When Youngsters Fall in Love - And Love Story is Begin
Fict : KeN
Idea creator : Ritsu
Rating : Naik ke level "T+"
Disclaimer : CLAMP
Special thank's to :
1. Tuhan YME
2. KeN 'n Ritsu
3. All readers
___________________________________________________________________
Fict : KeN
Idea creator : Ritsu
Rating : Naik ke level "T+"
Disclaimer : CLAMP
Special thank's to :
1. Tuhan YME
2. KeN 'n Ritsu
3. All readers
___________________________________________________________________
Malam itu, langit tampak cerah. Bulan bersinar terang dan bintang-bintang pun tampak sibuk berkedip-kedip di seelilingnya. Cahaya mereka menerobos masuk ke dalam sebuah kamar yang tertata rapi. Mengintip pemiliknya yang pasrah dalam kuasa seorang laki-laki berusia tiga puluhan yang tengah memagut bibirnya.
Laki-laki tiga puluhan itu bergerak mendominasi. Dengan liar, bibir teman tidur sekaligus pemilik kamar itu --seorang pemuda bertubuh kecil dan berambut hitam-- diserang. Namun kemudian laki-laki tiga puluhan itu mengernyit dan melepaskan ciumannya.
"Ada apa, Kamui?", tanya laki-laki itu.
Pemuda itu, Kamui, masih memejamkan mata dengan nafas terengah. Kemeja putihnya acak-acakan dan memamerkan lekuk tubuhnya yang indah.
"Kenapa tak seperti biasanya?", tanya laki-laki tiga puluhan lagi.
Kamui membuka matanya dan masih mengatur nafas. Mata violetnya terlihat bimbang. Ia hanya menggeleng.
"Ada masalah?", Laki-laki tiga puluhan itu mengelus pipi halus Kamui.
Lagi-lagi Kamui hanya menggeleng.
"Kalau tidak mau, katakan saja! Akan kuhentikan.", Laki-laki itu tersenyum lembut.
"Aku tidak apa-apa. Hanya...", Kamui terdiam lalau memejamkamkan mata lagi. Bayangan jangkung itu muncul. Mata emas itu. Senyum itu. Kamui melihatnya. Fuuma.
"Jangan memaksakan diri!", kata laki-laki tiga puluhan lagi.
"Tidak!", kata Kamui putus asa, "Aku milikmu malam ini."
Laki-laki tiga puluhan itu tertegun sebentar. Ia tahu Kamui sedang menyembunyikan sesuatu, tapi hasrat bercintanya dengan pemuda itu tak dapat dibendung. Dan segera saja, tubuh Kamui yang telah telentang di ranjang dengan baju tak karuan menjadi serangannya.
Kamui mengeluh lirih saat ia merasa lehernya dicium. Matanya kembali terpejam untuk kesekian kali. Dan untuk kesekian kali pula bayangan Fuuma datang padanya. Kamui mencengkeram sprei erat-erat. Hatinya memberontak kuat. Tapi entah kenapa otaknya menolak keinginan itu. Dan itulah yang membuat Kamui bimbang.
Dan semakin laki-laki tiga puluhan itu menikmati tubuh Kamui, bayangan dan senyum Fuuma semakin terpatri jelas di matanya. Membuat pemuda itu mendesah. Bukan menikmati 'permainan' yang tengah berlangsung, tapi karena Kamui tahu bahwa saat ini ia sudah benar-benar mencintai Fuuma hingga terasa sakit.
Laki-laki tiga puluhan itu bergerak mendominasi. Dengan liar, bibir teman tidur sekaligus pemilik kamar itu --seorang pemuda bertubuh kecil dan berambut hitam-- diserang. Namun kemudian laki-laki tiga puluhan itu mengernyit dan melepaskan ciumannya.
"Ada apa, Kamui?", tanya laki-laki itu.
Pemuda itu, Kamui, masih memejamkan mata dengan nafas terengah. Kemeja putihnya acak-acakan dan memamerkan lekuk tubuhnya yang indah.
"Kenapa tak seperti biasanya?", tanya laki-laki tiga puluhan lagi.
Kamui membuka matanya dan masih mengatur nafas. Mata violetnya terlihat bimbang. Ia hanya menggeleng.
"Ada masalah?", Laki-laki tiga puluhan itu mengelus pipi halus Kamui.
Lagi-lagi Kamui hanya menggeleng.
"Kalau tidak mau, katakan saja! Akan kuhentikan.", Laki-laki itu tersenyum lembut.
"Aku tidak apa-apa. Hanya...", Kamui terdiam lalau memejamkamkan mata lagi. Bayangan jangkung itu muncul. Mata emas itu. Senyum itu. Kamui melihatnya. Fuuma.
"Jangan memaksakan diri!", kata laki-laki tiga puluhan lagi.
"Tidak!", kata Kamui putus asa, "Aku milikmu malam ini."
Laki-laki tiga puluhan itu tertegun sebentar. Ia tahu Kamui sedang menyembunyikan sesuatu, tapi hasrat bercintanya dengan pemuda itu tak dapat dibendung. Dan segera saja, tubuh Kamui yang telah telentang di ranjang dengan baju tak karuan menjadi serangannya.
Kamui mengeluh lirih saat ia merasa lehernya dicium. Matanya kembali terpejam untuk kesekian kali. Dan untuk kesekian kali pula bayangan Fuuma datang padanya. Kamui mencengkeram sprei erat-erat. Hatinya memberontak kuat. Tapi entah kenapa otaknya menolak keinginan itu. Dan itulah yang membuat Kamui bimbang.
Dan semakin laki-laki tiga puluhan itu menikmati tubuh Kamui, bayangan dan senyum Fuuma semakin terpatri jelas di matanya. Membuat pemuda itu mendesah. Bukan menikmati 'permainan' yang tengah berlangsung, tapi karena Kamui tahu bahwa saat ini ia sudah benar-benar mencintai Fuuma hingga terasa sakit.
* * * * * * * * *
"Kamui!!"
Kamui menghentikan langkahnya bersama Kimihiro dan Lelouch yang berencana ke kantin *kantin lagi?*. Ia celingukan mencari sumber suara. Lalu Lelouch menyikut tangannya dan menunjuk ke satu arah. Kamui menengok ke arah itu dan menemukan Fuuma lagi lari-lari ke arahnya.
Dan melihat batang hidung kakak kelasnya itu, Kamui jelas ga' bisa menyembunyikan rasa senengnya.
"Ada apa? Kok lari-lari gitu?", tanya Kamui basa-basi pas Fuuma udah nyampe' di depannya dan ngos-ngosan.
"Ini...hhh...mau ngasih ini buat kamu.", Fuuma, yang masih agak terengah, merogoh saku celanyanya dan menarik secarik kertas dari sana lalu menyodorkannya pada Kamui.
Kamui menerima kertas itu dan menelitinya. Jadi? Kertas apa itu? Ternyata selembar tiket nonton, Sodara-sodara.
"Bisa, kan, malem ini?", tanya Fuuma dengan muka ngarep.
Kamui mikir sebentar, "Boleh deh! Aku juga udah lama ga' nonton."
"Bener?", tanya Fuuma ga' percaya.
Kamui mengangguk sambil senyum.
Dan Fuuma yang udah serasa dapet durian jatuh langsung meluk si mungil Kamui tanpa komando, di depan umum, dan membuat semua yang kebetulan lewat di situ, terutama Kimihiro, Lelouch, dan Kamui sendiri, jadi kaget-cengok-bengong-melotot.
"Thank's!", kata Fuuma setelah ngelepasin Kamui.
"Err.....ya! Ya, sama-sama!", Kamui salah tingkah wajahnya memerah.
"Oke!", Fuuma pecicilan. Antara mau pergi dan mau meluk Kamui lagi, "Oke! Ntar malem aku jemput ya?!"
"Ohh, ga' usah! Langsung ketemuan di bioskop aja! Jam tujuh, gimana?", tanya Kamui.
"Ya udah!", Fuuma masih keliatan seneng banget, "See ya!"
Dan kali ini Fuuma pergi beneran. Mana perginya tu kaya' anak kecil yang dapet permen sekarung. Loncat-loncat ga' jelas gitu.
"Kalian.......segitunya?", tanya Kimihiro yang masih bengong liat kelakuan Fuuma.
"Apanya?", tanya Kamui, noleh ke temen sekelasnya itu.
"Kamu sama Monou-senpai?"
"Kenapa?", Kamui masih ga' ngeh.
"Udah sejauh mana?", tanya Kimihiro gemes.
"Pertanyaan kamu aneh nih! Aku sama Fuuma kan masih di sini, ga' kemana-mana.", jawab Kamui polos.
"Beneran ada yang kasmaran nih!", kata Lelouch.
Kamui menghentikan langkahnya bersama Kimihiro dan Lelouch yang berencana ke kantin *kantin lagi?*. Ia celingukan mencari sumber suara. Lalu Lelouch menyikut tangannya dan menunjuk ke satu arah. Kamui menengok ke arah itu dan menemukan Fuuma lagi lari-lari ke arahnya.
Dan melihat batang hidung kakak kelasnya itu, Kamui jelas ga' bisa menyembunyikan rasa senengnya.
"Ada apa? Kok lari-lari gitu?", tanya Kamui basa-basi pas Fuuma udah nyampe' di depannya dan ngos-ngosan.
"Ini...hhh...mau ngasih ini buat kamu.", Fuuma, yang masih agak terengah, merogoh saku celanyanya dan menarik secarik kertas dari sana lalu menyodorkannya pada Kamui.
Kamui menerima kertas itu dan menelitinya. Jadi? Kertas apa itu? Ternyata selembar tiket nonton, Sodara-sodara.
"Bisa, kan, malem ini?", tanya Fuuma dengan muka ngarep.
Kamui mikir sebentar, "Boleh deh! Aku juga udah lama ga' nonton."
"Bener?", tanya Fuuma ga' percaya.
Kamui mengangguk sambil senyum.
Dan Fuuma yang udah serasa dapet durian jatuh langsung meluk si mungil Kamui tanpa komando, di depan umum, dan membuat semua yang kebetulan lewat di situ, terutama Kimihiro, Lelouch, dan Kamui sendiri, jadi kaget-cengok-bengong-melotot.
"Thank's!", kata Fuuma setelah ngelepasin Kamui.
"Err.....ya! Ya, sama-sama!", Kamui salah tingkah wajahnya memerah.
"Oke!", Fuuma pecicilan. Antara mau pergi dan mau meluk Kamui lagi, "Oke! Ntar malem aku jemput ya?!"
"Ohh, ga' usah! Langsung ketemuan di bioskop aja! Jam tujuh, gimana?", tanya Kamui.
"Ya udah!", Fuuma masih keliatan seneng banget, "See ya!"
Dan kali ini Fuuma pergi beneran. Mana perginya tu kaya' anak kecil yang dapet permen sekarung. Loncat-loncat ga' jelas gitu.
"Kalian.......segitunya?", tanya Kimihiro yang masih bengong liat kelakuan Fuuma.
"Apanya?", tanya Kamui, noleh ke temen sekelasnya itu.
"Kamu sama Monou-senpai?"
"Kenapa?", Kamui masih ga' ngeh.
"Udah sejauh mana?", tanya Kimihiro gemes.
"Pertanyaan kamu aneh nih! Aku sama Fuuma kan masih di sini, ga' kemana-mana.", jawab Kamui polos.
"Beneran ada yang kasmaran nih!", kata Lelouch.
+ + + + + + + + +
Seperti biasa, Fuuma selalu menutup pintu garasi setelah memarkirkan motornya di sana. Dan seperti biasa pula, dia masuk rumah lewat pintu samping. Sambil sisiulan *keadaan rumah yang damai* , Fuuma iseng ngebuka tudung saji di meja makan dan mencomot udang goreng yang masih anget. Pas dia mau naik ke lantai dua, ga' sengaja dia denger suara ketawa-ketiwi dari ruang tamu. Maka Fuuma pun mengubah tujuannya dan berjingkat-jingkat ala maling dan ngintip apa yang terjadi di ruang tamu itu.
Di ruang tamu, Fuuma ngeliat ibunya dan Kotori --adiknya-- lagi asyik ngobrol sama seseorang berambut pirang-kecoklatan yang duduk di kursi membelakangi Fuuma.
"Kakak!", panggil Kotori yang sadar kalo Fuuma lagi ngintip, "Udah ditunggu nih!"
"Emang ada apa?", tanya Fuuma yang keluar dari persembunyiannya.
"Ada tamu jauh.", Ibu Fuuma tersenyum.
"Hah?", Fuuma bingung.
Dan si tamu berdiri dan balik kanan.
"Hai, Fum!", sapanya manis.
Fuuma yang ngeliat wajah si tamu langsung kaget dan membatu sendiri. Sementara si tamu mendekat ke dia. Fuuma mengamati perawakan tamu itu. Tingginya sehidung Fuuma. Rambutnya yang pirang-kecoklatan sebahu dibiarkan tergerai.
"Lama ga' ketemu ya?!", kata tamu itu lagi, "Pasti udah lupa nih sama aku?!"
Fuuma mengerjap, "Kakyou! Kamu...Kakyou kan?!"
Tamu itu mengangguk.
"Kakyou!", Ekspresi Fuuma berubah jadi aneh, "Kakyou!", Berubah lagi jadi sumringah, "Kakyou!", Berubah jadi seneng, "Kakyou!!", Dan berakhir dengan si tamu di peluk Fuuma rapat-rapat, "Kapan dateng?"
"Heh!! Kamu mau bunuh aku?", Si tamu, Kakyou, sesak juga dipeluk sama Fuuma yang badannya jadi itu.
"Hehe, sori! Aku kangen banget soalnya.", Fuuma nyengir.
"Kamu nih, ga' berubah ya dari jaman dulu!", Kakyou meringis sambil ngelus-ngelus lengannya yang kebas abis dipeluk Fuuma, "Aku baru dateng! Tuh, koperku masih di luar."
"Ohh...", Fuuma manggut-manggut, "Mau di sini sampe' kapan?"
"Mungkin sebulanan lah! Soalnya ayah minta aku ngurusin kantor yang di Shibuya untuk sementara waktu *Author's note : Sumpe lo?? Lagian sejak kapan Kakyou punya bapak?* ."
"Kalo gitu sekalian aja nginep di sini!", usul Fuuma.
"Ga' usah! Aku ga' mau ngerepotin. Lagian ayah udah nyariin aku apartemen kok!", kata Kakyou.
"Kalo ada kerabat di sini, kenapa sewa apartemen?", tanya ibu Fuuma, "Tinggal di sini aja ya?!"
"Aduh, Bibi! Aku..."
"Ayolah, Kakyou!", Kali ini giliran Kotori yang ngebujuk.
Kakyou ngeliat Kotori, Fuuma, dan ibu Fuuma satu-satu.
"Baiklah!!! Aku kalah deh! Aku akan tinggal di sini!", kata Kakyou akhirnya.
"Nahh, gitu dong!!", Fuuma mengucek rambut Kakyou.
"Hei, yang sopan sama orang tua!", Kakyou pura-pura marah sambil merapikan rambutnya.
Lalu ia dan Fuuma ketawa bareng.
"Yukk! Kita angkat kopermu ke atas?!", ajak Fuuma yang mendahului Kakyou ke depan, mengambil koper.
Kakyou mengangguk lalu menoleh ke arah ibu Fuuma yang masih duduk di sofa, "Permisi, Bi?!"
"Iya!", Ibu Fuuma tersenyum tulus.
Dan Kakyou menyusul Fuuma ke depan.
Sekedar info, jadi yang namanya Kakyou ini adalah cowok yang merupakan anak dari temen deket bokapnya Fuuma. Si Kakyou ini lebih tua 4-5 tahunan dari Fuuma. Sekarang lagi nyusun skripsi untuk kuliah jurusan ekonomi tingkat akhirnya di Australia*??*. Meski masih hijau, tapi dia udah dipercaya sama ayahnya untuk ngurusin anak perusahaan. Calon eksekutif muda gitu lah!
Dan di sini ceritanya, hubungan Fuuma sama Kakyou itu deket banget. Sedeket apa? Kita akan tau nanti.
Di ruang tamu, Fuuma ngeliat ibunya dan Kotori --adiknya-- lagi asyik ngobrol sama seseorang berambut pirang-kecoklatan yang duduk di kursi membelakangi Fuuma.
"Kakak!", panggil Kotori yang sadar kalo Fuuma lagi ngintip, "Udah ditunggu nih!"
"Emang ada apa?", tanya Fuuma yang keluar dari persembunyiannya.
"Ada tamu jauh.", Ibu Fuuma tersenyum.
"Hah?", Fuuma bingung.
Dan si tamu berdiri dan balik kanan.
"Hai, Fum!", sapanya manis.
Fuuma yang ngeliat wajah si tamu langsung kaget dan membatu sendiri. Sementara si tamu mendekat ke dia. Fuuma mengamati perawakan tamu itu. Tingginya sehidung Fuuma. Rambutnya yang pirang-kecoklatan sebahu dibiarkan tergerai.
"Lama ga' ketemu ya?!", kata tamu itu lagi, "Pasti udah lupa nih sama aku?!"
Fuuma mengerjap, "Kakyou! Kamu...Kakyou kan?!"
Tamu itu mengangguk.
"Kakyou!", Ekspresi Fuuma berubah jadi aneh, "Kakyou!", Berubah lagi jadi sumringah, "Kakyou!", Berubah jadi seneng, "Kakyou!!", Dan berakhir dengan si tamu di peluk Fuuma rapat-rapat, "Kapan dateng?"
"Heh!! Kamu mau bunuh aku?", Si tamu, Kakyou, sesak juga dipeluk sama Fuuma yang badannya jadi itu.
"Hehe, sori! Aku kangen banget soalnya.", Fuuma nyengir.
"Kamu nih, ga' berubah ya dari jaman dulu!", Kakyou meringis sambil ngelus-ngelus lengannya yang kebas abis dipeluk Fuuma, "Aku baru dateng! Tuh, koperku masih di luar."
"Ohh...", Fuuma manggut-manggut, "Mau di sini sampe' kapan?"
"Mungkin sebulanan lah! Soalnya ayah minta aku ngurusin kantor yang di Shibuya untuk sementara waktu *Author's note : Sumpe lo?? Lagian sejak kapan Kakyou punya bapak?* ."
"Kalo gitu sekalian aja nginep di sini!", usul Fuuma.
"Ga' usah! Aku ga' mau ngerepotin. Lagian ayah udah nyariin aku apartemen kok!", kata Kakyou.
"Kalo ada kerabat di sini, kenapa sewa apartemen?", tanya ibu Fuuma, "Tinggal di sini aja ya?!"
"Aduh, Bibi! Aku..."
"Ayolah, Kakyou!", Kali ini giliran Kotori yang ngebujuk.
Kakyou ngeliat Kotori, Fuuma, dan ibu Fuuma satu-satu.
"Baiklah!!! Aku kalah deh! Aku akan tinggal di sini!", kata Kakyou akhirnya.
"Nahh, gitu dong!!", Fuuma mengucek rambut Kakyou.
"Hei, yang sopan sama orang tua!", Kakyou pura-pura marah sambil merapikan rambutnya.
Lalu ia dan Fuuma ketawa bareng.
"Yukk! Kita angkat kopermu ke atas?!", ajak Fuuma yang mendahului Kakyou ke depan, mengambil koper.
Kakyou mengangguk lalu menoleh ke arah ibu Fuuma yang masih duduk di sofa, "Permisi, Bi?!"
"Iya!", Ibu Fuuma tersenyum tulus.
Dan Kakyou menyusul Fuuma ke depan.
Sekedar info, jadi yang namanya Kakyou ini adalah cowok yang merupakan anak dari temen deket bokapnya Fuuma. Si Kakyou ini lebih tua 4-5 tahunan dari Fuuma. Sekarang lagi nyusun skripsi untuk kuliah jurusan ekonomi tingkat akhirnya di Australia*??*. Meski masih hijau, tapi dia udah dipercaya sama ayahnya untuk ngurusin anak perusahaan. Calon eksekutif muda gitu lah!
Dan di sini ceritanya, hubungan Fuuma sama Kakyou itu deket banget. Sedeket apa? Kita akan tau nanti.
+ + + + + + + + +
Jam 16.00 di kamar Kamui. Eeeee....mungkin udah ga' bisa disebut kamar, karena uke yang satu itu udah mengubah tempat istirahatnya ini layaknya kapal pecah.
Kamui sebenarnya lagi fitting baju untuk dipake' keluar sama Fuuma ntar malem. Begitu pulang sekolah jam setengah tiga tadi, dia segera balik ke apartemen dan langsung membongkar isi lemari pakaiannya. Dia mencoba nge-mix and match beberapa baju, dibawa ke depan cermin, dan di pas ke badan sambil pose-pose ga' jelas gitu. Dan begitu ga' cocok, Kamui melemparkannya aja gitu. Jadi jangan heran kalo saat ini kamar Kamui penuh dengan baju-baju dan celana-celana yang tercecer di sana-sini.
Dan akhirnya, Kamui capek juga setelah hampir sejam ngubek-ngubek isi lemarinya. Dia menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Telentang di atas baju-bajunya yang berserakan di kasur.
Kamui menatap langit-langit kamar. Dia diem sebentar lalu memejamkan mata dan berakhir dengan satu senyuman manis di bibirnya. Ia meraih bantal dan menutup mukanya. Malu-malu sendiri gitu. Setelah bergaje-gaje ria dengan bantal, dia diem lagi.
"Bener ga' sih kalo aku udah jatuh cinta?", tanyanya pada diri sendiri.
Sunyi dan ga' ada jawaban. Kamui menghela napas.
"Fuuma.", panggilnya lirih.
Trrt.... Trrt....
Hapenya Kamui berdering. Ia bangkit dari tidurnya dan ngobrak-ngabrik baju-baju yang ada di kasur untuk mencari hapenya yang tersembunyi.
Dan begitu si hape ketemu, Kamui melihat layarnya untuk melihat siapa yang meneleponnya. Sederet nama terpampang.
Karen Kasumi.
Kamui sebenarnya lagi fitting baju untuk dipake' keluar sama Fuuma ntar malem. Begitu pulang sekolah jam setengah tiga tadi, dia segera balik ke apartemen dan langsung membongkar isi lemari pakaiannya. Dia mencoba nge-mix and match beberapa baju, dibawa ke depan cermin, dan di pas ke badan sambil pose-pose ga' jelas gitu. Dan begitu ga' cocok, Kamui melemparkannya aja gitu. Jadi jangan heran kalo saat ini kamar Kamui penuh dengan baju-baju dan celana-celana yang tercecer di sana-sini.
Dan akhirnya, Kamui capek juga setelah hampir sejam ngubek-ngubek isi lemarinya. Dia menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Telentang di atas baju-bajunya yang berserakan di kasur.
Kamui menatap langit-langit kamar. Dia diem sebentar lalu memejamkan mata dan berakhir dengan satu senyuman manis di bibirnya. Ia meraih bantal dan menutup mukanya. Malu-malu sendiri gitu. Setelah bergaje-gaje ria dengan bantal, dia diem lagi.
"Bener ga' sih kalo aku udah jatuh cinta?", tanyanya pada diri sendiri.
Sunyi dan ga' ada jawaban. Kamui menghela napas.
"Fuuma.", panggilnya lirih.
Trrt.... Trrt....
Hapenya Kamui berdering. Ia bangkit dari tidurnya dan ngobrak-ngabrik baju-baju yang ada di kasur untuk mencari hapenya yang tersembunyi.
Dan begitu si hape ketemu, Kamui melihat layarnya untuk melihat siapa yang meneleponnya. Sederet nama terpampang.
Karen Kasumi.
+ + + + + + + + +
Di waktu yang sama, di tempat berbeda, Yukito lagi nemenin Touya ke kota sebelah. Nganterin proposal bazaar gitu. Dan karena Touya-nya belum begitu hafal jalan ke sana, jadi mereka memutuskan untuk naik kereta api saja.
Dan sekarang ini, mereka lagi duduk-duduk santai sambil nungguin keretanya datang.
"Maaf ya?! Mendadak gini. Aku juga ga' tahu kok tiba-tiba mereka minta proposalnya sore ini juga.", kata Touya ga' enak.
"Udah berapa kali, coba, kamu ngomong kaya' gitu? Dan berapa kali lagi aku harus bilang? Aku ga' papa kok.", Yukito tersenyum lembut.
Touya menatap Yukito masih dengan perasaan ga' enak.
"Hei! Ayolah! Aku bener-bener ga' papa.", Yukito ketawa kecil liat ekspresi Touya.
Lalu tanpa Yukito sangka, Touya menggenggam erat tangannya. Yukito merasa pipinya terbakar.
"Makasih ya?! Kamu selalu ada buat aku.", kata Touya sambil tersenyum tulus.
Yukito mengangguk dan membalas senyum Touya.
"Halo, Kamui!"
Yukito terkejut dan menoleh ke sampingnya. Ada seorang perempuan cantik berambut pirang-ikal sedang berbicara dengan rekannya lewat telepon.
"Kigai baru saja meneleponku. Dia tanya apa kamu bisa menemaninya malam ini atau tidak.", kata perempuan tadi.
Sunyi. Perempuan itu mendengarkan jawaban dari seberang teleponnya.
"Memangnya kamu ada keperluan malam ini?"
"......."
"Kigai hanya ingin kamu yang menemaninya!"
"......"
"Kamu tahu sendiri kalau dia suka pilih-pilih. Kigai sudah mengirim sejumlah uang ke rekeningku. Jadi aku tak mau mengecewakannya."
Yukito makin curiga dengan topik pembicaraan ini.
"Baiklah, Kamui!", Perempuan itu tertawa kecil, "Tapi aku ingin kamu tau kalau kamu adalah satu-satunya orang yang dipercaya Kigai untuk menghiburnya."
"......"
"Ya, aku tahu. Kamu tidak akan mengecewakan aku. Prepare your body, Young boy!"
Yukito melotot mendengarnya.
Perempuan itu tertawa geli lagi, "Maaf! Aku cuma bercanda. Ya sudah, aku hanya mau mengatakan itu. Sampai jumpa!"
Perempuan itu mematikan telepon dan menyimpan hapenya kembali dalam tas, masih diikuti pandangan dari Yukito.
"Maaf.", sapa Yukito akhirnya.
Perempuan itu menoleh pada Yukito dan tersenyum padanya, "Iya. Ada yang bisa kubantu?"
"Eeee....maaf. Tadi saya tidak sengaja mendengar percakapan Anda dengan teman Anda di telepon.", kata Yukito sopan.
"Wahh, benarkah?", Perempuan itu terkejut sebentar lalu tersenyum lagi.
"Saya sedikit penasaran dengan nama teman Anda tadi."
"Maksudmu Kamui?", tanya perempuan itu.
Yukito mengangguk, "Sama dengan nama teman saya."
"Hnn...", Perempuan itu mengusap dagu ala detektif, "Memang bukan nama yang sering dipakai orang sih."
"Boleh saya tahu nama belakang dari teman Anda itu?"
"Wahh, sayang sekali. Dia sama sekali tak mau mengaku tentang nama belakangnya padaku."
"Ohh...", Yukito sedikit kecewa.
"Tapi kamu boleh tahu namaku jika ingin menanyakannya pada 'Kamui' temanmu. Siapa tahu dia memang 'Kamui' yang kita bahas."
"Suatu kehormatan bisa berkenalan dengan Anda. Saya, Yukito Tsukishiro.", Yukito mengulurkan tangan.
Perempuan itu menjabat tangan Yukito dan tersenyum, "Karen Kasumi."
Dan sekarang ini, mereka lagi duduk-duduk santai sambil nungguin keretanya datang.
"Maaf ya?! Mendadak gini. Aku juga ga' tahu kok tiba-tiba mereka minta proposalnya sore ini juga.", kata Touya ga' enak.
"Udah berapa kali, coba, kamu ngomong kaya' gitu? Dan berapa kali lagi aku harus bilang? Aku ga' papa kok.", Yukito tersenyum lembut.
Touya menatap Yukito masih dengan perasaan ga' enak.
"Hei! Ayolah! Aku bener-bener ga' papa.", Yukito ketawa kecil liat ekspresi Touya.
Lalu tanpa Yukito sangka, Touya menggenggam erat tangannya. Yukito merasa pipinya terbakar.
"Makasih ya?! Kamu selalu ada buat aku.", kata Touya sambil tersenyum tulus.
Yukito mengangguk dan membalas senyum Touya.
"Halo, Kamui!"
Yukito terkejut dan menoleh ke sampingnya. Ada seorang perempuan cantik berambut pirang-ikal sedang berbicara dengan rekannya lewat telepon.
"Kigai baru saja meneleponku. Dia tanya apa kamu bisa menemaninya malam ini atau tidak.", kata perempuan tadi.
Sunyi. Perempuan itu mendengarkan jawaban dari seberang teleponnya.
"Memangnya kamu ada keperluan malam ini?"
"......."
"Kigai hanya ingin kamu yang menemaninya!"
"......"
"Kamu tahu sendiri kalau dia suka pilih-pilih. Kigai sudah mengirim sejumlah uang ke rekeningku. Jadi aku tak mau mengecewakannya."
Yukito makin curiga dengan topik pembicaraan ini.
"Baiklah, Kamui!", Perempuan itu tertawa kecil, "Tapi aku ingin kamu tau kalau kamu adalah satu-satunya orang yang dipercaya Kigai untuk menghiburnya."
"......"
"Ya, aku tahu. Kamu tidak akan mengecewakan aku. Prepare your body, Young boy!"
Yukito melotot mendengarnya.
Perempuan itu tertawa geli lagi, "Maaf! Aku cuma bercanda. Ya sudah, aku hanya mau mengatakan itu. Sampai jumpa!"
Perempuan itu mematikan telepon dan menyimpan hapenya kembali dalam tas, masih diikuti pandangan dari Yukito.
"Maaf.", sapa Yukito akhirnya.
Perempuan itu menoleh pada Yukito dan tersenyum padanya, "Iya. Ada yang bisa kubantu?"
"Eeee....maaf. Tadi saya tidak sengaja mendengar percakapan Anda dengan teman Anda di telepon.", kata Yukito sopan.
"Wahh, benarkah?", Perempuan itu terkejut sebentar lalu tersenyum lagi.
"Saya sedikit penasaran dengan nama teman Anda tadi."
"Maksudmu Kamui?", tanya perempuan itu.
Yukito mengangguk, "Sama dengan nama teman saya."
"Hnn...", Perempuan itu mengusap dagu ala detektif, "Memang bukan nama yang sering dipakai orang sih."
"Boleh saya tahu nama belakang dari teman Anda itu?"
"Wahh, sayang sekali. Dia sama sekali tak mau mengaku tentang nama belakangnya padaku."
"Ohh...", Yukito sedikit kecewa.
"Tapi kamu boleh tahu namaku jika ingin menanyakannya pada 'Kamui' temanmu. Siapa tahu dia memang 'Kamui' yang kita bahas."
"Suatu kehormatan bisa berkenalan dengan Anda. Saya, Yukito Tsukishiro.", Yukito mengulurkan tangan.
Perempuan itu menjabat tangan Yukito dan tersenyum, "Karen Kasumi."
+ + + + + + + + +
Malem harinya, di rumah Fuuma lagi ada makan malam untuk ngerayain datangnya Kakyou. Ibu Fuuma sengaja memanggang satu ekor kalkun gede lengkap dengan sayur-mayur dan desert yang menggugah selera.
Dan agaknya, suasana yang hangat dan kerinduannya pada Kakyou membuat Fuuma lupa sama janjinya dengan Kamui. Bukan 'agaknya' lagi, tapi emang lupa. Lha wong waktu udah menunjukkan pukul tujuh kurang dikit, tapi Fuuma masih nyantai sambil bantuin ibunya mindahin perkakas dapur yang kotor ke wastafel cuci.
"Tuh kan?! Aku kan udah bilang, aku ga' mau ngerepotin!", kata Kakyou ga' enak. Dia disuruh duduk manis di kursi makan tanpa boleh sedikit membantu proses masak-memasaknya.
"Sama sekali ga' repot kok! Ini kan makan malam seperti biasa. Bedanya malam ini agak spesial.", kata ibu Fuuma sambil melepas celemek dan ikut duduk di kursi makan.
Kakyou memandang ibu Fuuma dengan sungkan.
"Ayo, dicicipin!", Ibu Fuuma menyodorkan sepotong kalkun dan sayur ke piring Kakyou yang udah terisi dengan nasi.
"Masakan ibu ga' ada yang ngalahin lho!", Kotori promosi.
"Fum, makan dulu! Itu dicuci nanti aja.", kata ibu Fuuma.
Fuuma pun melepas celemek dan duduk di satu-satunya kursi yang tersisa. Di sebelah Kakyou.
"Gimana?", tanya Fuuma begitu Kakyou menyuapkan sesendok nasi lengkap ke mulutnya.
Kakyou mencecap sebentar lalu mengangguk-angguk sambil mengacungkan jempol ke ibu Fuuma, "Enakkkk!!!"
Semua tersenyum melihat tingkah Kakyou.
"Di Aussie mah ga' ada yang beginian!", Kakyou lanjut makan dengan lahap.
"Jangan ngomong kalo mulut lagi penuh!", kata Fuuma.
Dan suasana makin menghangat dengan sedikit pertikaian kecil antara Fuuma dan Kakyou dalam memperebutkan potongan demi potongan daging kalkun yang dibumbui gelak tawa Kotori dan ibunya.
Dan agaknya, suasana yang hangat dan kerinduannya pada Kakyou membuat Fuuma lupa sama janjinya dengan Kamui. Bukan 'agaknya' lagi, tapi emang lupa. Lha wong waktu udah menunjukkan pukul tujuh kurang dikit, tapi Fuuma masih nyantai sambil bantuin ibunya mindahin perkakas dapur yang kotor ke wastafel cuci.
"Tuh kan?! Aku kan udah bilang, aku ga' mau ngerepotin!", kata Kakyou ga' enak. Dia disuruh duduk manis di kursi makan tanpa boleh sedikit membantu proses masak-memasaknya.
"Sama sekali ga' repot kok! Ini kan makan malam seperti biasa. Bedanya malam ini agak spesial.", kata ibu Fuuma sambil melepas celemek dan ikut duduk di kursi makan.
Kakyou memandang ibu Fuuma dengan sungkan.
"Ayo, dicicipin!", Ibu Fuuma menyodorkan sepotong kalkun dan sayur ke piring Kakyou yang udah terisi dengan nasi.
"Masakan ibu ga' ada yang ngalahin lho!", Kotori promosi.
"Fum, makan dulu! Itu dicuci nanti aja.", kata ibu Fuuma.
Fuuma pun melepas celemek dan duduk di satu-satunya kursi yang tersisa. Di sebelah Kakyou.
"Gimana?", tanya Fuuma begitu Kakyou menyuapkan sesendok nasi lengkap ke mulutnya.
Kakyou mencecap sebentar lalu mengangguk-angguk sambil mengacungkan jempol ke ibu Fuuma, "Enakkkk!!!"
Semua tersenyum melihat tingkah Kakyou.
"Di Aussie mah ga' ada yang beginian!", Kakyou lanjut makan dengan lahap.
"Jangan ngomong kalo mulut lagi penuh!", kata Fuuma.
Dan suasana makin menghangat dengan sedikit pertikaian kecil antara Fuuma dan Kakyou dalam memperebutkan potongan demi potongan daging kalkun yang dibumbui gelak tawa Kotori dan ibunya.
+ + + + + + + + +
"Fuuma kok lama ya?!", gumam Kamui sambil menengok jam tangannya yang udah nunjukkin jam setengah delapan lewat.
"Mas, film-nya udah diputer. Pintunya mau saya tutup.", kata petugas yang jaga pintu.
"Aduhh, Pak! Bisa tunggu sebentar lagi?", tanya Kamui.
"Wahh, ga' bisa! Ini kan sudah peraturan."
Kamui menghela napas lalu memnunduk, menatap tiket film yang dipegangnya.
"Ya udah, Pak! Ditutup aja,", kata Kamui yang berusaha tersenyum.
"Mas-nya ga' masuk?", tanya petugas.
Kamui menggeleng, "Saya masih nungguin temen saya. Boleh nunggu di sini kan?!"
"Ya, boleh sih!", jawab petugas itu, "Tapi pintunya saya tutup lho!"
Kamui mengangguk sementara petugas menutup pintu bioskop.
"Mas, film-nya udah diputer. Pintunya mau saya tutup.", kata petugas yang jaga pintu.
"Aduhh, Pak! Bisa tunggu sebentar lagi?", tanya Kamui.
"Wahh, ga' bisa! Ini kan sudah peraturan."
Kamui menghela napas lalu memnunduk, menatap tiket film yang dipegangnya.
"Ya udah, Pak! Ditutup aja,", kata Kamui yang berusaha tersenyum.
"Mas-nya ga' masuk?", tanya petugas.
Kamui menggeleng, "Saya masih nungguin temen saya. Boleh nunggu di sini kan?!"
"Ya, boleh sih!", jawab petugas itu, "Tapi pintunya saya tutup lho!"
Kamui mengangguk sementara petugas menutup pintu bioskop.
+ + + + + + + + +
"Jadi? Udah ada pacar belum niih?", tanya Kakyou yang membantu Fuuma nyuci piring.
"Belon.", jawab Fuuma singkat.
"Ngakunya keren, tapi masa' belum punya pacar?", sindir Kakyou.
"Yeee!! Gini-gini juga masih mending aku pernah ngerasain pacaran dari pada kamu yang ga' pernah pacaran sama sekali!", ledek Fuuma.
"Dasar, anak ga' sopan!", Kakyou pura-pura marah lalu mencipratkan air ke muka Fuuma.
Mereka ketawa-ketawa sambil maenan air.
"Tapi masa' malem minggu gini kamu juga ga' ada acara keluar?", tanya Kakyou lagi sambil kembali nyuci piring-piring, "Sama temen segeng gitu?"
"Ya, emang ga' ada kok!", jawab Fuuma. Tapi lalu ia terbelalak mendengar jawabannya sendiri. Fuuma balik kanan dan ngeliat jam dinding.
Jam setengah sembilan, Sodara-sodara.
"Astaga!!", seru Fuuma.
"Ada apa?", tanya Kakyou kaget.
"Aku lupa ada janji sama Kamui!", Fuuma cepat-cepat cuci tangan.
"Kamui? Kamui siapa?", tanya Kakyou yang bingung ngeliat Fuuma mondar-mandir ga' jelas.
"Kakyou! Sori banget! Itu...piring-piringnya...."
"Eee....ini bisa kuatasi kok!", Kakyou melirik piring-piring yang masih kotor di wastafel.
"Oke! Thank's!", Fuuma langsung melesat menaiki anak tangga sementara Kakyou makin bingung melihat tingkah seme satu itu.
"Belon.", jawab Fuuma singkat.
"Ngakunya keren, tapi masa' belum punya pacar?", sindir Kakyou.
"Yeee!! Gini-gini juga masih mending aku pernah ngerasain pacaran dari pada kamu yang ga' pernah pacaran sama sekali!", ledek Fuuma.
"Dasar, anak ga' sopan!", Kakyou pura-pura marah lalu mencipratkan air ke muka Fuuma.
Mereka ketawa-ketawa sambil maenan air.
"Tapi masa' malem minggu gini kamu juga ga' ada acara keluar?", tanya Kakyou lagi sambil kembali nyuci piring-piring, "Sama temen segeng gitu?"
"Ya, emang ga' ada kok!", jawab Fuuma. Tapi lalu ia terbelalak mendengar jawabannya sendiri. Fuuma balik kanan dan ngeliat jam dinding.
Jam setengah sembilan, Sodara-sodara.
"Astaga!!", seru Fuuma.
"Ada apa?", tanya Kakyou kaget.
"Aku lupa ada janji sama Kamui!", Fuuma cepat-cepat cuci tangan.
"Kamui? Kamui siapa?", tanya Kakyou yang bingung ngeliat Fuuma mondar-mandir ga' jelas.
"Kakyou! Sori banget! Itu...piring-piringnya...."
"Eee....ini bisa kuatasi kok!", Kakyou melirik piring-piring yang masih kotor di wastafel.
"Oke! Thank's!", Fuuma langsung melesat menaiki anak tangga sementara Kakyou makin bingung melihat tingkah seme satu itu.
+ + + + + + + + +
Kamui makin resah nungguin Fuuma. Dia takut kalo Fuuma kenapa-napa. Parahnya, hape Kamui ketinggalan di apartemen yang bikin dia ga' menghubungi Fuuma.
Setelah capek mondar-mandir, Kamui duduk di kursi besi di depan gedung bioskop. Ia menengadah ke langit yang malam itu mendung, "Jangan-jangan dia lupa."
Setelah capek mondar-mandir, Kamui duduk di kursi besi di depan gedung bioskop. Ia menengadah ke langit yang malam itu mendung, "Jangan-jangan dia lupa."
+ + + + + + + + +
Fuuma menambah speed motornya. Dengan lihai dia nyelip-nyelip di antara mobil-mobil.
Kok gue bisa lupa sih? Bego'!, Fuuma mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
Kok gue bisa lupa sih? Bego'!, Fuuma mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
+ + + + + + + + +
Sebulir demi sebulir air hujan mulai menyapa tubuh Kamui. Kamui melindungi diri dengan jaket dan tengok kanan-kiri, mencari tempat untuk berteduh. Dan melihat ada box telephone yang ga' jauh dari situ. Dia lari-lari kecil dan berteduh di dalem situ.
Kamui bener-bener was-was sekarang.
"Fuuma? Kamu di mana?"
Kamui bener-bener was-was sekarang.
"Fuuma? Kamu di mana?"
+ + + + + + + + +
"Aduhhhh, ini kenapa pake' acara hujan segala?", Fuuma kesel. Tapi dia ogah menepi untuk berteduh dan milih untuk menambah lagi speed motornya lebih cepat lagi. Prioritas utamanya saat ini adalah ketemu Kamui.
Dan setelah jadi Valentino Rossi dadakan, Fuuma nyampe' juga di gedung bioskop. Fuuma ngetok-ngetok pintu masuk.
"Maaf, Mas! Udah ga' boleh masuk!", kata petugas yang jagain pintu.
"Saya ga' mau masuk, Pak! Cuma mau nanya aja. Bapak tadi liat ada anak setinggi ini,", Fuuma naroh telapak tangannya di bawah ketiak, "rambutnya item trus matanya violet?"
Petugas itu terlihat mengingat, "Wah, saya ga' inget, Mas! Kan yang masuk bioskop ini banyak."
"Oh...", Fuuma menyibak poninya yang basah.
"Tapi tadi ada satu mas-mas yang ga' mau masuk dan katanya mau nungguin temennya di situ.", Petugas itu menunjuk kursi besi yang tadi didudukin Kamui.
"Anaknya kaya' gimana?", tanya Fuuma langsung.
"Kalo tinggi dan warna rambut sih kaya'nya mirip sama yng Mas sebutkan tadi. Tapi kalo warna mata..... Lho, Mas!!", Petugas tadi bingung pas Fuuma udah turun ke jalan dan....
"Kamui!", panggil Fuuma.
Fuuma mulai menelusuri jalan dan gang yang ga' jauh dari bioskop untuk mencari Kamui. Berharap pemuda mungil itu belum pulang dan berteduh di suatu tempat, dan masih menunggunya.Tapi ga' ketemu juga. Yang ada Fuuma mulai menggigil kedinginan dan giginya bergemeletukan keras.
Lalu perhatian Fuuma pun berakhir di box telephone tempat Kamui berada. Fuuma langsung berlari mendekat dan ngeliat Kamui tertidur di dalem dengan posisi meringkuk. Fuuma menempelkan dahinya di pintu box telephone sambil menghela napas lega. Fuuma mengetuk pintu kaca itu dengan hati-hati.
Mendengar ketukan itu, Kamui bangun lalu sedikit menggeliat. Ia mendongak dan melihat Fuuma berdiri di luar, melambaikan tangan sambil senyum dalam posisi kehujanan.
Kamui terkejut melihat Fuuma yang basah kuyup. Dia cepat-cepat ngebukain pintu dan berdiri di hadapan Fuuma.
"Kenapa hujan-hujanan?", tanya Kamui sambil melepas jaketnya dan memakaikannya pada Fuuma.
"Aku kan udah pake' jaket.", kata Fuuma.
"Tapi kan basah!", seru Kamui.
Suasana sunyi sebentar.
"Sori....aku telat.", kata Fuuma penuh penyesalan, "Bukan telat lagi sih, mungkin lebih tepatnya lupa!"
Kamui menatap Fuuma, "Aku ga' papa kalo harus nungguin kamu sebegini lama. Tapi lain kali jangan nekat kaya' gini dong! Kalo kamu sakit gimana?!"
Fuuma mesem, "Kamu ngekhawatirin aku?",
Kamui terkejut lalu buru-buru menunduk. Perlahan, dia mengangguk.
"Boleh aku berharap banyak dari kekhawatiran itu?", tanya Fuuma serius.
Kamui mendongak kaget. Dia ga' bisa ngomong apa-apa. Hanya menatap mata emas itu yang dia lakukan.
"Ckk, kenapa kamu jadi ikut hujan-hujanan?", Fuuma mengusap pipi Kamui yang basah dan tanpa canggung mendekatkan wajahnya.
Yang terjadi begitu cepat. Saat kesadaran menguasai Kamui, ia baru tahu kalau Fuuma memeluknya rapat. Dan yang membuat Kamui lebih terkejut, Fuuma mendaratkan ciuman tepat di bibirnya. Kamui takut dan memejamkan mata rapat-rapat, tapi ia tak bisa memungkiri bahwa hatinya mendengkur senang diperlakukan Fuuma seperti ini.
Kamui mencengkeram jaket Fuuma saat pemuda itu menekan bibirnya. Dan berakhir dengan erangan tertahan dari Kamui saat Fuuma menginvasi rongga mulutnya dengan lidah. Fuuma melakukannya dengan lembut tapi sekaligus menegaskan pada Kamui bahwa Fuuma begitu ingin menjaga Kamui dan bahwa perasaannya pada cowok mungil itu begitu kuat.
Fuuma melepaskan Kamui perlahan dan kini mereka bertatapan gugup.
"Kamui, aku suka kamu!"
Dan setelah jadi Valentino Rossi dadakan, Fuuma nyampe' juga di gedung bioskop. Fuuma ngetok-ngetok pintu masuk.
"Maaf, Mas! Udah ga' boleh masuk!", kata petugas yang jagain pintu.
"Saya ga' mau masuk, Pak! Cuma mau nanya aja. Bapak tadi liat ada anak setinggi ini,", Fuuma naroh telapak tangannya di bawah ketiak, "rambutnya item trus matanya violet?"
Petugas itu terlihat mengingat, "Wah, saya ga' inget, Mas! Kan yang masuk bioskop ini banyak."
"Oh...", Fuuma menyibak poninya yang basah.
"Tapi tadi ada satu mas-mas yang ga' mau masuk dan katanya mau nungguin temennya di situ.", Petugas itu menunjuk kursi besi yang tadi didudukin Kamui.
"Anaknya kaya' gimana?", tanya Fuuma langsung.
"Kalo tinggi dan warna rambut sih kaya'nya mirip sama yng Mas sebutkan tadi. Tapi kalo warna mata..... Lho, Mas!!", Petugas tadi bingung pas Fuuma udah turun ke jalan dan....
"Kamui!", panggil Fuuma.
Fuuma mulai menelusuri jalan dan gang yang ga' jauh dari bioskop untuk mencari Kamui. Berharap pemuda mungil itu belum pulang dan berteduh di suatu tempat, dan masih menunggunya.Tapi ga' ketemu juga. Yang ada Fuuma mulai menggigil kedinginan dan giginya bergemeletukan keras.
Lalu perhatian Fuuma pun berakhir di box telephone tempat Kamui berada. Fuuma langsung berlari mendekat dan ngeliat Kamui tertidur di dalem dengan posisi meringkuk. Fuuma menempelkan dahinya di pintu box telephone sambil menghela napas lega. Fuuma mengetuk pintu kaca itu dengan hati-hati.
Mendengar ketukan itu, Kamui bangun lalu sedikit menggeliat. Ia mendongak dan melihat Fuuma berdiri di luar, melambaikan tangan sambil senyum dalam posisi kehujanan.
Kamui terkejut melihat Fuuma yang basah kuyup. Dia cepat-cepat ngebukain pintu dan berdiri di hadapan Fuuma.
"Kenapa hujan-hujanan?", tanya Kamui sambil melepas jaketnya dan memakaikannya pada Fuuma.
"Aku kan udah pake' jaket.", kata Fuuma.
"Tapi kan basah!", seru Kamui.
Suasana sunyi sebentar.
"Sori....aku telat.", kata Fuuma penuh penyesalan, "Bukan telat lagi sih, mungkin lebih tepatnya lupa!"
Kamui menatap Fuuma, "Aku ga' papa kalo harus nungguin kamu sebegini lama. Tapi lain kali jangan nekat kaya' gini dong! Kalo kamu sakit gimana?!"
Fuuma mesem, "Kamu ngekhawatirin aku?",
Kamui terkejut lalu buru-buru menunduk. Perlahan, dia mengangguk.
"Boleh aku berharap banyak dari kekhawatiran itu?", tanya Fuuma serius.
Kamui mendongak kaget. Dia ga' bisa ngomong apa-apa. Hanya menatap mata emas itu yang dia lakukan.
"Ckk, kenapa kamu jadi ikut hujan-hujanan?", Fuuma mengusap pipi Kamui yang basah dan tanpa canggung mendekatkan wajahnya.
Yang terjadi begitu cepat. Saat kesadaran menguasai Kamui, ia baru tahu kalau Fuuma memeluknya rapat. Dan yang membuat Kamui lebih terkejut, Fuuma mendaratkan ciuman tepat di bibirnya. Kamui takut dan memejamkan mata rapat-rapat, tapi ia tak bisa memungkiri bahwa hatinya mendengkur senang diperlakukan Fuuma seperti ini.
Kamui mencengkeram jaket Fuuma saat pemuda itu menekan bibirnya. Dan berakhir dengan erangan tertahan dari Kamui saat Fuuma menginvasi rongga mulutnya dengan lidah. Fuuma melakukannya dengan lembut tapi sekaligus menegaskan pada Kamui bahwa Fuuma begitu ingin menjaga Kamui dan bahwa perasaannya pada cowok mungil itu begitu kuat.
Fuuma melepaskan Kamui perlahan dan kini mereka bertatapan gugup.
"Kamui, aku suka kamu!"
-- To Be Continue--
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
Pembaca : APAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA?????????????
Ritsu : *mimisan*
KeN tidak bertanggung jawab akan segala efek samping seusai membaca fict ini! Hahahahahahahahaha....
Oh, iya....ga' tahu kenapa tapi ada satu nama yang muncul saat saya bikin karakter "laki-laki tiga puluhan". Dan nama tersebut adalah Yuuto Kigai. Hahahahaha..
See you di chapter depan!!
Ritsu : *mimisan*
KeN tidak bertanggung jawab akan segala efek samping seusai membaca fict ini! Hahahahahahahahaha....
Oh, iya....ga' tahu kenapa tapi ada satu nama yang muncul saat saya bikin karakter "laki-laki tiga puluhan". Dan nama tersebut adalah Yuuto Kigai. Hahahahaha..
See you di chapter depan!!


0 komentar:
Posting Komentar