When Youngsters Fall in Love - chapter 3

Ken datang lagiiii!!!!!

Saya bener-bener udah ga' sabar pingin bikin cerita tentang Fuuma! Udah gatel banget tangan ini mau nge-bashing tu anak! Hehehehe, ga' ding....becanda!!

Ya sutra lah!! Saya juga bingung mau ngomong apalagi! Langsung baca chapter 3 ini ya?!

>> Rating : T

>> Disclaimer : CLAMP

___________________________________________________________________

When Youngsters Fall in Love - Cryin' on His Shoulder

Fict : KeN
Planning and ideas :Ritsu

Special thank's:
1. My beloved GOD!!
2. All readers

___________________________________________________________________


-- Halaman sekolah --

"Monou-senpai!!"

Fuuma menoleh ke asal suara. Dan dia ngeliat ada anak kelas satu, yang satu klub basket sama dia, lagi lari-lari ke arahnya.

"Kok udah pulang aja? Ga' latihan basket?", tanya anak itu lagi pas udah deket sama Fuuma.

"Hari ini bolos deh!! Lagi pingin cepet pulang.", Fuuma mesem dengan sangat keren *penulis pun nose-bleed* .

"Woohh..", anak kelas satu itu manggut-manggut sebentar lalu tiba-tiba tersenyum jahil, "Hayoo! Pasti ada kencan ya?! Sama anak mana lagi nih?"

Wadohh!! Gosip playboy-nya Fuuma udah kesebar sampe' telinganya anak kelas satu!

Fuuma nanggepin pake' senyum doank, "Bisa aja!! Enggak kok! Ini lagi pingin pulang aja! Tar tolong kasih tau pelatih kalo gue absen ya?!"

"Beres, Boss!!", Anak kelas satu tadi sok harmat-hormatan.

"Besok gue traktir makan dehh!!", Fuuma ngebenerin letak ranselnya.

"Ga' usah repot-repot, Senpai! Tapi....", Anak itu senyum-senyum ga' jelas,"...kalo Kotori mau diajak kencan sih, OKE!"

"Lagak lo!", Fuuma pura-pura marah sambil ngejotos lengan anak itu pelan.

Lalu keduanya ketawa lepas.

"Ya udah deh! Gue pulang dulu ya?! Thank's banget buat bantuannya!", Fuuma melanjutkan jalan kaki ke tempat parkir.

"Hati-hati, Senpai!", teriak anak kelas satu itu yang dibalas Fuuma dengan lambaian tangan.

+ + + + + + + + +

"Ada apa, Yuki?", tanya Kamui yang diseret Yukito ke belakang gedung sekolah selepas bel pulang berbunyi.

"Jujur, Kamui! Apa yang kamu sembunyiin?", tanya Yukito langsung.

Kamui kaget banget. Ternyata Yukito masih penasaran dengan alasan penolakan Kamui ke distro malam minggu kemaren.

"Kamu kemana pas malam minggu kemaren! Aku tahu alasan kamu waktu itu cuma bo'ong!", todong Yukito lagi.

"Aku kerja sambilan."

"Jangan bohong, Kamui!!", Nada suara Yukito rada tajem.

Mau ga' mau Kamui kalah dipojokin gitu sama Yukito.

"Kalo ada masalah kamu bilang aja! Ga' baik kalo dipendem sendiri!", kata Yukito lagi.

Kamui menatap Yukito dan pemuda itu mengangguk.

"Yuki! Aku.... Sebenernya...."

"Woii!! Pada ngapain sih di sini? Dicariin dari tadi juga!", Kazahaya nongol tiba-tiba dan bikin kacau, "Pada maen petak umpet?"

Kimihiro dan Lelouch muncul juga dari belakang Kazahaya.

"Jahat nih!! Kita ga' dibagiin rahasianya!", Kimihiro sok manja.

"Bukan kok! Aku kebetulan aja ketemu Kamui di sini!",Yukito nutup-nutupin.

"'Kebetulan'? Bener cuma 'kebetulan'?", tanya Lelouch dengan muka datar.

"Be..bener kok! Iya kan, Kamui?!", Yukito melirik pemuda bermata violet itu. Sementara yang dilirik hanya mengangguk dan tersenyum maksa.

Suasana mendadak aneh. Atmosfirnya jadi ga' enak. Para uke diem-dieman. Kamui dan Yukito jadi salah tingkah. Mana Lelouch, Kimihiro, dan Kazahaya menatap mereka berdua dengan pandangan menyelidik.

Dan kemudian, Lelouch menghela napas dan berkata, "Ada yang mau ikut beli siomay?"

Semua perhatian tertuju pada Lelouch. Dan Yukito, yang paham kalo Lelouch lagi mengalihkan topik, langsung ngerespon.

"Emang di sekitar ini ada yang jualan?"

"Ada! Deket pertigaan pasar besar.", jawab Lelouch pendek.

"Lulu suka makan di warung-warung pinggiran ya?!", Kazahaya akhirnya kepancing.

"Aku ga' mau kalo tempatnya kotor! Merusak selera makan!", Kimihiro yang paling doyan wisata kuliner angkat pendapat.

"Bersih kok! Udah jadi langgananku sama Suzaku dari jaman SMP.", terang Lelouch.

"Oohh, jadi kamu udah sedeket itu sama seme rambut coklat itu?", Kazahaya dan Kimihiro kumat usilnya.

"Ada yang salah kalo kami deket? Lagian jangan panggil dia dengan sebutan gitu! Punya nama bagus-bagus juga.", Lelouch masih datar-datar aja.

"Kalo emang deket, kok kamu pas MOS dulu sok cuek geto?", tanya Kimihiro.

"Emang kalo deket sama dia kudu pasang senyum terus?", Lelouch kali ini mengerutkan dahinya.

"Ya kagak!! Tapi paling enggak nyapa kek! Apa kek!", jawab Kimihiro.

"Hadoohh! Kok malah ngomongin Suzaku?! Jadi beli siomay ga'? Laper nihh!!", Yukito pura-pura mengelus-elus perutnya.

"OKE! Anyok berangkat!!", Kazahaya mengomando temen-temen ukenya.

Dan rame-rame mereka menuju parkiran buat nyamperin sedan Kazahaya. Dan selama perjalanan itu, Kamui diem aja karena masih ngerasa ga' enak sama temen-temennya.

Tiba-tiba Kamui merasa ada yang menggenggam tangannya. Ia menoleh dan menemukan Yukito tengah tersenyum padanya.

"Besok kita lanjutin lagi curhat-curhatannya ya?!", bisik Yukito.

Kamui membalas senyum itu dan mengangguk. Maaf, Yukito! Kamu jadi ikut bo'ong demi aku!

+ + + + + + + + +

Fuuma matiin mesin motornya dan menutup pintu garasi lalu masuk rumah lewat pintu samping. Dia tu ceritanya lagi bad-feeling. Makanya dia pilih bolos latihan basket dan pulang duluan.

Bener aja! Pas dia masuk rumah, Fuuma denger suara teriakan perempuan. Langsung aja dia lari ke arah suara yang ternyata berasal dari ruang tengah. Di sana Fuuma ngeliat ibunya terduduk di lantai dengan berpeluh airmata, rambut dijambak dan ada bekas tamparan di pipi kirinya. Dan orang yang tega melakukan itu pada ibunya adalah ayah Fuuma sendiri.

"Ayah!!", cegah Fuuma saat ayahnya mengangkat telapak tangannya untuk tamparan kedua.

"Jangan ikut campur!!", Ayah Fuuma menepis tangan Fuuma. Tapi pemuda itu ngotot.

"Ayah!! Cukupp!!", seru Fuuma.

"Minggir, Bocah!! Ini urusanku dengan ibumu yang bodoh ini!!"

"Lalu Ayah pikir, Ayah ini APA??"

Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Fuuma, ayah Fuuma membalikkan sasaran ke arah Fuuma. Ia meninju pipi kanan Fuuma dengan keras hingga pemuda Fuuma tersungkur.

"Anak kurang ajar!!", Ayah Fuuma menginjak punggung Fuuma.

Tak berhenti sampai di situ, ayah Fuuma menendang perut Fuuma dan membuat pemuda itu telentang lalu ia menghentakkan kakinya ke perut dan dada Fuuma.

"Jangannn!!!", Ibu Fuuma berusaha menahan kaki suaminya. Tapi apa daya, dengan sekali dorong, ia kembali terpuruk di lantai dan hanya bisa berteriak memohon pada ayah Fuuma yang lagi-lagi menendang perut anak sulungnya.

"Kakak!", Seorang anak perempuan masuk ruang tengah dan terkejut melihat keadaan Fuuma. Ia segera menghentikan ayah Fuuma, "Ayahh! Cukup, Yah!!"

Ayah Fuuma meronta dari pelukan gadis itu sementara ibu Fuuma mengambil kesempatan menarik Fuuma ke arah lain yang jauh dari jangkauan amarah sang ayah.

"Lepaskan aku, Kotori!!" raung ayah Fuuma.

"Jangan sakiti kakak lebih dari ini, Yah!", mohon gadis bernama Kotori itu.

"Dia pantas mendapatkannya! Anak tidak berguna yang bisanya hanya membangkang padaku!"

"Apa...hh..Ayah sendiri pernah..hh..melakukan sesuatu yang membuat..hh..Ayah pantas untuk dihormati?", tanya Fuuma dingin di sela-sela rasa sakit.

"Apa kau bilang? BRENGSEKK!! Kuhajar kau!!"

"Ayah! SUDAHHHHH!!", teriak Kotori sambil memeluk erat ayahnya, "Kumohon!"

Kericuhan reda sejenak. Yang memenuhi ruang tengah itu hanya isak tangis Kotori dan ibunya serta nafas ayahnya yang memburu karena emosi.

Kemudian ayah Fuuma menyingkirkan tangan Kotori yang memeluknya dan keluar rumah. Tak berapa lama, terdengar decit ban mobil lalu disusul suara mesin roda empat itu menderu kencang saat ayah Fuuma melajukannya dengan kecepatan tinggi.

Kotori perlahan mendekati kakaknya dan ibunya.

"Kakak!", Ia jongkok dan menangis di hadapan Fuuma.

Fuuma tersenyum dan menyeka airmata adiknya, "Aku ga' papa, Kotori! Aku sudah bilang dari dulu kan?! Aku ga' akan membuat ayah menyakitimu dan ibu lagi!"

* * * * * * * * *

-- Kantin sekolah --

"Hah? Jenguk Monou-senpai?" Kamui bingung.

Kazahaya dan Yukito mengangguk dengan semangat.

"Trus, kenapa aku juga diajak? Apa hubungannya sama aku?"

"Karena Fuuma pasti cepet sembuh kalo liat wajah kamu!", Kazahaya yakin.

"Ngaco'!", Kamui buang muka.

"Udah lah ikut aja!", kata Kimihiro ngomporin.

"Heh! Kenapa kamu jadi ikut-ikutan?", Kamui makin bingung.

"Ga' papa lah! Menjalin silaturahmi *??*.", kata Lelouch yang asyik bereksperimen dengan soto campur saus tomatnya *aneh* .

"Emang Monou-senpai sakit apa?", tanya Kamui ingin tahu.

"Ga' tahu juga sih! Rikuou cuma bilang kalo tu anak abis berantem.", Kazahaya menerawang.

"Makanya kalo pingin tau, ikut ngejenguk aja!", usul Yukito.

"Yang ikut sapa aja?", tanya Kamui lagi.

"Rikuou, Touya....", Yukito ngitung pake' jari.

"Aku, Yuki, Lulu sama Kimi!", tambah Kazahaya.

"Suzaku sama Shizuka juga ada!", Kimihiro ikut ngeabsen.

Kamui makin ga' ngerti aja, "Kita mau jenguk orang sakit apa mau demo sih?"

+ + + + + + + + +

TING!! TONG!!

Suara bel membahana di dalam rumah. Ibu Fuuma sedikit berjaln cepat ke arah pintu.

"Selamat siang!!", seru sembilan orang rame-rame saat ibu Fuuma udah bukain pintu.

Ibu Fuuma kaget juga ngeliat ada cowok-cowok ganteng dan cantik *??* berdiri di hadapannya dan ngasih salam bareng-bareng, "Siang! Wahh, rame banget ya?!"

"Hehehe..", Kazahaya dan Rikuou kompak cengengesan.

"Fuuma-nya boleh dijenguk ga', Bibi?", tanya Yukito sopan.

"Ya boleh dong!", Ibu Fuuma tersenyum ramah, "Tapi Fuuma masih tidur karena pengaruh obat. Kalian tunggu di kamarnya aja! Sapa tau dia nanti bangun!"

Ibu Fuuma menggiring sembilan orang itu masuk ke kamar Fuuma. Kamar itu lumayan luas, tapi ga' banyak benda yang ada di situ. Cuma ada satu ranjang yang rada gede, satu almari yang berdiri ga' jauh dari ranjang, satu set meja belajar ada di seberang almari dan sebuah gitar disandarin di pojokan kamar. Tapi ga' ada waktu untuk merhatiin isi kamar. Semua mata kini tertuju pada Fuuma yang masih pules tidur di ranjang dengan sudut kanan bibirnya bengkak dan berwarna biru.

"Gimana ceritanya sih, Bi? Kok Fuuma sampe' kaya' gini?", tanya Touya ke ibu Fuuma.

Mendengar pertanyaan itu, ibu Fuuma meneteskan air mata lagi. Yukito yang melihatnya bergegas menghambur ke sisi ibu Fuuma dan menenangkan perempuan itu. Seme-uke kelas dua langsung menunduk sedih.

Suasana mendadak terasa menyayat.

"Aduh, maaf ya?! Kalian sudah jauh-jauh kemari tapi Bibi malah nangis ga' jelas gini", Ibu Fuuma menghapus air matanya dan berusaha ceria, "Bibi buatin minum dulu ya?!"

"Kami bantu!", Yukito dan Touya menawarkan diri.

"Terima kasih.", Ibu Fuma keluar kamar diiringi pasangan seme-uke tadi.

Dan sepeninggal mereka...

"Kaya'nya ga' baek juga kalo kita ngerubutin Fuuma di sini! Beberapa nunggu di luar aja deh!", kata Rikuou.

"Bener juga! Hayuukk!!", Kazahaya menarik lengan Kimihiro dan Lelouch lalu melenggang keluar diiringi sisa seme yang lain.

Tapi pas Kamui ikutan keluar....

"Kamu di sini aja!", Tiga uke kompakan.

"Bukannya tadi Himura-senpai bilang kalo kita ga' boleh ganggu Monou-senpai.", Kamui bingung.

"Iya! Makanya kamu aja yang jagain dia!", lanjut uke-uke.

Dikerjain deh si kamui.

"Tapi.."

"Kita ada di luar kok! Kalo ada apa-apa langsung panggil aja!", tambah Rikuou, "Ga' keberatan kan, Shirou?!"

Akhirnya si Kamui pasrah aja disuruh jaga Fuuma yang masih bobok. Dia menarik kursi dan duduk di dekat ranjang kakak kelasnya itu. Karena ga' ada yang bisa Kamui lakukan, akhirnya tu bocah diem sambil ngamatin mukanya Fuuma yang bengkak sambil banyak bertanya-tanya dalam hati.

Kamui mungkin udah ketiduran karena bosen kalo ga' denger suara lenguhan dari Fuuma. Pemuda bermata violet itu sedikit mendekat pada Fuuma dan dilihatnya Fuuma lagi mengigau dengan banyak keringat muncul di keningnya.

Kamui bingung waktu nafas Fuuma rada ga' teratur.

"Waduhh! Gimana nih??", Kamui terlanjur panik sampe' lupa kalo di luar tu banyak orang yang bisa bantuin dia.

Dan jadilah, karena pengetahuannya yang terbatas, Kamui ngelus-ngelus rambut Fuuma, "Sshh! Sudah-sudah! Ga' usah takut!"

Agaknya Fuuma denger kalimat itu karena nafasnya perlahan kembali normal. Ia mengernyit dan perlahan membuka mata.

"Ka....mui?"

Kamui tersenyum lega, "Syukurlah kalo udah bangun!"

Fuuma berusaha bangun dari posisi tidur sambil menyeka keringat dari keningnya.

"Tadi Monou-senpai..."

"'Fuuma'!", ralat Fuuma.

"Eh, iya...Fuuma! Tadi kamu ngigo aneh gitu! Ada yang sakit? Di bagian mana?", tanya Kamui.

Fuuma menunduk *kalo di komik matanya ga' keliatan geto lah* dan cuma menggeleng.

"Uhhmm..", Kamui bingung mau bilang apa, "Aku panggil yang lain dulu!"

Pas Kamui mau beranjak, tahu-tahu Fuuma menggenggam tangan Kamui erat.

"Monou...eh, Fuuma!"

"Jangan panggil yang lain!"

Kamui kaget pas ngeliat pipi Fuuma udah basah. Ia mendekati Fuuma dan merengkuh bahu pemuda itu.

"Hei! Udah, ga' papa! Aku di sini!", Kamui menenangkan pemuda itu di pelukannya.

Fuuma membalasnya dengan memeluk Kamui makin erat hingga Kamui bisa merasakan kalo saat itu Fuuma bener-bener lagi sakit. Baik jiwa mau pun raganya.

---- To Be Continue ----

______________________________________________________________

Muahahahahaha...

Selamat atas apdet chapter 3-nyaaaaaaaaaa!!!!!!!!! *potong tumpeng*

Hehehe... Hubungan dua tokoh utama udah makin dekat aja ya?! Tapi jangan harap deh mereka bisa jadian dengan mulus tanpa hambatan *emang jalan tol*! Pastinya bakal ada kejahilan-kejahilan dari saya untuk menguji seberapa dalam cinta mereka! Kukukuku... *ketawa ala maniak*

Tapi, ngemeng-ngemeng, ending buat chapter ini sama chapter sebelumnya kok nangis-nangis ya?! Ya udah lah, itu urusan Ritsu! Dia yang punya cerita, saya cuma penulis doang buat cerita "Youngsters" ini.

Fuuma : Eh! Peran gue jadi geto?? *protes*

KeN : Kan dilarang ngelawan orang tua! Ga' baek kalo gue bikin lo berantem sama bokap lo!!

Fuuma : Lo-nya juga aneh!! Bokap gue lo bikin gahar gitu!!

KeN : Ntu mah ide Ritsu! Terima aja!

Fuuma : *desperet*

Yoo!! Kirim komen dan saran kalian ya?! Dan jangan lupa, tetap mendukung saya untuk "Youngsters" chapter 4!!

Arigatou buat waktunya! Arigatou udah sempet baca! Arigatou buat semua yang udah pembaca berikan!!

Jaaaaaaaaaaaaaaaaa...................

2 komentar:

Lebih cepet di up date nya ya! Gak sabar baca kelanjutannya sih. Abis gw kan fans berat kamui
Viva KAMUI...

 
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
 

Posting Komentar