Free Bird chap. I

Haiiiiiiiiiii.........

Saya kembali lagi dengan fict gaje saya yang baru, hehehehe...

Fict aneh ini saya buat karena tingkat kegilaan saya yang memuncak setelah berbagai macam tes masuk PTN saya jalani *lebay*. Dan saya juga ga' tau saya ini kerasukan setan dari mana kok bisa-bisanya saya bikin LEMON kaya' begini.

>> Rating : saya ga' mau digampar bapak-bapak dan ibu-ibu karena ngajarin adek-adek baca LEMON-an. Jadi saya kasih rating M aja ya?! Anak kecil, ga' boleh baca dulu *senyum-senyum autis*!!

>> Disclaimer : Selamanya NARUTO itu adalah milik Masashi Kishimoto. Kecuali surat serah terima kepemilikan dari saya sudah ditandatangani beliau. *hah??*

Ini keterangan yang perlu dicermati :
1. " + + + +" adalah tanda ganti setting
2. "* * * *" adalah tanda ganti hari

###############################################################################################

Chapter 1 : Broken wings



"Cukup!!", perintah Pein pada anak buahnya saat akhirnya tubuh Naruto penuh dengan lebam.

Anak buah Pein menurut dan menjauhkan diri mereka dari Naruto yang kini jatuh terduduk dengan kedua tangan masih terbelenggu rantai.

Kali ini giliran Pein yang mendekat. Ia berjongkok di depan Naruto.

"Sakit?", tanyanya dengan seringai kejam.

Naruto diam. Masih berusaha mengatur napas.

"Sudah kubilang kan?!", Pein menyeka darah yang mengalir ke pipi Naruto dari keningnya, "Jangan coba-coba kabur dariku! Kau tahu aku tak suka kekerasan, tapi kau selalu memaksaku melakukannya."

Naruto menjauhkan wajahnya dari sentuhan Pein.

"Lihat! Gara-gara kelakuanmu, wajahmu yang cantik ini jadi ternoda.", kata Pein sambil tersenyum.

Naruto masih membisu. Ia tahu ia tak kan bisa berbuat apa-apa. Dan ia tahu, setalah ini akan ada siksaan yang jauh lebih pedih menantinya.

"Tinggalkan kami berdua!", Pein memberi perintah lagi.

"Baik!!", Serentak, anak buah Pein membungkuk hormat lalu meninggalkan bos mereka itu dan 'mainan'nya itu berdua dalam kamar gelap yang hanya diterangi sinar bulan.

Setelah yakin anak buahnya sudah menjauh, Pein menarik dagu Naruto mendekat.

"Sebentar lagi rasa sakitmu akan hilang.", bisiknya di telinga Naruto.

Tubuh Naruto bergetar.

"Jangan takut! Bukankah kita sudah biasa melakukannya?!", ucap Pein sebelum bibirnya menyentuh leher Naruto, membuat pemuda mungil itu memejamkan mata.

"Citrus! Citrus yang sangat kusuka!", bisik Pein sambil menggigit leher Naruto, meninggalkan noda merah di sana.

Tangan Pein menyusup pelan ke dalam T-shirt Naruto yang sudah robek di sana-sini akibat pemukulan tadi dan membelai dada dan perut Naruto dengan liar.

"Naruto.", panggil Pein penuh gairah.

Lalu tangan Pein berhenti di titik sensitif di dada Naruto dan memijatnya perlahan. Mendapat perlakuan itu, Naruto menengadahkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan desahan.

Nafas Pein makin tak beraturan dan ia memutuskan menarik paksa T-shirt Naruto hingga benda malang itu kini tak lagi menghalangi pemandangan tubuh atas Naruto.

Dingin menusuk-nusuk kulit Naruto dan sentuhan dari Pein membuatnya jadi lebih buruk.

Belaian Pein berubah menjadi jilatan nafsu. Dihisapnya titik sensitif di dada Naruto dan memastikan benda itu mengeras di mulutnya.

Sementara bibirnya sibuk menghisap, tangan Pein menurunkan celana Naruto dengan kasar. Hingga pemuda berambut pirang itu kini total telanjang bulat.

Pein menyudahi permainan bibirnya dan menatap wajah Naruto yang kini tak hanya basah oleh darah, tapi juga airmata.

"Naru, kau menyukainya kan?!", kata Pein, "Aku akan lanjut."

"Ja---AAHH!!", Belum sempat Naruto menyelesaikan permohonannya, ia merasakan sakit tak tertahankan saat miliknya diremas tanpa ampun oleh Pein.

"Akhirnya aku mendengar suaramu juga, Naruto.", Pein tertawa mengerikan.

Keringat membanjiri tubuh Naruto, "Pein...san.."

"Kau mau lebih?", tawar Pein yang mengencangkan genggamannya dan membuat tubuh Naruto meliuk kesakitan.

"Aa--uugh...Pein-san...", Naruto merintih.

Namun gerakan Pein justru makin membabi buta mendengar suara Naruto. Ia membasahi dua jarinya dengan ludah. Kemudian tangan yang awalnya meremas Naruto kini menahan agar kedua kaki pemuda mungil itu tetap terpisah. Lalu dengan jari-jarinya yang telah basah, ia menerobos lubang Naruto.

Naruto tersentak dan berusaha menjauhkan dirinya dari serangan Pein dengan menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Sia-sia, justru hal itu membuat jari-jari Pein tertanam makin dalam.

"U..ukh", rintih Naruto sambil menggigit bibir bawahnya. Ia kehabisan tenaga sekarang. Seluruh tubuhnya sakit akibat perlawanannya terhadap blow-job yang dilakukan oleh Pein.

"Sudah kubilang. Jangan melawan!", kata Pein sambil memasukkan jari ketiga ke lubang Naruto.

"A..ahh..uukhhh..",Air mata Naruto makin membanjir seiring irama tusukan-tusukan Pein dalam rektumnya.

Pein tersenyum melihat reaksi Naruto dan terus memaju-mundurkan jari-jarinya. Mengincar titik pusat di dalam lubang Naruto.

"P--Pein..SAAANN!!", teriak Naruto saat titik itu diserang dan darah mengalir dari sana.

Pein tertawa puas lalu menarik jari-jarinya. Diperhatikannya Naruto yang kini tertunduk kelelahan dengan napas putus-putus.

"Ini belum akhir, Naruto! Beri aku hidangan penutup!", kata Pein sambil mendekatkan diri pada Naruto dan melingkarkan kedua kaki bocah itu ke pinggangnya.

Dengan cekatan, Pein menurunkan celananya dan mempersiapkan miliknya yang sedari tadi basah dalam balutan celana dalamnya.

Tubuh Naruto bergetar hebat. Namun ia terlalu lelah. Memberontak seperti apapun tak ada gunanya. Ia memang hanya alat pemuas nafsu kepala panti asuhannya itu saja. Ia hanya mainan.

"Kau siap?", tanya Pein.

'Kau hanya boneka, Naruto!', suara itu berbisik di kepala Naruto sebelum ia merasakan perih yang amat sangat hebat di tubuh bagian bawahnya.

"AAAKKHHHH!!!!", teriak Naruto sebelum kegelapan menguasai kesadarannya.


* * * * * * * * *

Sasuke menggeliat di tempat tidurnya begitu sinar matahari masuk lewat jendela kaca kamarnya yang masih tertutup gorden. Ia duduk sambil menggaruk liar rambutnya dan membuatnya makin mirip pantat ayam lalu menguap lebar-lebar.

Sasuke menoleh ke jam beker yang terletak di meja kecil dekat ranjangnya, 'Hnn....sudah jam sepuluh??', batinnya kaget. Ia pun turun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk cuci muka dan menggosok gigi.

'Hari ini aku bolos saja. Sial! Harusnya aku tak meladeni si rambut nanas itu kemarin. Jadi telat bangun deh!', Sasuke menggerutu dalam hati dengan mulut penuh busa pasta gigi.

Sasuke menunduk ke arah keran wastafel lalu mengisi mulutnya dengan air yang digunakan untuk berkumur dan setelah itu membuangnya ke wastafel lantas mengelap tangan dan mulutnya.

Kemudian ia menuju lemari es di dekat dapur, mengambil susu kotak segar dari sana dan menenggaknya sambil berjalan lagi ke arah buffet di ruang tamu. Diambilnya gagang telepon yang ada di atas buffet lalu menimang-nimang sejenak akan menelepon siapa. Kemudian akhirnya ia memencet sebuah seri nomor. Didekatkan gagang telepon itu ke telinganya dan menunggu sampai....

"Ya, Sasuke?", terdengar suara di ujung lain telepon.

"Neji?"

"Hei! Kau di mana sih sekarang?? Dosennya sudah masuk dari tadi!!", kata Neji.

"Aku tahu. Makanya aku meneleponmu.", Sasuke menggaruk keningnya, "Tolong beri tahu sensei, aku tak masuk hari ini."

"Memangnya kenapa?", tanya Neji.

"Semalam aku ditantang main shogi sama Shikamaru dan begadang. Jadi hari ini aku telat bangun."

"Kalian ini ada-ada saja!", Neji mendengus, "Ya sudah! Aku harus kembali ke kelas. Aku pamit ke sensei mau ke belakang, jadi tidak bisa lama-lama."

"Oh, oke. Jangan lupa memberi tahu sensei!", pesan Sasuke.

"Baiklah, Tuan Uchiha!", jawab Neji malas kemudian menutup telepon.

Sasuke beranjak dari samping buffet menuju sofa biru panjang favoritnya dan merebahkan dirinya di sana.

"Hhh, aniki pasti di rumah Dei-senpai.", tebak Sasuke, "Apa yang harus kulakukan hari ini?"

+ + + + + + + + +

"Naruto!", Seseorang menepuk pelan pipi Naruto.

Dengan berat, Naruto membuka matanya.

"Sai?", bisik Naruto lemah.

"Kau tak apa?", tanya pemuda bernama Sai, "Mereka menyiksamu lagi?"

Naruto terdiam. Hanya air matanya saja yang menjawab.

Sai menatap Naruto iba. Kemudian ia dengan cepat dan cekatan, ia melepaskan tangan Naruto dari rantai.

"Cepat pergi! Bahaya kalau mereka tahu kamu ada di sini!", kata Naruto.

"Jangan khawatir. Pein-san dan anak buahnya sedang pergi.", Sai membantu Naruto berdiri.

"AHH!!", Naruto memekik saat tubuh bagian bawahnya menolak untuk bekerja sama.

"Ada yang sakit??", Sai memeriksa keadaan Naruto.

Naruto meringis sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding, "Tidak."

"Ayo! Pelan-pelan!", Sai memapah Naruto keluar dari ruangan gelap itu.

"Kita mau ke mana?", tanya Naruto saat ia sadar mereka tak melewati lorong yang seharusnya.

"Kau harus pergi dari sini!", ucap Sai pelan.

"A..apa?"

Sai menoleh pada Naruto dan tersenyum, "Kau pernah bilang kalau kau ingin jadi burung yang bebas kan?! Sekaranglah saatnya bagimu untuk keluar dari sangkar."

Naruto menatap Sai tak percaya.

"Kau harus terbang tinggi sampai ke langit sana!", kata Sai lagi.

Naruto membalas senyum Sai dengan mata berkaca-kaca.

"Lewat sini!", Sai menuntun Naruto berbelok ke lorong sempit sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Memastikan mereka tak diikuti.

Mereka menyusuri lorong sempit yang hanya bisa dilewati oleh satu orang itu sehingga Sai harus berjalan dengan memiringkan tubuhnya agar ia tetap dapat memapah Naruto.

"Kemarin aku menemukan jalan ini dan mempersiapkannya untuk kemungkinan-kemungkinan terburuk seperti ini.", kata Sai di antara desahan napasnya karena lorong itu tak hanya sempit, tapi juga lembap, gelap dan minim udara masuk.

Kemudian perlahan terlihat setitik cahaya yang makin dekat seiring perjalanan mereka.

"Nah..hh..sampai!", kata Sai sambil tersenyum dan menyeka keringat yang membanjir di dahinya.

Naruto tertawa kecil sambil mengatur napas.

Di depan mereka sekarang terdapat jendela kaca yang mungkin sudah lama tidak difungsikan. Terbukti dari serpihan-serpihan kayu dan debu yang jatuh saat Sai mencoba membukanya.

"Sial! Susah sekali!", gerutu Sai, "Mundur, Naruto!"

Naruto menurut dan melangkahkan kakinya beberapa senti ke belakang Sai.

Sai mengumpulkan lengan bajunya yang panjang ke sikunya lalu mengambil posisi siap.

PRAANG!!

Dengan sekali pukul, Sai berhasil memecahkan kaca.

Naruto yang panik bergegas mendekati Sai, "Kamu terluka??"

Sai melihat sikunya yang berdarah, "Tak sebanding dengan luka-lukamu."

"Jangan begitu! Luka ini harus cepat diobati!", kata Naruto lagi.

"Akan kulakukan setelah mengantarmu pergi."

Naruto menatap Sai bingung, "Apa maksudmu?"

"Aku tak bisa ikut denganmu, Naruto.", terang Sai.

"Tapi..."

"Aku harus melakukan sesuatu pada mereka karena telah membunuh kakakku!", Sai menatap jauh keluar jendela kaca dengan mengepalkan tangan.

"Apa yang mau kau lakukan?", tanya Naruto.

"Yah, mungkin memberi mereka sedikit pelajaran dengan tanganku ini.", Sai tersenyum lagi pada Naruto.

Naruto hanya menatap Sai tanpa kata.

"Ayo, cepat keluar dari sini!", Sai menyadarkan Naruto.

Naruto mengangguk.

Sai memberi jalan untuk Naruto lewat. Agak susah juga mengingat lebar lorong itu tak ada satu meter.

Di depan jendela kaca itu, Naruto menoleh lagi pada Sai, "Aku pergi!"

"Pastikan kau terbang dengan benar!", pesan Sai.

Naruto mulai melongokkan badannya keluar dan menghirup adara kebebasan yang selama ini diimpikannya. Naruto berhati-hati agar ujung pecahan kaca yang tajam tak menghujam kulitnya. Dan dengan sedikit bantuan Sai sekali lagi, Naruto berhasil menginjakkan kakinya di rumput hijau di luar gedung yang selama ini memisahkan Naruto dengan dunia luar.

"Terus saja ke utara! Satu jam jalan kaki, kamu akan sampai di Konoha.",Sai memberi wejangan terakhirnya.

Naruto mengangguk lagi.

"Kita akan bertemu lagi, Naruto!", kata Sai. Entah itu sebuah harapan atau sebuah janji.

Naruto tersenyum, "Terima kasih atas semuanya."

Sai menatap Naruto yang mulai berjalan dengan tertatih-tatih menjauhi neraka berkedok panti asuhan itu.

"Kepakkan sayapmu, Naruto!", ucap Sai lirih.

BUGH!!

"AKHH!!", Sesuatu yang keras menghantam belakang kepala Sai.

Naruto, yang belum begitu jauh berjalan, menoleh mendengar teriakan Sai dan menemukan sahabatnya itu sudah dipukuli habis-habisan oleh anak buah Pein.

"SAI!!", panggil Naruto.

"Naruto! Lari--UGHH!!", erang Sai saat ulu hatinya diserang.

Naruto memundurkan langkahnya, ketakutan.

"Hei! Jangan lari!", teriak salah satu anak buah Pein, "Kejar dia!!"

Tapi bukannya mengejar, pria-pria berbadan besar itu malah sibuk berhimpit-himpitan di lorong kecil itu, tak ada yang mau mengalah memberi jalan.

"Hei, Bokong besar! Minggir!", gertak yang satu.

"Siapa yang kau sebut 'Bokong Besar', hah? Otak udang!", bentak yang lain.

Dan kesempatan itu digunakan Naruto untuk menyeret kakinya menjauh.

"Maafkan aku, Sai.", katanya lirih.

"Apa yang kalian lakukan? Dia makin menjauh!", bentak laki-laki yang masih memukuli Sai pada kawan-kawannya, "Lewat pintu depan saja! Dengan luka seperti itu, ia tak akan bisa lari jauh. CEPATT!!"

Dan berbondong-bondong, tiga laki-laki bertampang sangar dan berotot bergegas menyusul Naruto.



TO BE CONTINUE

##########################################################################################


Hehehehehehehehe....

Bagaimana???

Hnn...sejujurnya saya memulai hobi menulis dengan membuat novel dengan tebal rata-rata 58 lembar per cerita (dan semuanya cuma nganggur ga' jelas di rumah). Waktu saya berhasil membuat fanfic, saya merasa aneh karena ga' pernah menulis cerita pendek sebelumnya. Dan setelah terbiasa membuat fanfic, saya kaget waktu cerita ini meluas kemana-mana. Akhirnya saya putuskan untuk membuatnya berseri saja.

Sasuke : HEH! Porsi gue dikit amat?? Udah gitu lo jelek-jelekkin lagi! *sharingan-nya nongol*

KeN : Uda!! Terima aja! Masih untung gue kasih peran! Tar deh, gue kasih lebih di chapter-chapter selanjutnya! *ngulet-ngulet pegel*

Naruto : Kok saya 'gitu'nya sama Pein sih?? *mewek*

KeN : Maaphh.. Tapi cuma itu satu-satunya ide yang terlintas di otak saya waktu mau ngebikin penpik ini. *meluk-meluk Naru*

Sasuke : Minggat lo dari uke gue!! *jadi super saiya(??)*

Pein : KeN, updetannya kapan??

KeN : tunggu ya?! Saya usahakan secepatnya. *nyengir*

ItaDei : Kita kapan nongol?? *mupeng*

KeN : Taon depan!! *sewot gara-gara aktornya kebanyakan nanya*

Sai : Nasib saya gimana?? *ni orang ga' punya ekspresi kan?!*

KeN : Tenggelem aja lo pada di sungai gangga!! *dikeroyok aktor2*


Saran-kritik ditungguuuuuu!!!!!!!! *kabur*

Jaa neeeee....

0 komentar:

Posting Komentar