Aloha,minna-san!!
Maaf atas keterlambatan post chapter 4 ini. Semoga ga' ada yang dendam sama saya, hehehe...
Sok!! Mari dimulai!!
______________________________________________________________
When Youngsters Fall in Love - I'm ready to love
Fict : KeN
Idea creator : Ritsu
Rating : T
Disclaimer : CLAMP
Special thank's :
1. Tuhan YME
2. Semua pembaca
____________________________________________________________________
When Youngsters Fall in Love - I'm ready to love
Fict : KeN
Idea creator : Ritsu
Rating : T
Disclaimer : CLAMP
Special thank's :
1. Tuhan YME
2. Semua pembaca
____________________________________________________________________
-- Kantin sekolah --
"Bazaar?", Uke-uke kelas X mengalihkan perhatian pada dua uke kelas XI yang notabene anak OSIS itu.
"Yepp!", kata Kazahaya mantep, "Acara rutin tiap disnatalis sekolah."
"Kapan tanggal pelaksanaannya?", tanya Kimihiro.
"Belum ada keputusan pasti dari Touya sih. Soalnya kepsek akhir-akhir ini jarang ada di kantor.", jawab Yukito.
Uke-uke kelas satu manggut-manggut.
"Nanti per kelasnya bakal ada stand kecil gitu. Trus ada lomba band juga!", terang Kazahaya sesuai pengalaman penulis.
"Tema stand-nya bebas. Yang mau dijual pun bebas. Mau jualan makanan khas, mau jual pernak-pernik, atau kalo mau jual PS atau tivi juga boleh!", kata Yukito polos dengan senyum damainya.
"Kaya'nya bakal seru!", kata Kimihiro riang diiringi senyuman Kamui.
"Banget lah!!", Kazahaya makin semangat aja.
"Aku juga udah nyiapin daftar perusahaan mana aja yang bakal ngasih sumbangan dana.", Yukito membanggakan posisinya sebagai bendahara OSIS.
"Kaya'nya jadi OSIS enak ya?!", Kimihiro rada iri.
"Ga' juga!", Mimik Kazahaya jadi sok sedih, "Gara-gara event besar kaya' gini, kita bakal jarang ngumpul! Soalnya pasti entar dikit-dikit rapat!"
"Semua pilihan yang kita ambil dalam hidup ini pasti ada resikonya." kata Yukito bijak masih dengan senyum damai menghiasi wajahnya.
"Kita juga pasti bisa ngumpul di waktu senggang yang lain kan?!", tambah Kamui.
"Iya sih!", Lalu Kazahaya tiba-tiba manghentikan kalimatnya dan teringat sesuatu, "Ngomong-ngomong, pas kita rame-rame ke distro waktu itu Kamui ke mana?"
Mata Kamui melebar. Lagi-lagi ia ditodong dengan pertanyaan kaya' gitu.
"Yukito bilang kalo kamu ada kerjaan. Kerjaan apa nih kalo boleh tau?", lanjut Kazahaya.
"Ngg...itu...", Kamui terbata.
Yukito ikutan menunggu jawaban dari Kamui. Berharap cowok itu mau membuka sedikit rahasia.
"Sebenarnya..."
"Kaza!! Yuki!!"
Busyet dahh!! Lagi-lagi pernyataan Kamui ke-cancel. Kali ini gara-gara Rikuou yang lari-lari ke arah meja para uke *yang tentu aja begitu masuk kantin dia langsung dikerubuti pandangan mupeng dari cewek-cewek* .
Semua uke menoleh. Dan khusus Kazahaya, dia nolehnya sambil sebel karena gara-gara semenya itu manggil ga' liat-liat suasana.
"Apaan?", tanya Kazahaya judes.
"Dipanggil Touya tuh!", jawab Rikuou
"Buat apa?", Kazahaya masih sewot.
"Dia udah ngomong sama kepsek tadi pagi dan udah dapet tanggal pelaksanaan yang fix pula buat bazaar. Jadi kita disuruh ngumpul!"
"Gantiin gih! Masih seru ini curhatnya!", Kazahaya merintah seenak udel.
"Sekalian aja jabatan kamu aku ambil alih.", Rikuou tersenyum jahil.
"APA?? Berani macem-macem lo?", Kazahaya naikin sebelah kaki ke meja,eh...ga' ding. Cuma naik pitam aja.
"He! Udah! Udah! Jangan bikin ribut di kantin!", lerai Yukito.
"Pokoknya aku ga' mau pergi!", Kazahaya nyilangin tangan sambil cemberut.
"Jangan manja! Ayo rapat!" Yukito balik kejem lagi kalo udah menyangkut tugas OSIS.
"Yuki tega banget!" Kazahaya sok melo.
"Ga' usah pasang tampang kaya'gitu!", giliran Yukito yang judes.
"Tapi kan Kamui masih mau curhat!", Kazahaya pasang muka kaya' anak kucing yang minta dipungut sama orang.
"Curhatnya bisa dilanjutin lain kali. Iya kan, Kamui?", Lelouch akhirnya ikutan ngomong dengan menatap Kamui tajem.
"Tapi..."
"Ahh! Kelamaan!", Rikuou yang bosen denger ocehannya Kazahaya langsung ngegotong ukenya itu di bahunya dan dibawa kabur keluar kantin.
"RIKUOU!!! BAKA!!! Turunin gue!!", Terdengar teriakan Kazahaya di kejauhan.
Uke-uke yang masih di dalem kantin jadi cengok liat kelakuan pasangan seme-uke tadi.
Lalu Yukito menoleh dan tersenyum pada adik-adik kelasnya, "Sampai nanti.", Dan dia nyusulin Kazahaya dan Rikuo yang udah hampir jauh.
Suasana di meja para uke jadi sunyi. Tapi ga' lama, sunyi itu terpecah dengan Lelouch yang menepuk jidatnya.
"Ada apaan?", tanya Kimihiro dan Kamui yang kaget dengan tingkah Lelouch yang di luar dugaan itu.
"Aku lupa tanya ke mereka tadi. Boleh jual saham di stand pas bazaar nanti nggak?!", jawab Lelouch datar yang bikin Kimihiro dan Kamui sweatdrops.
"Bazaar?", Uke-uke kelas X mengalihkan perhatian pada dua uke kelas XI yang notabene anak OSIS itu.
"Yepp!", kata Kazahaya mantep, "Acara rutin tiap disnatalis sekolah."
"Kapan tanggal pelaksanaannya?", tanya Kimihiro.
"Belum ada keputusan pasti dari Touya sih. Soalnya kepsek akhir-akhir ini jarang ada di kantor.", jawab Yukito.
Uke-uke kelas satu manggut-manggut.
"Nanti per kelasnya bakal ada stand kecil gitu. Trus ada lomba band juga!", terang Kazahaya sesuai pengalaman penulis.
"Tema stand-nya bebas. Yang mau dijual pun bebas. Mau jualan makanan khas, mau jual pernak-pernik, atau kalo mau jual PS atau tivi juga boleh!", kata Yukito polos dengan senyum damainya.
"Kaya'nya bakal seru!", kata Kimihiro riang diiringi senyuman Kamui.
"Banget lah!!", Kazahaya makin semangat aja.
"Aku juga udah nyiapin daftar perusahaan mana aja yang bakal ngasih sumbangan dana.", Yukito membanggakan posisinya sebagai bendahara OSIS.
"Kaya'nya jadi OSIS enak ya?!", Kimihiro rada iri.
"Ga' juga!", Mimik Kazahaya jadi sok sedih, "Gara-gara event besar kaya' gini, kita bakal jarang ngumpul! Soalnya pasti entar dikit-dikit rapat!"
"Semua pilihan yang kita ambil dalam hidup ini pasti ada resikonya." kata Yukito bijak masih dengan senyum damai menghiasi wajahnya.
"Kita juga pasti bisa ngumpul di waktu senggang yang lain kan?!", tambah Kamui.
"Iya sih!", Lalu Kazahaya tiba-tiba manghentikan kalimatnya dan teringat sesuatu, "Ngomong-ngomong, pas kita rame-rame ke distro waktu itu Kamui ke mana?"
Mata Kamui melebar. Lagi-lagi ia ditodong dengan pertanyaan kaya' gitu.
"Yukito bilang kalo kamu ada kerjaan. Kerjaan apa nih kalo boleh tau?", lanjut Kazahaya.
"Ngg...itu...", Kamui terbata.
Yukito ikutan menunggu jawaban dari Kamui. Berharap cowok itu mau membuka sedikit rahasia.
"Sebenarnya..."
"Kaza!! Yuki!!"
Busyet dahh!! Lagi-lagi pernyataan Kamui ke-cancel. Kali ini gara-gara Rikuou yang lari-lari ke arah meja para uke *yang tentu aja begitu masuk kantin dia langsung dikerubuti pandangan mupeng dari cewek-cewek* .
Semua uke menoleh. Dan khusus Kazahaya, dia nolehnya sambil sebel karena gara-gara semenya itu manggil ga' liat-liat suasana.
"Apaan?", tanya Kazahaya judes.
"Dipanggil Touya tuh!", jawab Rikuou
"Buat apa?", Kazahaya masih sewot.
"Dia udah ngomong sama kepsek tadi pagi dan udah dapet tanggal pelaksanaan yang fix pula buat bazaar. Jadi kita disuruh ngumpul!"
"Gantiin gih! Masih seru ini curhatnya!", Kazahaya merintah seenak udel.
"Sekalian aja jabatan kamu aku ambil alih.", Rikuou tersenyum jahil.
"APA?? Berani macem-macem lo?", Kazahaya naikin sebelah kaki ke meja,eh...ga' ding. Cuma naik pitam aja.
"He! Udah! Udah! Jangan bikin ribut di kantin!", lerai Yukito.
"Pokoknya aku ga' mau pergi!", Kazahaya nyilangin tangan sambil cemberut.
"Jangan manja! Ayo rapat!" Yukito balik kejem lagi kalo udah menyangkut tugas OSIS.
"Yuki tega banget!" Kazahaya sok melo.
"Ga' usah pasang tampang kaya'gitu!", giliran Yukito yang judes.
"Tapi kan Kamui masih mau curhat!", Kazahaya pasang muka kaya' anak kucing yang minta dipungut sama orang.
"Curhatnya bisa dilanjutin lain kali. Iya kan, Kamui?", Lelouch akhirnya ikutan ngomong dengan menatap Kamui tajem.
"Tapi..."
"Ahh! Kelamaan!", Rikuou yang bosen denger ocehannya Kazahaya langsung ngegotong ukenya itu di bahunya dan dibawa kabur keluar kantin.
"RIKUOU!!! BAKA!!! Turunin gue!!", Terdengar teriakan Kazahaya di kejauhan.
Uke-uke yang masih di dalem kantin jadi cengok liat kelakuan pasangan seme-uke tadi.
Lalu Yukito menoleh dan tersenyum pada adik-adik kelasnya, "Sampai nanti.", Dan dia nyusulin Kazahaya dan Rikuo yang udah hampir jauh.
Suasana di meja para uke jadi sunyi. Tapi ga' lama, sunyi itu terpecah dengan Lelouch yang menepuk jidatnya.
"Ada apaan?", tanya Kimihiro dan Kamui yang kaget dengan tingkah Lelouch yang di luar dugaan itu.
"Aku lupa tanya ke mereka tadi. Boleh jual saham di stand pas bazaar nanti nggak?!", jawab Lelouch datar yang bikin Kimihiro dan Kamui sweatdrops.
+ + + + + + + + + + + + +
ZRASSHHH!!! *buat yang ga' ngerti : ini suara ala komik-komik gitu*
Ga' tau kenapa mendadak langit ga' bersahabat dan turun lah hujan yang dengan ganasnya mengepung bumi. Dan parahnya, tu hujan turunnya nurutin keinginan egoisnya penulis doang!
"Matilah aku!", seru Kimihiro pas sensei udah keluar dari kelas.
"Mati kenapa?", Kamui heran.
"Jemuranku masih di luar! Alamat basah lagi deh!", jawab cowok berkacamata itu.
"Kaya'nya hujannya juga bakalan lama ini.", Kamui ngeliat langit lewat jendela kaca.
"Eh, Lulu! Nyari sapa?"
Kamui dan Kimihiro menoleh ke arah suara dan menemukan Lelouch udah di depan pintu kelas dan dihadang dua cowok yang paling usil sekelas.
"Kamui dan Kimihiro.", jawab Lelouch pendek.
"Yahh! Dari kemaren-kemaren kok cuma nyariin mereka sih? Sekali-sekali nyari kita juga dong!", Cowok berambut spike ngegoda.
"Iya nih! Ga' rugi kok kalo kamu maen sama kita-kita.", Giliran yang rambut shaggy yang dengan pede dan sok akrab ngelingkarin lengannya ke belakang leher Lelouch.
"Eh! Eh!", protes Kimihiro pas liat kelakuan si rambut shaggy, "Apa-apaan tuh tangan?"
Lelouch dan dua cowok usil tadi menoleh ke arah Kimihiro.
"Kimi sama Kamui boleh ikut juga kok kalo mau!", Malah dua cowok tadi makin semangat ngegoda.
"Ogah!!", Kimoihiro nolak dengan judes, "Turunin ga' tu tangan?!", Ancem Kimihiro pake' acara nunjuk-nunjuk.
"Kimi serem nih!", Akhirnya si rambut shaggy ngelepasin tangannya, "Tapi tetep cantik kok!"
Kimihiro mencibir sambil mengawasi dua cowok tadi keluar kelas setelah sebelumnya dengan genit mereka ngasih salam perpisahan ke tiga uke tadi.
Kamui ketawa aja liat kelakuan Kimihiro.
"Kamui nih! Ketawa aja! Bukannya bantuin!", Kimihiro cemberut.
"Mereka kan udah takut pas kamu judesin.", Kamui masih nahan ketawa sementara Kimihiro masih ngambek.
"Pulang yuk?!", ajak Lelouch yang masih bediri di pintu kelas X-B.
"Yukk?! Cemberut mulu! Jelek tau!", goda Kamui sambil ngegandeng tangan Kimihiro keluar kelas.
Dan mereka bertiga pun jalan ke ruang loker yang ada di deket pintu keluar gedung.
"Gimana pulangnya nih?", tanya Lelouch.
"Ga' tau juga! Aku ga' bawa payung ini.", Kamui mengganti sepatunya.
"Terpaksa nunggu sampe' agak reda!" kata Kimihiro.
Jadilah, setelah mereka selesai berurusan dengan ruang loker, mereka bediri di halaman sekolah *yang masih terlindungi genteng* sambil ngedumel.
"Ah, penulis rese' nih! Ga' bilang-bilang kalo mau bikin adegan ujan-ujanan!", kata Kimihiro.
"Mana dia ga' pernah mau disalahin lagi kalo aktor-aktor fict-nya pada protes!", Kamui maenin air hujan dengan tangannya.
"Kejamnya lagi, cuma kita bertiga aja yang diceritain tinggal di sekolah ini.", lanjut Kimihiro.
"Sepertinya ada udang di balik batu!", kata Lelouch sambil mengelap tangannya dari cipratan air hujan.
Lalu terdengarlah suara langkah kaki di belakang tiga uke tadi. Mereka balik kanan dan melihat ada dua cowok yang udah familiar buat mereka lagi jalan mendekat.
"Shizuka!"
"Suzaku!"
Yang dipanggil cuma senyum. Tapi yang senyum cuma Suzaku doang sih. Shizuka-nya cuma manggut sekali.
"Belum pulang?", tanya Kimihiro.
"Kalo masih di sini artinya belum pulang dong!", jawab Suzaku yang masih mempertahankan senyumnya yang sebenernya cuma tertuju buat Lelouch seorang.
Uke-uke manggut-manggut polos. Lalu perhatian uke-uke tertuju pada tangan kedua seme tadi. Dan dia langsung pasang tampang sebel.
"Kok kalian udah bawa payung aja sih?", protes Kimihiro.
Shizuka dan Suzaku ngelirik payung di pegangan masing-masing, trus saling pandang sebentar trus balik liatin para uke sambil angkat bahu.
"Ga' tahu! Sama penulis udah dikondisikan kaya' gini.", jawab Suzaku polos.
Kimihiro ngepalin tangan siap ngajakin penulis gontok-gontokan, "Bener-bener bikin gemes deh tu orang! Ga' tau kalo gue mau ngangkat jemuran apa?"
"Apa boleh buat? Kita emang dibikin ga' bawa payung kan?!", kata Lelouch sambil menggosok lengannya yang jadi dingin gara-gara kena cipratan air hujan tadi.
Suzaku yang ngeliat itu langsung ngelepas jaketnya dan menyodorkannya pada Lelouch yang bikin cowok itu bingung.
"Pake' aja! Kamu kedinginan gitu", kata Suzaku lembut.
Dan Lelouch pun menyambut jaket itu antara bingung, kaget, de-es-be.
"Makasih.", ucap Lelouch sambil merepatkan jaket Suzaku di tubuhnya.
Uke-uke yang lain pada sikut-sikutan ga' jelas karena liat adegan sinetron barusan.
"Kalo gitu nebeng sama kita aja pulangnya. Gimana?", tawar Shizuka.
"Beneran boleh?", tanya Kimihiro.
"Tapi kita bertiga nih! Emang cukup?", tanya Kamui yang sadar kalo ukuran payung yang dibawa kedua seme itu cuma muat berdua.
Seme-seme mikir sejenak.
"Kalo gitu kita nunggu yang lain aja!", kata Suzaku.
"'Yang lain'?", tanya uke-uke.
"Anak-anak OSIS masih pada rapat. Sapa tau salah satu di antara kalian bisa nebeng sama mereka gitu.", jawab Suzaku.
"Tapi aku harus buru-buru pulang nih! Ada les jam empat ntar.", Lelouch ngeliat jamnya yang udah pukul tiga lewat banyak.
"Eh!! Kok gitu? Lulu ga' asyik nih!!", Kimihiro protes lagi.
"Ya udah!", kata Kamui, "Kalian pulang duluan aja! Biar aku yang nebeng anak OSIS."
"Itu ga' mungkin! Masa' kami ninggalin kamu?", tanya Kimihiro.
"Lebih ga' mungkin lagi kalo kalian di sini cuma nemenin aku dapat barengan pulang.", jawab Kamui sabar.
"Tapi kan..."
"Udah lah! Aku ga' pa-apa.", kata Kamui lagi.
"Beneran nih?", tanya Suzaku.
Kami mengangguk sambil tersenyum.
"Ya udah kalo gitu. Kita duluan ya?!", kata Shizuka.
"Iya. Titip temen-temenku ya?!", Kamui masih setia dengan senyumnya.
"Hati-hati!", pesen Kimihiro.
"Hati-hati buat apa?", tanya Kamui heran.
"Ga' tau juga sih. Pokoknya ati-ati!", kata Kimihiro lagi.
"Oke lah! Kalian juga ati-ati!", pesen Kamui balik.
"Dagh, Kamui!", Lelouch melambaikan tangan sambil jalan duluan dan dipayungi Suzaku dengan hati-hati.
"Bye!"
"Ntar malem kutelepon!", kata Kimihiro yang jalan sepayung sama Shizuka nyusulin Lelouch.
Kamui melambai sampai sosok keempat temennya hilang setelah mereka belok kanan dari gerbang sekolah. Kemudian dia tengok kanan-kiri.
"Wahh!! Beneran cuma aku nih yang tinggal.", gumam Kamui, "Tapi tadi Shizuka bilang anak-anak OSIS lagi rapat. Nunggu lamaan dikit ga' pa-pa deh!"
Kamui menghela napas lalu jongkok. Ia memperhatikan awan yang jalan lambat-lambat di langit. Pikirannya terbang jauh.
Ga' tau kenapa mendadak langit ga' bersahabat dan turun lah hujan yang dengan ganasnya mengepung bumi. Dan parahnya, tu hujan turunnya nurutin keinginan egoisnya penulis doang!
"Matilah aku!", seru Kimihiro pas sensei udah keluar dari kelas.
"Mati kenapa?", Kamui heran.
"Jemuranku masih di luar! Alamat basah lagi deh!", jawab cowok berkacamata itu.
"Kaya'nya hujannya juga bakalan lama ini.", Kamui ngeliat langit lewat jendela kaca.
"Eh, Lulu! Nyari sapa?"
Kamui dan Kimihiro menoleh ke arah suara dan menemukan Lelouch udah di depan pintu kelas dan dihadang dua cowok yang paling usil sekelas.
"Kamui dan Kimihiro.", jawab Lelouch pendek.
"Yahh! Dari kemaren-kemaren kok cuma nyariin mereka sih? Sekali-sekali nyari kita juga dong!", Cowok berambut spike ngegoda.
"Iya nih! Ga' rugi kok kalo kamu maen sama kita-kita.", Giliran yang rambut shaggy yang dengan pede dan sok akrab ngelingkarin lengannya ke belakang leher Lelouch.
"Eh! Eh!", protes Kimihiro pas liat kelakuan si rambut shaggy, "Apa-apaan tuh tangan?"
Lelouch dan dua cowok usil tadi menoleh ke arah Kimihiro.
"Kimi sama Kamui boleh ikut juga kok kalo mau!", Malah dua cowok tadi makin semangat ngegoda.
"Ogah!!", Kimoihiro nolak dengan judes, "Turunin ga' tu tangan?!", Ancem Kimihiro pake' acara nunjuk-nunjuk.
"Kimi serem nih!", Akhirnya si rambut shaggy ngelepasin tangannya, "Tapi tetep cantik kok!"
Kimihiro mencibir sambil mengawasi dua cowok tadi keluar kelas setelah sebelumnya dengan genit mereka ngasih salam perpisahan ke tiga uke tadi.
Kamui ketawa aja liat kelakuan Kimihiro.
"Kamui nih! Ketawa aja! Bukannya bantuin!", Kimihiro cemberut.
"Mereka kan udah takut pas kamu judesin.", Kamui masih nahan ketawa sementara Kimihiro masih ngambek.
"Pulang yuk?!", ajak Lelouch yang masih bediri di pintu kelas X-B.
"Yukk?! Cemberut mulu! Jelek tau!", goda Kamui sambil ngegandeng tangan Kimihiro keluar kelas.
Dan mereka bertiga pun jalan ke ruang loker yang ada di deket pintu keluar gedung.
"Gimana pulangnya nih?", tanya Lelouch.
"Ga' tau juga! Aku ga' bawa payung ini.", Kamui mengganti sepatunya.
"Terpaksa nunggu sampe' agak reda!" kata Kimihiro.
Jadilah, setelah mereka selesai berurusan dengan ruang loker, mereka bediri di halaman sekolah *yang masih terlindungi genteng* sambil ngedumel.
"Ah, penulis rese' nih! Ga' bilang-bilang kalo mau bikin adegan ujan-ujanan!", kata Kimihiro.
"Mana dia ga' pernah mau disalahin lagi kalo aktor-aktor fict-nya pada protes!", Kamui maenin air hujan dengan tangannya.
"Kejamnya lagi, cuma kita bertiga aja yang diceritain tinggal di sekolah ini.", lanjut Kimihiro.
"Sepertinya ada udang di balik batu!", kata Lelouch sambil mengelap tangannya dari cipratan air hujan.
Lalu terdengarlah suara langkah kaki di belakang tiga uke tadi. Mereka balik kanan dan melihat ada dua cowok yang udah familiar buat mereka lagi jalan mendekat.
"Shizuka!"
"Suzaku!"
Yang dipanggil cuma senyum. Tapi yang senyum cuma Suzaku doang sih. Shizuka-nya cuma manggut sekali.
"Belum pulang?", tanya Kimihiro.
"Kalo masih di sini artinya belum pulang dong!", jawab Suzaku yang masih mempertahankan senyumnya yang sebenernya cuma tertuju buat Lelouch seorang.
Uke-uke manggut-manggut polos. Lalu perhatian uke-uke tertuju pada tangan kedua seme tadi. Dan dia langsung pasang tampang sebel.
"Kok kalian udah bawa payung aja sih?", protes Kimihiro.
Shizuka dan Suzaku ngelirik payung di pegangan masing-masing, trus saling pandang sebentar trus balik liatin para uke sambil angkat bahu.
"Ga' tahu! Sama penulis udah dikondisikan kaya' gini.", jawab Suzaku polos.
Kimihiro ngepalin tangan siap ngajakin penulis gontok-gontokan, "Bener-bener bikin gemes deh tu orang! Ga' tau kalo gue mau ngangkat jemuran apa?"
"Apa boleh buat? Kita emang dibikin ga' bawa payung kan?!", kata Lelouch sambil menggosok lengannya yang jadi dingin gara-gara kena cipratan air hujan tadi.
Suzaku yang ngeliat itu langsung ngelepas jaketnya dan menyodorkannya pada Lelouch yang bikin cowok itu bingung.
"Pake' aja! Kamu kedinginan gitu", kata Suzaku lembut.
Dan Lelouch pun menyambut jaket itu antara bingung, kaget, de-es-be.
"Makasih.", ucap Lelouch sambil merepatkan jaket Suzaku di tubuhnya.
Uke-uke yang lain pada sikut-sikutan ga' jelas karena liat adegan sinetron barusan.
"Kalo gitu nebeng sama kita aja pulangnya. Gimana?", tawar Shizuka.
"Beneran boleh?", tanya Kimihiro.
"Tapi kita bertiga nih! Emang cukup?", tanya Kamui yang sadar kalo ukuran payung yang dibawa kedua seme itu cuma muat berdua.
Seme-seme mikir sejenak.
"Kalo gitu kita nunggu yang lain aja!", kata Suzaku.
"'Yang lain'?", tanya uke-uke.
"Anak-anak OSIS masih pada rapat. Sapa tau salah satu di antara kalian bisa nebeng sama mereka gitu.", jawab Suzaku.
"Tapi aku harus buru-buru pulang nih! Ada les jam empat ntar.", Lelouch ngeliat jamnya yang udah pukul tiga lewat banyak.
"Eh!! Kok gitu? Lulu ga' asyik nih!!", Kimihiro protes lagi.
"Ya udah!", kata Kamui, "Kalian pulang duluan aja! Biar aku yang nebeng anak OSIS."
"Itu ga' mungkin! Masa' kami ninggalin kamu?", tanya Kimihiro.
"Lebih ga' mungkin lagi kalo kalian di sini cuma nemenin aku dapat barengan pulang.", jawab Kamui sabar.
"Tapi kan..."
"Udah lah! Aku ga' pa-apa.", kata Kamui lagi.
"Beneran nih?", tanya Suzaku.
Kami mengangguk sambil tersenyum.
"Ya udah kalo gitu. Kita duluan ya?!", kata Shizuka.
"Iya. Titip temen-temenku ya?!", Kamui masih setia dengan senyumnya.
"Hati-hati!", pesen Kimihiro.
"Hati-hati buat apa?", tanya Kamui heran.
"Ga' tau juga sih. Pokoknya ati-ati!", kata Kimihiro lagi.
"Oke lah! Kalian juga ati-ati!", pesen Kamui balik.
"Dagh, Kamui!", Lelouch melambaikan tangan sambil jalan duluan dan dipayungi Suzaku dengan hati-hati.
"Bye!"
"Ntar malem kutelepon!", kata Kimihiro yang jalan sepayung sama Shizuka nyusulin Lelouch.
Kamui melambai sampai sosok keempat temennya hilang setelah mereka belok kanan dari gerbang sekolah. Kemudian dia tengok kanan-kiri.
"Wahh!! Beneran cuma aku nih yang tinggal.", gumam Kamui, "Tapi tadi Shizuka bilang anak-anak OSIS lagi rapat. Nunggu lamaan dikit ga' pa-pa deh!"
Kamui menghela napas lalu jongkok. Ia memperhatikan awan yang jalan lambat-lambat di langit. Pikirannya terbang jauh.
+ + + + + + + + + + + + +
"Ahh! Capekk!!", keluh Kazahaya begitu keluar dari ruang rapat sambil mijit-mijit tengkuknya.
"Perasaan kerjaan lo di dalem tadi cuma kipas0kipas doang! Bisa capek juga?", sindir Fuuma.
"Eh, gue kasiih tau ya?! Gini-gini juga gue tadi udah bolak-balik ruang kepsek sama Touya.", Kazahaya kumat sewotnya.
"Tugas kamu jadi wakil ketua OSIS kan?! Kalo ga' mau ya tukeran jabatan sama aku aja!", celetuk Rikuou.
"Ini lagi! Bukannya belain malah ikutan rese'!", Kazahaya tambah sebel.
"Udah! Udah!", lerai Touya dan yukito barangan.
"Semua sama-sama capek. Mending sekarang kita cepet pulang trus istirahat.", kata Touya lagi.
"Tapi kok tiba-tiba hujan ya?! Perasaan tadi cerah-cerah aja!", Yukito ngeliat langit yang putih pucat.
"Untung selalu sedia jas hujan di dalem jok motor.", kata Fuuma.
"Kamu bawa ga?", tanya Yukito pada Touya,
"Kaya'nya bawa sih.", jawab ketua OSIS itu sambil mengingat-ingat.
"Kamu bawa ga'?", giliran Kazahaya yang tanya ke Rikuou.
"Tenang! Tadi penulis udah ngasih tau aku kalo mau bikin adegan ujan-ujanan. Jadi aku disuruh bawa jas hujan.", jawab Rikuou mantep.
"Lo kenal deket sama penulis?", tanya Fuuma.
"Not really. Emang kenapa?", tanya Rikuou balik.
"Enggak! Cuma mau tanya ke dia, apa gue bisa jadi pemeran utama di fict dia lagi kalo ni cerita udah kelar."
"Ngarep lo, Fum!", kata Touya.
"Tapi ati-ati aja!", kata Rikuou tiba-tiba, "Tampang penulis emang childish, tapi kelakuannya ga' jelas. Salah-salah uke kita diembat!", Dan serta-merta Rikuou meluk Kazahaya dari belakang.
"Eh! Apaan nih?", tanya Kazahaya kaget dipeluk Rikuou yang lengannya gede dan berotot itu.
"Ngomong-ngomong soal uke, gimana ceritanya lo sama si Shirou, Fum?", tanya Touya.
"Kamui?", Lalu Fuuma senyum-senyum ga' jelas, "Menurut lo?"
"Yee! Ditanyain balik nanya!", Touya manyun.
"Yaaa, kalo gue sih suka-suka aja sama dia.", jawab Fuuma.
"Ga' ada! Ga' ada!", protes Kazahaya yang masih di pelukan Rikuou, "Mana bisa gue rela kalo Kamui sama kodok loncat kaya' dia?"
"Maksud lo dengan 'kodok loncat'?", Fuuma kesindir.
"Gue ga' mau kalo sampe' Kamui jadian sama lo!", Kazahaya nunjuk hidung Fuuma.
"Emang lo sapanya Kamui?", tantang Fuuma.
"Gue temennya. Dan sebagai temen, gue mau yang terbaek untuk Kamui!"
Kazahaya dan Fuuma udah saling beradu kilat lewat mata aja.
"Sekarang, ngomong-ngomong soal Kamui, itu dia bukan?", tanya Yukito yang bikin aksi Kazahaya dan Fuuma terhenti.
Semua menengok ke arah yang ditunjuk Yukito. Dan emang bener. Mereka ngeliat Kamui lagi jongkok sambil menatap langit di halaman sekolah.
"Tu anak ngapain ngelamun ga' jelas di situ?", tanya Kazahaya jinjit-jinjit ngeliat posisi Kamui karena kehalang badan gede Rikuou.
"Sendirian pula. Kimi sama Lulu mana ya?!", lanjut Yuklito.
"Dari pada saling bertanya-tanya di sisni, gimana kalo kita samperin aja tu anak?!", usul Rikuou.
"Bener juga!", kata Kazahaya yang langsung menyingkirkan lengan Kazahaya dari lehernya, "Minggir dulu deh, Rik!"
Dan sambil menggandeng Yukito, uke rambut coklat itu mendatangi Kamui disusul para seme.
"Kamui!", panggil Kazahaya dan Yukito barengan.
Kamui kaget pas ada yang manggil namanya. Ia menoleh dan melihat Kazahaya dan yang lain mendekat.
"Oh! Hei!!", Kamui berdiri.
"Sendirian aja?", tanay Yukito.
"He'eh! Kimi sama Lulu udah pulang bareng Shizuka dan Suzaku.", jawab Kamui.
"Kok kamu ga' ikut pulang?", tanya Kazahaya.
"Aku ga' bawa payung. Lagian payung Shizuka sama Suzaku tadi cuma muat untuk dua orang aja. Makanya aku nunggu kalian, sekalian mau nebeng mobil Kazahaya. Hehehe...", Kamui nyengir.
"Wahh! Maaf, Kamui! Kemaren, tu mobil aku masukin bengkel karena ada sisi bodi yang lecet.", kata Kazahaya.
"Trus?", tanya Kamui.
"Ya hari ini aku bareng Rikuou."
"Kalo Yuki?", Kamui ngarep.
"Aku sama Touya. Kaya' biasanya.", jawab Yukito sambil senyum.
"Walahh!! Berarti aku harus nunggu sampe' hujannya reda ini.", Kamui ngeliat langit untuk kesekian kali.
"Gimana kalo pulangnya bareng aku?", usul Fuuma.
Semua menoleh ke seme tampan itu dengan berbagai ekspresi. Touya dan Yukito menatap Fuuma sambil mikir. Kazahaya liatin Fuuma seakan mau bilang, "Apa lo bilang?". Kamui cuma bisa kaget. Dan Rikuou mandangin Fuuma sambil berwajah curiga.
"Lo liat gue kaya' gue suka nyulik anak orang aja!" protes Fuuma ke Rikuou.
"Emang lo ada tampang, Fum!", Rikuou asal.
"Anjir lo!", umpat Fuuma.
"Ya udah! Bareng Fuuma aja deh!", kata Touya ke Kamui.
"Hemm....", Kamui mikir.
"Dari pada nungguin hujan yang ga' jelas kapan redanya kaya' gini?", lanjut Yukito.
Kamui ngeliat Fuuma lagi. Sementara yang dilihat cuma ngangkat dua alis sambil nungguin keputusan Kamui.
"Ya udah.", kata Kamui akhirnya.
Dan Fuuma pun langsung bersorak ala orang dapet undian satu milyar yang bikin semua orang illfeel.
"Yeahhhh!! Wuhhuuuuu!!", tereaknya sambil ninju-ninju tangan ke udara.
"Biasa aja lah, Fum!", Kazahaya liatin Fuuma dengan tatapan mencela.
"Seneng boleh dong?!", Fuuma ngebela diri.
"Tapi ga' usah segitunya! Kaya' orang kena ayan aja lo!", tambah Rikuou.
"Lagian gue juga belum seratus persen rela Kamui bareng elo!", lanjut Kazahaya.
"Suka-suka lo! Yang penting Kamui mau bareng sama gue ini.", Fuuma ngejekin Kazahaya yang bikin uke itu tambah sebel.
"Tapi emang lo tau di mana rumahnya Kamui, Fum?"
Fuuma langsung diem, "Belum sih!"
Langsung aja semua seme ngejitak dia.
"Eee..nanti aku kasih tau arahnya deh!", kata Kamui.
"Ya udah! Sekarang kan udah clear nih masalah pulangnya. Gimana kalo kita jalan sekarang aja? Aku mau ketemu pelatih sepak bola juga nih!", kata Touya.
"Oke lah! Kaza! Pulang juga yuk?!", ajak Rikuou.
"Awas kalo lo macem-macemin Kamui!", ancam Kazahaya.
"Astagahh, Kaza! Segitu bencinya lo sama gue!", akhirnya Fuuma melas juga disirikin sama Kazahaya terus.
Semua yang ada di situ ketawa. Kemudian para seme saling toast ala anak SMA lalu menggandeng uke masing-masing lari-lari kecil ke parkiran tempat motor-motor mereka nangkring manis.
"Siniin tas kamu!", kata Fuuma ke Kamui begitu mereka udah berdiri di samping motor Fuuma. Dan dengan patuh Kamui menyerahkan tasnya ke Fuuma.
Fuuma membuka jok motornya dan mengeluarkan jas hujan lalu meletakkan tasnya dan milik Kamui di dalem jok.
Dengan cepat Fuuma memakai jas hujan kemudian mulai menaiki motor.
"Ayo!", kata Fuuma sambil mengunci helm-nya.
Kamui mengangguk lalu naik di belakang Fuuma.
"Agak deket aja biar kamu masih kebagian jas hujannya!", kata Fuuma lagi.
Kamui pun mendekat ke punggung Fuuma dan melindungi diri dengan jas hujan.
Fuuma menyalakan mesin dan dengan hati-hati melajukan motornya dengan kecepatan standar. Sementara di belakangnya, tanpa Fuuma tahu, Kamui jadi deg-degan ga' jelas. Terutama saat aroma parfum Fuuma tercium. Kamui tersenyum sendiri lalu diam-diam lebih mendekatkan diri pada Fuuma.
"Perasaan kerjaan lo di dalem tadi cuma kipas0kipas doang! Bisa capek juga?", sindir Fuuma.
"Eh, gue kasiih tau ya?! Gini-gini juga gue tadi udah bolak-balik ruang kepsek sama Touya.", Kazahaya kumat sewotnya.
"Tugas kamu jadi wakil ketua OSIS kan?! Kalo ga' mau ya tukeran jabatan sama aku aja!", celetuk Rikuou.
"Ini lagi! Bukannya belain malah ikutan rese'!", Kazahaya tambah sebel.
"Udah! Udah!", lerai Touya dan yukito barangan.
"Semua sama-sama capek. Mending sekarang kita cepet pulang trus istirahat.", kata Touya lagi.
"Tapi kok tiba-tiba hujan ya?! Perasaan tadi cerah-cerah aja!", Yukito ngeliat langit yang putih pucat.
"Untung selalu sedia jas hujan di dalem jok motor.", kata Fuuma.
"Kamu bawa ga?", tanya Yukito pada Touya,
"Kaya'nya bawa sih.", jawab ketua OSIS itu sambil mengingat-ingat.
"Kamu bawa ga'?", giliran Kazahaya yang tanya ke Rikuou.
"Tenang! Tadi penulis udah ngasih tau aku kalo mau bikin adegan ujan-ujanan. Jadi aku disuruh bawa jas hujan.", jawab Rikuou mantep.
"Lo kenal deket sama penulis?", tanya Fuuma.
"Not really. Emang kenapa?", tanya Rikuou balik.
"Enggak! Cuma mau tanya ke dia, apa gue bisa jadi pemeran utama di fict dia lagi kalo ni cerita udah kelar."
"Ngarep lo, Fum!", kata Touya.
"Tapi ati-ati aja!", kata Rikuou tiba-tiba, "Tampang penulis emang childish, tapi kelakuannya ga' jelas. Salah-salah uke kita diembat!", Dan serta-merta Rikuou meluk Kazahaya dari belakang.
"Eh! Apaan nih?", tanya Kazahaya kaget dipeluk Rikuou yang lengannya gede dan berotot itu.
"Ngomong-ngomong soal uke, gimana ceritanya lo sama si Shirou, Fum?", tanya Touya.
"Kamui?", Lalu Fuuma senyum-senyum ga' jelas, "Menurut lo?"
"Yee! Ditanyain balik nanya!", Touya manyun.
"Yaaa, kalo gue sih suka-suka aja sama dia.", jawab Fuuma.
"Ga' ada! Ga' ada!", protes Kazahaya yang masih di pelukan Rikuou, "Mana bisa gue rela kalo Kamui sama kodok loncat kaya' dia?"
"Maksud lo dengan 'kodok loncat'?", Fuuma kesindir.
"Gue ga' mau kalo sampe' Kamui jadian sama lo!", Kazahaya nunjuk hidung Fuuma.
"Emang lo sapanya Kamui?", tantang Fuuma.
"Gue temennya. Dan sebagai temen, gue mau yang terbaek untuk Kamui!"
Kazahaya dan Fuuma udah saling beradu kilat lewat mata aja.
"Sekarang, ngomong-ngomong soal Kamui, itu dia bukan?", tanya Yukito yang bikin aksi Kazahaya dan Fuuma terhenti.
Semua menengok ke arah yang ditunjuk Yukito. Dan emang bener. Mereka ngeliat Kamui lagi jongkok sambil menatap langit di halaman sekolah.
"Tu anak ngapain ngelamun ga' jelas di situ?", tanya Kazahaya jinjit-jinjit ngeliat posisi Kamui karena kehalang badan gede Rikuou.
"Sendirian pula. Kimi sama Lulu mana ya?!", lanjut Yuklito.
"Dari pada saling bertanya-tanya di sisni, gimana kalo kita samperin aja tu anak?!", usul Rikuou.
"Bener juga!", kata Kazahaya yang langsung menyingkirkan lengan Kazahaya dari lehernya, "Minggir dulu deh, Rik!"
Dan sambil menggandeng Yukito, uke rambut coklat itu mendatangi Kamui disusul para seme.
"Kamui!", panggil Kazahaya dan Yukito barengan.
Kamui kaget pas ada yang manggil namanya. Ia menoleh dan melihat Kazahaya dan yang lain mendekat.
"Oh! Hei!!", Kamui berdiri.
"Sendirian aja?", tanay Yukito.
"He'eh! Kimi sama Lulu udah pulang bareng Shizuka dan Suzaku.", jawab Kamui.
"Kok kamu ga' ikut pulang?", tanya Kazahaya.
"Aku ga' bawa payung. Lagian payung Shizuka sama Suzaku tadi cuma muat untuk dua orang aja. Makanya aku nunggu kalian, sekalian mau nebeng mobil Kazahaya. Hehehe...", Kamui nyengir.
"Wahh! Maaf, Kamui! Kemaren, tu mobil aku masukin bengkel karena ada sisi bodi yang lecet.", kata Kazahaya.
"Trus?", tanya Kamui.
"Ya hari ini aku bareng Rikuou."
"Kalo Yuki?", Kamui ngarep.
"Aku sama Touya. Kaya' biasanya.", jawab Yukito sambil senyum.
"Walahh!! Berarti aku harus nunggu sampe' hujannya reda ini.", Kamui ngeliat langit untuk kesekian kali.
"Gimana kalo pulangnya bareng aku?", usul Fuuma.
Semua menoleh ke seme tampan itu dengan berbagai ekspresi. Touya dan Yukito menatap Fuuma sambil mikir. Kazahaya liatin Fuuma seakan mau bilang, "Apa lo bilang?". Kamui cuma bisa kaget. Dan Rikuou mandangin Fuuma sambil berwajah curiga.
"Lo liat gue kaya' gue suka nyulik anak orang aja!" protes Fuuma ke Rikuou.
"Emang lo ada tampang, Fum!", Rikuou asal.
"Anjir lo!", umpat Fuuma.
"Ya udah! Bareng Fuuma aja deh!", kata Touya ke Kamui.
"Hemm....", Kamui mikir.
"Dari pada nungguin hujan yang ga' jelas kapan redanya kaya' gini?", lanjut Yukito.
Kamui ngeliat Fuuma lagi. Sementara yang dilihat cuma ngangkat dua alis sambil nungguin keputusan Kamui.
"Ya udah.", kata Kamui akhirnya.
Dan Fuuma pun langsung bersorak ala orang dapet undian satu milyar yang bikin semua orang illfeel.
"Yeahhhh!! Wuhhuuuuu!!", tereaknya sambil ninju-ninju tangan ke udara.
"Biasa aja lah, Fum!", Kazahaya liatin Fuuma dengan tatapan mencela.
"Seneng boleh dong?!", Fuuma ngebela diri.
"Tapi ga' usah segitunya! Kaya' orang kena ayan aja lo!", tambah Rikuou.
"Lagian gue juga belum seratus persen rela Kamui bareng elo!", lanjut Kazahaya.
"Suka-suka lo! Yang penting Kamui mau bareng sama gue ini.", Fuuma ngejekin Kazahaya yang bikin uke itu tambah sebel.
"Tapi emang lo tau di mana rumahnya Kamui, Fum?"
Fuuma langsung diem, "Belum sih!"
Langsung aja semua seme ngejitak dia.
"Eee..nanti aku kasih tau arahnya deh!", kata Kamui.
"Ya udah! Sekarang kan udah clear nih masalah pulangnya. Gimana kalo kita jalan sekarang aja? Aku mau ketemu pelatih sepak bola juga nih!", kata Touya.
"Oke lah! Kaza! Pulang juga yuk?!", ajak Rikuou.
"Awas kalo lo macem-macemin Kamui!", ancam Kazahaya.
"Astagahh, Kaza! Segitu bencinya lo sama gue!", akhirnya Fuuma melas juga disirikin sama Kazahaya terus.
Semua yang ada di situ ketawa. Kemudian para seme saling toast ala anak SMA lalu menggandeng uke masing-masing lari-lari kecil ke parkiran tempat motor-motor mereka nangkring manis.
"Siniin tas kamu!", kata Fuuma ke Kamui begitu mereka udah berdiri di samping motor Fuuma. Dan dengan patuh Kamui menyerahkan tasnya ke Fuuma.
Fuuma membuka jok motornya dan mengeluarkan jas hujan lalu meletakkan tasnya dan milik Kamui di dalem jok.
Dengan cepat Fuuma memakai jas hujan kemudian mulai menaiki motor.
"Ayo!", kata Fuuma sambil mengunci helm-nya.
Kamui mengangguk lalu naik di belakang Fuuma.
"Agak deket aja biar kamu masih kebagian jas hujannya!", kata Fuuma lagi.
Kamui pun mendekat ke punggung Fuuma dan melindungi diri dengan jas hujan.
Fuuma menyalakan mesin dan dengan hati-hati melajukan motornya dengan kecepatan standar. Sementara di belakangnya, tanpa Fuuma tahu, Kamui jadi deg-degan ga' jelas. Terutama saat aroma parfum Fuuma tercium. Kamui tersenyum sendiri lalu diam-diam lebih mendekatkan diri pada Fuuma.
+ + + + + + + + + + + + +
"Yuk masuk!", ajak Kamui begitu membuka pintu apartemennya.
Fuuma senyum sungkan tapi tetep masuk. Begitu Kamui menutup pintu apartemennya, Fuuma langsung mengedarkan pandangan ke seluruh ruang tamu.
"Kenapa?", tanya Kamui.
"Enggak! Rumah kamu bagus.", Jawabannya yang ga' banget.
"Ohh!", Kamui mesem.
"Tunnggu sebentar ya?! Aku ambilkan handuk dulu.", kata Kamui.
Fuuma mengangguk dan memperhatikan Kamui yang beranjak masuk. Dan sambil nunggu, dia duduk di sofa single dan kembali memperhatikan ruang tamu itu. Lalu pandangannya terhenti pada foto di buffet dekat sofa itu. Ada pigura dengan foto perempuan muda yang cantik sekali. Dan ngeliat itu, Fuuma langsung melotot.
Perasaannya campur aduk. Ternyata Kamui yang dia suka sudah punya seseorang di hatinya. Fuuma merasa saat itu hati terasa ditusuk. Sakit yang hanya ia sendiri yang tahu. Dalam detik itu juga Fuuma tahu kalau Kamui tak akan jadi miliknya.
"Ini handuknya!", Kamui masuk ruang tamu lagi yang bikin Fuuma kaget.
"Thank's!", Fuuma nerima handuk dari tangan Kamui dengan muka ditekuk.
"Aku lagi masak air. Mandi di sini saja sekalian.", tawar Kamui.
Tapi Fuuma berdiri. Ia tak sanggup berada di tempat itu lebih lama.
"Sorry, Kamui! Tapi aku harus pulang!", kata Fuuma lirih.
"Ehh? Ga' bisa! Pokoknya mandi dulu di sini!", Kamui menahan Fuuma atau lebih tepatnya memerintah agar Fuuma tetap tinggal di situ.
"Jangan kemana-mana!", perintah Kamui lagi yang kembali beranjak ke dalem.
Fuuma ga' tau mesti ngapain sekarang. Ia diam sambil menunduk sebentar. Lalu ia mendekati buffet tempat foto wanita cantik itu berada. Fuuma meraih pigura itu dan memperhatikan gambar wanita yang telah merebut Kamui darinya.
"Cantik kan?!", Lagi-lagi Kamui muncul dan mengagetkan Fuuma. Di kedua tangannya ada dua cangkir yang dari baunya bisa ditebak kalo itu coklat panas.
"Ah, enggak!", Fuuma buru-buru meletakkan pigura itu ke tempatnya lagi.
"Bilang aja kalo kamu juga suka sama dia!", canda Kamui.
"Enggak kok!", sanggah Fuuma.
"Ga' papa kalo kamu suka dia.", Kamui meletakkan cangkir coklat Fuuma di meja dan meminum coklat miliknya. Ia menatap Fuuma lagi setelah menelan coklat di mulutnya, "Ibuku memang cantik kok!"
Fuuma melotot lagi.
"Kamu kenapa melotot begitu?", Kamui heran.
"Kamu bilang apa tadi?", tanya Fuuma.
"Bilang apa?", tanya Kamui balik.
"Wanita ini siapa?"
"Ibuku."
Satu detik. Dua detik. Dan setelah lima detik kemudian Fuuma langsung cengok karena salah kira.
"Kenapa? Kamu kira dia pacarku?!", tebak Kamui.
Fuuma mengangguk bego'. Dan Kamui pun tertawa.
"Ada-ada aja!", Kamui menyeka air mata di suduut matanya, "Sepertinya bath tub-nya sudah penuh. Kamu mandi duluan deh!"
Fuuma mengangguk lagi. Dan cuma ngekor Kamui ke arah kamar mandi.
Fuuma senyum sungkan tapi tetep masuk. Begitu Kamui menutup pintu apartemennya, Fuuma langsung mengedarkan pandangan ke seluruh ruang tamu.
"Kenapa?", tanya Kamui.
"Enggak! Rumah kamu bagus.", Jawabannya yang ga' banget.
"Ohh!", Kamui mesem.
"Tunnggu sebentar ya?! Aku ambilkan handuk dulu.", kata Kamui.
Fuuma mengangguk dan memperhatikan Kamui yang beranjak masuk. Dan sambil nunggu, dia duduk di sofa single dan kembali memperhatikan ruang tamu itu. Lalu pandangannya terhenti pada foto di buffet dekat sofa itu. Ada pigura dengan foto perempuan muda yang cantik sekali. Dan ngeliat itu, Fuuma langsung melotot.
Perasaannya campur aduk. Ternyata Kamui yang dia suka sudah punya seseorang di hatinya. Fuuma merasa saat itu hati terasa ditusuk. Sakit yang hanya ia sendiri yang tahu. Dalam detik itu juga Fuuma tahu kalau Kamui tak akan jadi miliknya.
"Ini handuknya!", Kamui masuk ruang tamu lagi yang bikin Fuuma kaget.
"Thank's!", Fuuma nerima handuk dari tangan Kamui dengan muka ditekuk.
"Aku lagi masak air. Mandi di sini saja sekalian.", tawar Kamui.
Tapi Fuuma berdiri. Ia tak sanggup berada di tempat itu lebih lama.
"Sorry, Kamui! Tapi aku harus pulang!", kata Fuuma lirih.
"Ehh? Ga' bisa! Pokoknya mandi dulu di sini!", Kamui menahan Fuuma atau lebih tepatnya memerintah agar Fuuma tetap tinggal di situ.
"Jangan kemana-mana!", perintah Kamui lagi yang kembali beranjak ke dalem.
Fuuma ga' tau mesti ngapain sekarang. Ia diam sambil menunduk sebentar. Lalu ia mendekati buffet tempat foto wanita cantik itu berada. Fuuma meraih pigura itu dan memperhatikan gambar wanita yang telah merebut Kamui darinya.
"Cantik kan?!", Lagi-lagi Kamui muncul dan mengagetkan Fuuma. Di kedua tangannya ada dua cangkir yang dari baunya bisa ditebak kalo itu coklat panas.
"Ah, enggak!", Fuuma buru-buru meletakkan pigura itu ke tempatnya lagi.
"Bilang aja kalo kamu juga suka sama dia!", canda Kamui.
"Enggak kok!", sanggah Fuuma.
"Ga' papa kalo kamu suka dia.", Kamui meletakkan cangkir coklat Fuuma di meja dan meminum coklat miliknya. Ia menatap Fuuma lagi setelah menelan coklat di mulutnya, "Ibuku memang cantik kok!"
Fuuma melotot lagi.
"Kamu kenapa melotot begitu?", Kamui heran.
"Kamu bilang apa tadi?", tanya Fuuma.
"Bilang apa?", tanya Kamui balik.
"Wanita ini siapa?"
"Ibuku."
Satu detik. Dua detik. Dan setelah lima detik kemudian Fuuma langsung cengok karena salah kira.
"Kenapa? Kamu kira dia pacarku?!", tebak Kamui.
Fuuma mengangguk bego'. Dan Kamui pun tertawa.
"Ada-ada aja!", Kamui menyeka air mata di suduut matanya, "Sepertinya bath tub-nya sudah penuh. Kamu mandi duluan deh!"
Fuuma mengangguk lagi. Dan cuma ngekor Kamui ke arah kamar mandi.
+ + + + + + + + + + + + +
"Sori banget ya?! Bajuku kecil semua!", kata Kamui yang ngeliat baju ganti yang ia tawarkan keliatan sesak dipake' Fuuma.
"Ga' papa! Masih muat kok!", Fuuma nyengir maksa.
Kamui juga ikut senyum maksa. Lalu keduanya terdiam. Agak lama, sampai.....
"Sekarang udah boleh pulang kan?!", tanya Fuuma.
Kamui mengangguk.
"Makasih buat coklat panasnya.", kata Fuuma.
"Aku yang harus berterima kasih karena kamu udah nganterin aku.", ujar Kamui.
"Sama-sama."
Dan mereka diem-dieman ga' jelas lagi. Pandang-pandangan trus ketawa. Diem. Pandang-pandangan. Ketawa. Terus kaya' gitu kalo penulis kagak ngejitak mereka.
"Pulang dulu ya?!", kata Fuuma akhirnya.
"Iya.", Kamui nemenin Fuuma sampe' depan pintu.
Dan di depan pintu....
"Kapan-kapan boleh main ke sini lagi kan?", tanya Kamui.
Kamui rada kaget dan terbata, "Eeeee..."
"Ga' boleh?"
"Bukan gitu!", sahut Kamui cepat, "Cuma...."
"Apa?"
"Enggak!", Kamui jadi aneh.
Fuuma senyum heran, "Ya udah lah! Ga' usah dipikir segitunya!"
Kamui mengangguk ga' enak.
"Dahh!", kata Fuuma.
"Daahh!!", balas Kamui.
Dan Fuuma pun dengan gaya keren beranjak dari apartemen Kamui. Sementara Kamui-nya cuma ngeliatin punggung Fuuma dengan perasaan manis-asem-asin-rame rasanya. Dan sebelum ia sadar, ia sudah lari dengan telanjang kaki nyusulin Fuuma yang mau masuk lift.
Pas saat lift mau menutup, Kamui menahan pintu besi itu yang bikin semua orang yang ada di dalem lift, terutama Fuuma, jadi kaget.
"Lain kali main ke sini lagi ya?!", kata Kamui mantap.
Fuuma bengong bentar lalu tersenyum dengan sangat tampan *huahahaha, penulis nose-bleed kalo ingat senyumnya Fuuma* .
"Oke!", jawab Fuuma.
Kamui ikutan mesem dan menghela napas lega.
"Sekarang.....kami boleh turun kan?!", celetuk salah satu bapak-bapak di dalam lift.
"Oh...maaf!", Kamui menyingkirkan tangannya yang menahan pintu besi.
Fuuma tersenyum geli liat kelakuan Kamui. Sementara Kamui-nya malu abis.
"Aku bener-bener pulang sekarang!", kata Fuuma sambil mencet tombol untuk menutup pintu besi.
"Iya. Hati-hati!"
Dan Fuuma tetap tersenyum sampai lift menutup. Kamui yang masih berdiri sendirian di lorong perlahan tersenyum. Senyum yang apabila orang di seluruh dunia melihatnya, mereka akan tahu kalo sekarang Kamui sedang jatuh cinta.
"Sori banget ya?! Bajuku kecil semua!", kata Kamui yang ngeliat baju ganti yang ia tawarkan keliatan sesak dipake' Fuuma.
"Ga' papa! Masih muat kok!", Fuuma nyengir maksa.
Kamui juga ikut senyum maksa. Lalu keduanya terdiam. Agak lama, sampai.....
"Sekarang udah boleh pulang kan?!", tanya Fuuma.
Kamui mengangguk.
"Makasih buat coklat panasnya.", kata Fuuma.
"Aku yang harus berterima kasih karena kamu udah nganterin aku.", ujar Kamui.
"Sama-sama."
Dan mereka diem-dieman ga' jelas lagi. Pandang-pandangan trus ketawa. Diem. Pandang-pandangan. Ketawa. Terus kaya' gitu kalo penulis kagak ngejitak mereka.
"Pulang dulu ya?!", kata Fuuma akhirnya.
"Iya.", Kamui nemenin Fuuma sampe' depan pintu.
Dan di depan pintu....
"Kapan-kapan boleh main ke sini lagi kan?", tanya Kamui.
Kamui rada kaget dan terbata, "Eeeee..."
"Ga' boleh?"
"Bukan gitu!", sahut Kamui cepat, "Cuma...."
"Apa?"
"Enggak!", Kamui jadi aneh.
Fuuma senyum heran, "Ya udah lah! Ga' usah dipikir segitunya!"
Kamui mengangguk ga' enak.
"Dahh!", kata Fuuma.
"Daahh!!", balas Kamui.
Dan Fuuma pun dengan gaya keren beranjak dari apartemen Kamui. Sementara Kamui-nya cuma ngeliatin punggung Fuuma dengan perasaan manis-asem-asin-rame rasanya. Dan sebelum ia sadar, ia sudah lari dengan telanjang kaki nyusulin Fuuma yang mau masuk lift.
Pas saat lift mau menutup, Kamui menahan pintu besi itu yang bikin semua orang yang ada di dalem lift, terutama Fuuma, jadi kaget.
"Lain kali main ke sini lagi ya?!", kata Kamui mantap.
Fuuma bengong bentar lalu tersenyum dengan sangat tampan *huahahaha, penulis nose-bleed kalo ingat senyumnya Fuuma* .
"Oke!", jawab Fuuma.
Kamui ikutan mesem dan menghela napas lega.
"Sekarang.....kami boleh turun kan?!", celetuk salah satu bapak-bapak di dalam lift.
"Oh...maaf!", Kamui menyingkirkan tangannya yang menahan pintu besi.
Fuuma tersenyum geli liat kelakuan Kamui. Sementara Kamui-nya malu abis.
"Aku bener-bener pulang sekarang!", kata Fuuma sambil mencet tombol untuk menutup pintu besi.
"Iya. Hati-hati!"
Dan Fuuma tetap tersenyum sampai lift menutup. Kamui yang masih berdiri sendirian di lorong perlahan tersenyum. Senyum yang apabila orang di seluruh dunia melihatnya, mereka akan tahu kalo sekarang Kamui sedang jatuh cinta.
-- To be continue --
______________________________________________________________________
______________________________________________________________________
Kamui : Sumpe lo, gue lo bikin jatuh cinta sama Fuuma? *protes*
Hehehe... Akhirnya bisa apdet juga!! Maunya sih dipost natalan kemaren, tapi ga' bisa. Tahun baru jaga ternyata ada insiden besar yang bikin saya ga' bisa posting.
Tapi sekarang udah lega karena chapter 4 udah masuk blogspot! Makasih banyak buat semua komen. Tetep kasih saran-kritik ya?! Dan untuk selanjutnya, di chapter depan, bakal ada tokoh baru yang muncul. Sapa dia? Tunggu di chapter 5 ya?!
Ga' terima FLAME!!!!!!!
Hehehe... Akhirnya bisa apdet juga!! Maunya sih dipost natalan kemaren, tapi ga' bisa. Tahun baru jaga ternyata ada insiden besar yang bikin saya ga' bisa posting.
Tapi sekarang udah lega karena chapter 4 udah masuk blogspot! Makasih banyak buat semua komen. Tetep kasih saran-kritik ya?! Dan untuk selanjutnya, di chapter depan, bakal ada tokoh baru yang muncul. Sapa dia? Tunggu di chapter 5 ya?!
Ga' terima FLAME!!!!!!!


0 komentar:
Posting Komentar