Free Bird chap. II

Yaaaiii,,,, *lompat-lompat gaje*

Saya mau nerusin "Free Bird" nih! Anehnya yang nyuruh saya supaya cepet-cepet apdet cerita ini malah temen saya yang ga' suka anime, ga' suka YAOI, dan ga' suka baca cerita. Nah lho? Sapa yang ga' pusing??

Yaa, tapi berkat dia saya jadi bisa nge-post-in chapter 2 ini dengan bahagia, hehehehehe.. *hah?? Maksudnya??*

Informasi nih.. Setting dari cerita ini masih di hari yang sama dengan kaburnya Naruto dari panti asuhan.

>> Rating : Mari lupakan LEMON!! Tapi jangan lupakan LIME, gehehehehe... *dijitak pembaca* Hayoo tebak! Ini ratingnya T apa M??

>> Disclaimer : Astagahhhh!! Masa' ga' tau sapa yang punya Naruto?? (Pembaca : Emang sapa??) Ya, gue lah!! *dikeroyok massa lagi*

Note : "+ + + +" adalah tanda pergantian setting.

Well, selamat membaca!!

########################################################################


Chapter 2 : Escape from the Nightmare


"Daging, susu, telur, mentega.....hmm, sipp!! Lengkap!!", Sasuke mengecek barang belanjaannya sambil berjalan.

"Hah, hari ini aniki pulang tidak sih?? Bikin sebal saja!! Aku malas kalau harus menunggunya pulang untuk membukakan pintu!", Sasuke komat-kamit.

Akhirnya ia berhenti dan merogoh saku celana jeans-nya lalu menarik keluar handphone-nya.

Ia mencari sebuah nama di phonebook. 'Yap! Baka aniki!'. Sasuke memencet tombol pada nama itu dan menunggu beberapa saat.

"Halo?", Suara yang sudah sangat dikenal Sasuke terdengar.

"Aniki! Hari ini pulang tidak?', tanya Sasuke.

"Ada apa, my sweet Outotou? Sudah rindu padaku?", goda Itachi, baka aniki-nya Sasuke.

"Idiiih, amit-amit!! Untuk apa aku merindukanmu?", Sasuke mencibir.

"Hahahahaha, kamu selalu menanggapi semuanya dengan serius ya?!"

"Aniki tahu aku tak suka bercanda.", Sasuke melanjutkan langkah, "Jadi, aniki pulang tidak?"

"Hnn, Dei tak mau melepaskanku nih! Bagaimana?"

"Baka! Jangan tanya padaku!", Sasuke membelokkan langkah ke gang kecil yang merupakan jalan pintas menuju gedung apartemennya.

"Siapa yang kau panggil 'Baka', hah?", Itachi pura-pura marah.

"Memangnya aku peduli?", kata Sasuke enteng.

"Cepat cari pacar sana!"

"HEH! Kenapa pembicaraannya jadi ke situ?", protes Sasuke.

"Kau lebih suka menambah kerutan di dahimu dari pada melirik cewek-cewek. Sebagai seorang kakak, aku khawatir akan masa depanmu!", kata Itachi sok alim.

Sasuke sudah membuka mulut untuk mengeluarkan kata-kata pedas saat ia mendengar rintihan dan erangan di kegelapan yang menginterupsanya.

"Bagaimana pertanggungjawabanku pada ayah dan ibu di surga? Hei, kau dengar aku tidak?", tanya Itachi.

"Jangan bawa-bawa mereka! Lagi pula pacarmu sendiri laki-laki! Sudah, nanti kutelepon lagi!", Tanpa menunggu persetujuan dari Itachi, Sasuke memutus teleponnya.



"HEI, Baka Outotou!!", seru Itachi di depan handphone-nya.

"Ada apa?", tanya sosok cantik yang tidur di sebelah Itachi.

"Dia memutus teleponnya tiba-tiba.", Itachi meletakkan handphone-nya lagi di meja kecil dekat ranjang.

"Mungkin ada sesuatu yang lebih penting.", kata sosok itu lagi.

Itachi hanya angkat bahu lalu sedikit menunduk untuk menatap sosok cantik itu.

"Jadi? Mau diteruskan atau diulangi lagi, Dei-dei?", goda Itachi pada kekasihnya.

"Terserah! Yang mana saja", jawab sosok cantik itu dengan pipi bersemu merah.

Itachi tersenyum lalu menarik tubuh ramping itu mendekat. Dan mereka kembali bergumul.

+ + + + + + + + +

Sasuke mendekati sumber suara dengan hati-hati. Dan kemudian Sasuke melihatnya. Ada anak yang tengah dikeroyok oleh tiga orang laki-laki berbadan besar. Sementara yang dikeroyok hanyalah anak kecil yang tubuhnya tak lebih besar dari Sasuke.

"Lepas...HMMPH!!", teriak anak itu.

"Hahaha, kau banyak belajar dari Pein-san rupanya! Uhh, yeah! Ayo, lebih dalam, Bocah!!", suruh laki-laki satu.

'Hah? "Lebih dalam"? Apanya?', tanya Sasuke dalam hati.

"Boleh kunikmati 'barang'nya?", tanya laki-laki dua pada laki-laki satu.

"Tunggu! Biar kuselesaikan dulu yang ini--AHH!!", pekik laki-laki satu.

"Ada apa?", tanya laki-laki dua dan tiga bersamaan.

"Dia menggigitku!", Laki-laki satu tadi melompat-lompat kesakitan.

"Kurang ajar!!"

BUGHH!!

Sebuah tendangan membuat anak tadi tersungkur.

"Kau memang perlu diberi pelajaran!", Laki-laki dua membuka resleting celana anak itu dengan seringaian.

'Gawat!', batin Sasuke.

"J--jangan!", Anak itu memohon dengan suara bergetar.

"Apanya yang 'jangan', hah?", kata lakki-laki tiga disusul tawa mengerikan dari teman-temannya.

"Ada yang bisa dibantu?", Sasuke keluar dari persembunyiannya dan membuat tawa para laki-laki itu terhenti.

"Siapa kau?", tanya laki-laki tiga penuh ancaman.

Sasuke angkat bahu, "Hanya anak kecil yang kebetulan lewat."

"Kalau tak mau mati,ada baiknya kau pergi, Bocah ingusan!", kata laki-laki satu sambil membetulkan celananya kembali.

"Kalau aku tak mau?", tanya Sasuke sambil melihat korban keroyokan para pria itu.

"Kau tanggung sendiri akibatnya! HEYAAA!!", Laki-laki tiga menerjang maju dengan tinjunya.

Sasuke dengan mudah mengelak, "Uups, hampir saja ya?!"

"Jangan sombong!!", Laki-laki satu ikut menghadapi Sasuke.

Perkelahian sengit pun tak terhindarkan.

Laki-laki dua mengamat pertarungan dua lawan satu itu sejenak lalu mengalihkan pandangannya pada anak laki-laki yang masih dalam cengkeramannya.

"Dua orang saja sudah cukup! Kita main-main saja sendiri!", katanya sambil meneruskan aksinya menelanjangi tubuh bagian bawah korbannya.

"Hentikaaan!!", seru anak itu.

"Aku akan berhenti kalau aku sudah puas!", Laki-laki dua itu menyeringai ketika berhasil menanggalkan celana anak laki-laki berambut pirang itu, "Kita mulai!!"

"Jangan...uugh...", anak laki-laki itu merintih saat belaian di daerah paling sensitifnya.

Sasuke yang baru saja berhasil menonjok pipi laki-laki satu terkejut waktu mendapati laki-laki dua dengan 'pekerjaan'nya.

"Hei, BRENGSEK!! Hentikan!! AKHH!", Punggung Sasuke dipukul keras.

"Lawanmu di sini, Bodoh!", Laki-laki tiga mengeluarkan pisau lipat dari balik ikat pinggangnya, "Mati kau!!"

Laki-laki tiga menghunuskan pisaunya denga membabi buta ke arah Sasuke. Dan kali ini refleks Sasuke terlambat hingga pisau tajam itu merobek daging di lengannya cukup dalam.

"Arrghh!!", Sasuke terduduk dengan lengan bersimbah darah.

"Hahahaha, begitu saja sudah ambruk!", ledek laki-laki satu.

"Jangan coba-coba, Bocah!", Laki-laki tiga mengucek rambut Sasuke, "Sana pulang ke rumah dan menangislah di pangkuan ibumu!!"

Tawa mengerikan para pria itu kembali terdengar.

Lalu tiba-tiba, tanpa mereka sangka, Sasuke berdiri dan memelintir tangan laki-laki tiga yang masih memegang pisau.

"AHH!!", pekiknya.

"Jangan sebut-sebut ibuku dengan mulut busuk kalian!", kata Sasuke tajam.

"Kau cari mati rupanya!", Lakki-laki satu maju ke arah Sasuke sambil mempersiapkan tinjunya.

Sasuke hanya perlu memiringkan kepala untuk menghindari serangan itu dan membalas dengan tendangan keras di perut laki-laki satu.

Laki-laki satu itu terpelanting dan kepalanya menghantam tiang listrik yang membuatnya pingsan seketika.

"ABE!", panggil laki-laki tiga yang tangannya masih dikuasai Sasuke.

"Kali ini giliranmu!", ucap Sasuke.

Laki-laki tiga itu menatap Sasuke ketakutan. Dan dengan sekali gerak, Sasuke menimbulkan suara seperti dahan yang patah pada pergelangan tangan laki-laki tiga itu.

"AUUKHH!!", jerit laki-laki tiga yang langsung berlutut.

"Kau mau kupatahkan lehermu sekalian?", tanya Sasuke dingin.

Laki-laki tiga itu mendongak dan melihat sesuatu yang aneh di wajah Sasuke. Bola mata berwarna merah darah dengan bentuk pupil tak wajar menghiasinya. Laki-laki tiga itu berkeringat dingin dan hanya bisa mengatup-ngatupkan mulutnya.

Sasuke beranjak dari hadapan laki-laki tiga dan mengarahkan kakinya pada suara gaduh di sudut yang tak lain adalah suara rintihan anak laki-laki mungil yang jadi korban itu karena diperlakukan makin tak pantas.

Sasuke menjambak rambut laki-laki dua hinggga ia berdiri. Dan sebelum laki-laki itu sempat bereaksi, Sasuke mendahuluinya dengan tonjokkan maut di hidung laki-laki itu hingga membuatnya berdarah.

"Bisa kau bawa mereka pulang?", tanya Sasuke sambil menunjuk ke arah belakang kepalanya.

Laki-laki dua melihat ke arah yang ditunjuk Sasuke dan menemukan kawan-kawannya kini sudah tak berdaya.

Sasuke melepaskan rambut laki-laki dua dan mendorongnya dengan kasar. Dilihatnya laki-laki dua itu membantu laki-laki tiga berdiri dan bersama-sama memapah tubuh laki-laki satu yang masih belum sadar.

"Siapa pun yang menyuruh kalian, katakan padanya! Kalau dia ingin mengambil anak itu, maka ia harus berhadapan dulu denganku, Uchiha Sasuke!", pesan Sasuke sebelum tiga laki-laki itu kabur.

Perlahan bola mata Sasuke kembali seperti semula. Ia menoleh ke arah anak laki-laki yang baru dikeroyok tadi dan menemukannya tengah meringkuk di sudut sambil berusaha memakai celananya kembali.

Sasuke bingung harus berbuat apa. Ia terdiam di tempatnya sampai akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri tubuh mungil yang masih bergetar karena takut itu.

"Hei!", Sasuke berjongkok di depan anak itu dan berusaha meraih tangannya. Namun justru tindakan Sasuke ini membuatnya makin beringsut takut.

Sasuke menarik tangannya lalu berpikir sejenak. Kemudian dilepaskan jaketnya dan dengan hati-hati dipakaikan pada tubuh yang bergetar itu. Kali ini tak ada gerakan penolakan.

Sasuke mengubah posisi jongkoknya menjadi membelakangi anak laki-laki tadi.

"Ayo naik!!", katanya.

Pemuda berambut pirang itu tertegun sebentar.

"Kita perlu mengobati luka-luka itu!", lanjut Sasuke.

Masih dilanda perasaan takut, pemuda blonde itu menyentuhkan sebelah tangannya ke punggung Sasuke.

"Aku tak akan menyakitimu! Sungguh!!", ucap Sasuke.

Akhirnya anak laki-laki itu memilih untuk percaya pada Sasuke dan dengan hati-hati naik ke punggung pemda berambut hitam berantakan itu.

Sasuke tersenyum lalu mengangkat tubuh mungil itu pulang.

+ + + + + + + + +

"Ita-kun!"

"Hnn?", jawab Itachi sambil mengatur napasnya.

"Masih ingat Pein?"

Itachi membuka mata dan menoleh ke arah tubuh polos yang masih oenuh keringat itu, "Teman kita waku SMA? Kenapa?"

"Kemarin Hidan memberitahuku, katanya ia punya bisnis yang lumayan lancar di Oto!"

"Lalu?"

"Kurasa tak ada salahnya mengundangnya ke pameran seniku dan berbincang-bincang tentang bisnisnya itu.", Tubuh polos itu merapat ke arah Itachi.

"Terserah kau saja!", Itachi memeluk kekasihnya itu lantas mencium penuh-penuh di mulutnya.

+ + + + + + + + +

"Tunggu di sini!", kata Sasuke setelah membaringkan tubuh pemuda blonde itu di ranjangnya.

Sasuke keluar kamar. Diambilnya peralatan obat di dapur serta menuang air hangat ke baskom mini dan membawa semua benda itu masuk kamar lagi.

"Ee..aku harus membersihkan lukamu. Jadi.. emm..aku harus membuka bajumu.", Sasuke terbata.

Pemuda yang tengah berbarig itu terkejut sejenak. Namun kemudian ia mencoba duduk dan mengangguk pelan.

Sasuke berjalan ke arah lemari dan langsung mengobrak-abrik isinya. Kemudian menarik satu stel piyama tidur dan kembali ke sisi ranjang, "Nanti kau bisa pakai ini."

Sasuke kini membantu pemuda asing itu menanggalkan bajunya yang sudah sobek-sobek tak karuan.

"Mungkin ini akan menyakitimu. Tapi tahanlah sedikit!", kata Sasuke sambil mencelupkan handuk kecil ke baskom berisi air hangat lalu diperas.

Disentuhkannya handuk itu pada bagian tubuh pemuda itu yang terluka. Hal ini membuatnya menggigit bibir bawahnya dan mendesis menahan sakit.

+ + + + + + + + +

"Bodoh! Bodoh! Bodoh!", Pein menempeleng kepala tiga anak buahnya satu-satu, "Berhadapan dengan anak kecil saja tidak becus!!"

"Tapi dia kuat sekali, Pein-san!"

"Iya. Matanya itu seperti mata setan."

"DIAAMM!!", hardik Pein, "Bagaimana pun caranya, aku harus mendapatkan Naruto kembali!"

"Ah, maaf, Pein-san!", kata laki-laki dua, "Tadi pemuda yang menolong Naruto berpesan. Kalau Anda ingin mengambil Naruto kembali maka Anada harus berhadapan dengannya dulu!"

"Siapa bocah yang berani-beraninya menantangku itu?", tanya Pein geram.

"Namanya, umm.. Shousuke, eh.. Sasu.. Sasuke!", jawab laki-laki tiga.

"Marganya..kalau tidak salah.. Uchiha.", tambah laki-laki dua.

Mata Pein melebar lantas tersenyum senang, "Uchiha?"

+ + + + + + + + +

"Jadi siapa namamu?", tanya Sasuke saat kini giliran lengannya yang diobati oleh pemuda berambut pirang.

"Uzumaki Naruto."

"Aku, Uchiha Sasuke."

Hening. Sasuke hanya mengamati teman barunya itu yang tengah membalut lukanya dengan perban.

"Sudah.", kata Naruto.

"Wah, terima kasih!", Sasuke menilik lengannya yang kini sudah terbebat perban.

Naruto hanya tersenyum tipis.

Sasuke berdiri lalu membereskan alat-alat obat, "Pakai saja kamarku! Aku tidur di kamar sebelah. Kebetulan kakakku hari ini tidak pulang."

Naruto diam.

"Selamat tidur!", ujar Sasuke sambil tersenyum lalu mulai beranjak. Tapi baru satu langkah, ia merasa ujung kaosnya ditarik. Sasuke menoleh.

"Kamu keberatan untuk tetap di sini?", tanya Naruto.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya lalu menimbang-nimbang sebentar, "Baiklah! Tapi kukembalikan dulu obat-obatnya!"

Naruto tersenyum lemah dan mengangguk.

Sasuke bergegas ke dapur untuk mengembalikan obat-obatan lalu kembali ke kamar.

"Maaf.", kata Naruto.

"Untuk apa?", tanya Sasuke sambil membaringkan tubuhnya di sebelah Naruto.

"Aku merepotkan."

"Tidak kok!", Sasuke menyelimuti tubuhnya dan tubuh Naruto, "Nee, semoga cepat sembuh!"

"Oyasumi nasai!", ucap Naruto. Sedikit mendekatkan diri pada Sasuke.

Sasuke tersenyum dan malah menarik tubuh mungil itu dalam pelukannya, "Nice dreams!"

Naruto terbelalak dan merasakan sesuatu yang panas menjalari pipi hingga telinganya. Dengan canggung, ia balas memeluk Sasuke dan terlelap dengan wajah penuh senyum di dada pemuda itu.

+ + + + + + + + +

"Uchiha.", Pein tersenyum licik sambil menyamankan diri di kursi putar di ruangan pribadinya, "Permainannya akan semakin menarik, Naruto!"


TO BE CONTINUE

#########################################################################

Gajeeeeeeeeeee!!!!!!

Sejak kapan Sasuke jadi banyak omong, banyak senyum, banyak gombal dan banyak-banyak yang lain, hah??

Pembaca : WOI!! Belon apa-apa kok udah maen peluk aja?

KeN : Sasuke ngancem noh!! *nunjuk Sasuke yang masih meluk-meluk Naru*

Sasuke : Ape lo? Mau pada protes?? *siap-siap ngajakin berantem*

Pembaca : Kagak sih! Tapi... *ngeliat Sasuke jiper*

Sasuke : Ga' usah "tapi-tapi"an segala!! Lo-nya juga demen kan?!

Pembaca : Iya juga, nyehehehehehe... *ketawa FUJOSHI rame-rame*

Naruto : Di sini peran saya lemah banget ya?! *protes*

KeN : Hnn..

Sasuke : Sekali-sekali lo jadi uke diem gitu.

Naruto : KeN-chii, ngapain sih?? Kok ga' jawab pertanyaanku? *ngeliat KeN, yang lagi mojok, dengan tatapan bingung plus ingin tau*

KeN : Ini lho! Ada laba-laba aneh. *nusuk-nusuk tu laba-laba pake' telunjuk*

Naruto : Aneh kenapa?

KeN : Warnanya putih geto! Albino ya?!

Naruto + Sasuke + pembaca : GLEKK!! *nelen ludah* KABOORRR!!!

KeN : Hee? Emang kena..

JDARRRR!!!!

KeN : pa~aa? *gosong gaje*

Deidara : Makanya jangan sok bikin gue jadi misterius!!

Itachi : Mangaph ya, KeN! Jatah kita jangan dikurangin!


Hahahahaha, ga' jelas!!

Ngemeng-ngemeng, saya ga' bisa bikin adegan tonjok-tonjokan dengan baik nih! Jadi maaf kalo jelek, HEHEHEHEHEHE...

Yo, yo, yo!! Kasih komen, saran dan kritik yakk!!!
Yang ngasih flame...... *death glare*, gue tonjok sampe' mental ke samudra antartika!!

Jaaa.....

0 komentar:

Posting Komentar