Sasuke meminta pendapat Naruto dengan hanya mengangkat alis pada anak itu.
"Sa-saya tidak terbiasa berada di antara banyak orang yang tidak saya kenal.", kata Naruto.
"Sasuke akan menjagamu.", kata Itachi dan Deidara bersamaan.
Sasuke salah tingkah.
"Ya, tapi kalau memang tidak bisa datang juga tidak apa-apa.", kata Deidara berbesar hati saat melihat wajah Naruto yang bimbang.
Naruto kini merasa tak enak hati, ia buru-buru berseru, "Tunggu!"
Semua perhatian tertuju pada Naruto.
"Saya akan datang!", lanjut Naruto.
"Bagus!", ujar Deidara bersemangat lalu memeluk Naruto yang dibalas dengan perlakuan yang sama.
Itachi dan Sasuke, Uchiha bersaudara itu, hanya bisa bengong melihat dua uke yang saling berpelukan bahagia di hadapan mereka.
"Free Bird" benar-benar menguras tenaga dan pikiran saya nih! Saya benar-benar kelimpungan mencari ide plot untuk chapter ini karena memang kan "FB" ga' ada rencana dibikin berseri. Tapi akhirnya malah kemana-mana.
Padahal saya tahu kalo saya ga' bisa bikin adegan berantem, tapi saya tetep bandel bikin adegan tonjok-tonjokan lagi (nanti). Jadi kalo Sodara-sodara punya referensi fict berisi adegan keras macem itu, tolong kasih tau saya ea?!
Sasuke : Kurang nih *protes* !!
KeN : Apanya??
Sasuke : Adegan gue sama Naruto!
KeN : Sabar napa ?!
Sasuke : Mana bisa??
Itachi : HOREEE!!! Jatah gue dibanyakin *jejingkrakan* !!
Deidara + Naruto : Sejak kapan kita jadi akur??
KeN : Ya ga' pa-pa kan?! Berantem mulu!! Bosen gue liatnya!
Pein : KeN, jatah saya menyusut *muka datar* .
KeN : Gomen! Mohon tunggu sebentar lagi.
Sai : Aku dilupain *muka datar juga* .
KeN : Hadoooohhh, sabar yee!!
Pembaca : KeN, apdet-nya kapan??
KeN : Astopirulloh, SABARRRR!!! Insya Allah semua permintaan terpenuhi! Yang penting, sekarang waktunya komen! Harus post komen!! Dukungan juga sangat dinantikan! Tapi flame sangat di-HARAM-kan!!
Thank's for your coming!! See you next.......


1 komentar:
Posting Komentar