An orifict by :
KeN ft. Ritsu
Special thank's to :
1. BIG BOSS --Allah SWT--
2. All readers who always waiting for my story
-----------------------------------------------------------------------------------------
--Ritsu POV—
“Semoga hari pertama ini menyenangkan!”, kata ibu saat aku mengenakan sepatu di rak di dekat pintu masuk.
“Hnn.”, balasku singkat. Tak ada ekspresi. Seperti biasa. Tak perlu ada ekspresi yang tak perlu.
“Sempatkan menjenguk Ran sepulang sekolah.”, kata ibu yang membuat gerakan tanganku, yang tengah membantu tumit kakiku masuk ke sepatu, terhenti. Memang tak ada nada perintah. Tapi aku tahu, ibu ingin memastikan kesediaanku melakukan hal itu.
“Hnn.”, jawaban yang sama meluncur dari tenggorokanku sambil tanganku menuntaskan kegiatan yang sempat tertunda tadi.
Aku melangkah mendekati pintu dan memutar knop untuk membukanya.
“Ritsu!”, panggil ibu.
Aku sedikit menoleh.
“Maaf.”, nada itu tertangkap dengan getir di telingaku, “Ibu tidak meminta kamu selalu mengalah demi Ran. Hanya saja…..”
“Aku tahu.”, potongku. Aku membuang muka ke depan lagi, “Kesehatan Ran jauh lebih penting kan?!”
Ibu terdiam. Tak ada jawaban.
“Aku berangkat.”, Aku meneruskan langkah.
Ibu menjawab tapi aku tak begitu mendengarnya dan hanya fokus saja menjalankan langkah menjauhi rumah.
Sepanjang jalan aku hanya diam. Ya, orang-orang juga akan melakukan hal yang sama kalau mereka tak punya teman seperjalanan seperti ini.
Aku menarik napas. Memikirkan kembali kalimat ibu sebelum aku berangkat tadi.
Aku tak benci pada ibu. Aku juga tak dendam padanya. Walau semua perhatian hanya untuk Ran, adik kembarku, dan hanya sedikit yang tercurah padaku, aku tak menuntutnya. Dua bulan lalu, ibu memutuskan untuk pindah ke kota ini karena ibu dengar fasilitas rumah sakit di kota ini lebih lengkap untuk merawat Ran dari pada di kota kami yang lama. Ini bukan pertama kalinya kami pindah. Seingatku, ini adalah kepindahan kami yang kelima.
Ran yang kusebut-sebut dari tadi adalah adik kembarku. Tapi kami beda sel telur. Dan itu membuat kami juga berbeda. Bukan cuma wajah. Tapi kepribadian kami pun bertolak belakang. Dibanding aku yang lebih suka mengerutkan dahi, dia lebih banyak tersenyum. Selalu saja senyum manis tertoreh di wajah manisnya yang lembut. Membuat siapa pun akan betah berada di sampingnya. Sayang Tuhan tak banyak memberikan kesempurnaan padanya. Sejak lahir, ada yang tak beres dengan jantungnya. Dokter bilang –kudengar dari ibu-- ada pembuluh darah di jantungnya yang pecah. Itu membuat Ran tak banyak beraktivitas layaknya gadis ceria pada umumnya. Sedikit saja kecapekan, dia bisa masuk rumah sakit dua minggu. Dan saat check-up terakhir dua tahun yang lalu, dokter bilang Ran harus dirawat intensif di rumah sakit karena kondisinya menurun drastis dan dikhawatirkan sedikit virus atau bakteri yang masuk dalam tubuhnya akan membahayakan hidupnya. Sejak itu, Ran harus diisolasi di rumah sakit.
Ayah meninggal sejak umurku 3 tahun. Dan sejak saat itu ibu sendirian berjuang keras menghidupi kami, aku dan Ran. Meski mungkin ibu lebih fokus pada Ran. Dan Karena itu, kami selalu pindah setiap kali ibu dengar kabar tentang rumah sakit bagus di suatu kota. Dan tanpa bertanya bagaimana pendapatku, tahu-tahu ibu memberitahuku di mana sekolah baruku nanti. Aku juga mungkin tak pernah punya hak untuk protes atau apapun. Karena memang, sekali lagi, kesehatan Ran jauh lebih baik.
Mungkin semua ini memang hanya tentang Ran.
Dan tahu-tahu, aku sudah sampai di sekolah.
+ + + + + + + + +
--Ken POV—
“Kau pikir kau siapa, hah?”, Dua anak laki-laki itu geram sambil tetap mencengkeram kerah baju seragamku.
“Aku hanya murid SMU biasa yang ingin hidup normal.”, jawabku santai. Tak lupa cengiran khas nakalku bertengger di bibirku yang sekarang menitikkan darah karena dijotos mereka tadi.
“Jangan kau kira, hanya karena ayahmu donator terbesar di sekolah ini maka kau bisa bertingkah seenak hatimu?”, teriak anak laki-laki yang memegangi tangan kananku.
“Hei! Tak perlu berteriak, Kawan! Aku masih bisa mendengar dengan normal.”, kataku.
“Belagu!!”
BUGHH!!!
Anak laki-laki yang mencengkeram kerah bajuku tadi meninju perutku dengan keras. Membuatku terjatuh dengan lutut menopang tubuh.
“Jangan sok ya?!”, Mereka memukuli tubuhku yang sudah tak bisa melawan bertubi-tubi.
“Coba kita lihat aksinya kalau sudah babak belur begini!”, Terdengar tawa saat tubuhku ditendang hingga tersungkur.
Salah satu dari mereka menjambak rambutku hingga wajahku terangkat, “Kalau berani, adukan kami pada ayahmu! Akan kupastikan kau tak akan bisa berjalan dengan kedua kakimu itu!”
Anak laki-laki itu melepaskan jambakan pada rambutku dengan kasar dan berjalan lebih dulu meninggalkan tempat eksekusi ini. Disusul yang lain yang pergi dengan tertawa-tawa.
“Cihh! Sial!”, umpatku sambil membalik badanku ke posisi telentang. Mataku menangkap langit biru yang luas. Dengan arakan awan yang berjalan lambat-lambat.
Susah payah kuatur napas. Mataku terpejam.
Jujur. Aku tak tahu apa salahku pada mereka. Bukan cuma mereka. Tapi semua orang yang mengaku marah padaku. Hampir setiap hari, selalu saja ada orang yang menyeretku ke belakang sekolah yang hampir selalu juga diakhiri dengan aku yang terkapar dengan wajah lebam. Sampai-sampai aku hafal bau darahku sendiri. Mengerikan.
Mereka bilang aku sok karena posisi ayahku. Oke!! Ayahku memang seperti kata mereka. Donator tetap dan yahh..penyumbang paling besar di sekolah ini. Tapi bukan berarti ayah seperti itu bisa dibanggakan. Yang ada di kepala orang itu hanya uang, pekerjaan, derajat, dan status sosial. Hal-hal memuakkan yang membuat telingaku busuk jika mendengarnya.
Dia tak pernah pulang. Bahkan kadang aku tidak tahu keberadaannya. Hal ini membuat ibu sering menangis. Memang tak pernah ditunjukkan padaku. Tapi beliau tak akan bisa menyembunyikan matanya yang bengkak setiap kali menghidangkan sarapan untukku setiap pagi walau bibirnya tersenyum.
Dan aku bersumpah pada diriku, aku akan melindunginya walau tanpa ayahku. Akan kami buktikan bahwa aku dan ibu tak membutuhkan orang itu. Bahwa kami bisa berdiri tanpa dia.
Aku membuka mata. Langit biru masih membentang luas di depan mata. Kugerakkan tangan ke arah saku celana dan menarik sebungkus rokok lengkap dengan korek gas dari sana. Aku menggigit sebatang dan menyalakannya.
Apa? Ada yang salah dengan aku merokok? Aku sudah melakukannya dari SMP dan benda ini sudah merupakan bagian dari hidupku.
Ya, mungkin akan begitu jika ceritaku tetap seperti ini.
Tapi, hatiku mungkin punya permohonan lain pada Tuhan.
“Daijoubu ka?”, suara lirih itu membuatku sedikit mendongak.
Dan pandanganku bertemu dengan mata itu. Mata biru Prussian yang redup tanpa cahaya. Begitulah kesan pertamaku di mata itu.
+ + + + + + + + +
--Normal POV—
Mata biru Prussian bertemu dengan mata coklat. Kedua pemiliknya terdiam. Saling mengamati satu sama lain untuk beberapa saat. Hingga pemilik mata biru Prussian mengerjap.
“Kamu baik-baik saja?”, ulangnya.
Pemilik mata coklat berusaha duduk dari tidurnya. Membelakangi pemilik mata biru Prussian, “Daijoubu.”
“Tapi sepertinya tidak.”, kata pemilik mata biru Prussian.
“Dari mana kamu tahu?”, Pemilik mata coklat menoleh sedikit kea rah pemilik mata biru Prussian.
“Dari keadaanmu. Kurasa kamu perlu ke klinik.”, saran pemilik mata biru Prussian.
“Tak perlu.”, Pemilik mata coklat mencobe berdiri, “Aku baik-baik…”
Belum sampai berdiri, tubuh pemilik mata coklat oleng ke kiri. Beruntung pemilik mata biru Prussian sedikit sigap dan menangkap tubuh pemilik mata coklat itu sebelum jatuh lagi ke tanah.
“Hati-hati!”, kata pemilik mata biru Prussian sambil melingkatkan tangan kiri pemilik mata coklat ke bahunya.
Si mata coklat hanya menatap penolongnya dalam diam. Sadar diamati, pemilik mata biru Prussian balas menatap si mata coklat.
“Apa?”, tanyanya.
“Wajahmu asing.”, jawab pemilik mata coklat singkat sambil membuang puntung rokok yang baru hangus sedikit dari tangannya.
“Aku baru di sini.”, Pemilik mata biru Prussian membimbing langkah si mata coklat.
“Aku tak mau ke klinik.”, kata si mata coklat.
“Tapi lukamu perlu diobati!”, kata si mata biru Prussian agak keras.
“Ini cuma luka kecil.”
“Kamu pikir aku percaya kalau itu luka kecil.”, Pemilik mata biru Prussian acuh dan tetap berjalan. Tujuannya satu. Ke klinik sekolah.
Tak ada percakapan lagi sampai mereka sampai di lorong gedung sekolah. Keduanya berjalan dalam diam. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka. Yang pasti hanya suara langkah mereka yang terdengar. Hingga sang pemilik mata biru Prussian berhenti mendadak.
“Apa?”, tanya pemilik mata coklat.
“Aku…belum tahu jalan ke klinik.”, ucap pemilik mata biru Prussian datar.
“Hhhh…pantas. Dari tadi aku bertanya-tanya, kenapa ke klinik harus lewat jalan ini.”, kata si mata coklat dengan nada menjengkelkan.
“Kalau sudah sadar dari tadi, kenapa tidak bilang?”, Pemilik mata biru Prussian terpancing emosinya.
“Kupikir kita mau ke kantor kepala sekolah dulu untuk melaporkanku karena sudah berkelahi sebelum ke klinik.”, Lagi-lagi pemilik mata coklat menjawab dengan santai.
Pemilik mata biru Prussian mengernyitkan dahi sebelum melanjutkan, “Sekarang bagaimana?”
“Bukannya kamu yang punya ide untuk membawaku ke klinik?”, tanya si mata coklat balik.
Pemilik mata biru terdiam. Ia sedikit malu dengan rencananya yang berantakan. Si mata coklat mengamatinya yang tengah menunduk. Dan tahu-tahu si mata coklat menarik tangan si mata biru Prussian ke satu arah.
“Hei! Kita mau ke mana?”, protes si mata biru Prussian.
“Diam dan ikut saja!”
Si mata biru Prussian ingin marah mendengar jawaban si mata coklat yang terdengar seenaknya itu. Tapi toh ia menurut saja dan membiarkan tangannya ditarik paksa.
Si mata coklat berjalan mantap. Ia belok di sudut lorong, naik ke satu lantai. Belok, belok, naik lagi dan berjalan beberapa langkah lagi sebelum berhenti dan membuka salah satu pintu ruang kelas.
Keduanya masuk ke dalam kelas yang ternyata kosong itu. Si mata coklat menutup pintu di belakang mereka dan kemudian melepaskan tangan si mata biru Prussian dengan kasar.
“Auu! Apa-apaan ini?”, Si mata biru Prussian mengusap tangannya yang merah akibat genggaman si mata coklat.
“Harusnya aku yang tanya. Maumu apa?”
“Aku… Apa?”, Si mata biru Prussian bingung.
“Kenapa menolongku?”, todong si mata coklat.
“Maksudmu?”, Si mata biru Prussian masih tak mengerti.
“Kau mata-mata ayahku?”
“Pertanyaanmu makin ke mana-mana! Apa salah kalau membantu orang yang sedang terluka? Lagi pula, aku kenal ayahmu saja tidak!”, kata si biru Prussian, “Aku hanya kebetulan sedang berkeliling sekolah dan tanpa sengaja menemukanmu terkapar di halaman belakang.”
Mata coklat bertemu lagi dengan mata biru Prussian lagi. Sama-sama saling meyakinkan.
“Masih tidak percaya?”, tanya si mata biru Prussian.
“Tidak semudah itu.”
Si mata biru Prussian mengerutkan dahi lagi, “Sesukamu sajalah!”
Si mata biru Prussian bermaksud pergi saat si mata coklat menarik tangannya lagi.
“Lepaskan tanganku!”, kata si mata biru Prussian.
“Tidak.”
“Apa?”
“Taruhan! Kamu tidak akan tahu jalan kembali ke gedung utama tanpa bantuanku.”, Si mata coklat tersenyum nakal.
Hampir saja si mata biru Prussian mau protes sebelum ia sadar posisinya. Ia belum hapal betul jalan kembali ke kelasnya. Jadi yang bisa ia lakukan hanya menahan marah sambil mengamati si mata coklat yang berjalan ke satu arah di kelas itu.
Ternyata kelas yang mereka masuki adalah kelas musik. Di sudut kelas itu ada piano besar yang tertutup kain putih. Si mata coklat berjalan ke arah piano itu. Ia menyingkap kain yang menutupinya dan duduk di kursi di hadapan piano itu. Si mata coklat membuka penutup tuts dan mulai ambil posisi.
Semua terekam dengan gerakan lambat di mata biru Prussian. Si mata coklat mulai memainkan sebuah nada. Disambung nada lain. Dan kemudian jadi nada-nada berantai yang si mata biru Prussian kenal lagu apa yang tengah mengalun ini.
Nakushita kotoba.
Tapi kali ini, lagu itu terdengar begitu lembut dan menyayat di telinganya. Berlipat kali lebih terasa sakit di hatinya ketimbang ia mendengarkan lagu aslinya. Dan si mata coklat itu begitu menghayati. Baik tiap lirik maupun nadanya.
Lagu itu terus mengalun hingga akhir. Dan si mata coklat itu tahu bagaimana mengakhiri lagu itu agar lebih dramatis lagi. Ia membuka mata setelah nada terakhir berhenti berdenting.
“Aku hebat kan?!’, kata si mata coklat dengan bangga saat tahu si mata biru Prussian menatapnya kagum.
Dan mendengarnya, si mata biru Prussian langsung membuang muka sebelum ketahuan kalau pipinya bersemu merah, “Hebat apanya? Ayo! Antarkan aku ke gedung utama!”
“Ga’ mau!”
“Apa??”
“Di sini saja sebentar lagi.”, kata si mata coklat sambil menyalakan rokok.
“Aku tak mau menemanimu bolos!”
“Ya sudah kalau begitu! Kembali sendiri saja sana! Tapi jangan salahkan aku kalau kamu nyasar!”, Si mata coklat sambil membuang asap rook dari dalam mulutnya.
Ingin sekali si mata biru Prussian marah. Tapi karena terlalu jengkel, yang bisa ia lakukan hanya duduk kesal di salah satu kursi.
Si mata coklat menatap pemilik mata biru Prussian dengan geli. Baru kali ini ada sesuatu yang menarik baginya. Ia tersenyum nakal dan mengamati gerak-gerik si mata biru Prussian. Hingga ia terdorong untuk bertanya.
“Anak baru?”
Tak ada jawaban. Si mata biru tak merasa harus menjawab pertanyaan dari orang menyebalkan satu itu.
“Aku Okazaki Ken. Anak 2-5.”, Si mata coklat memperkenalkan diri, “Terima kasih atas bantuannya tadi.”
Si mata biru Prussian sedikit terkejut. Ia tidak menyangka lawan bicaranya itu ternyata sifat baik juga. Tapi ia masih menjaga gengsinya dan hanya berujar, “Aku tidak tanya.”
“Ya, mungkin akan berguna suatu saat.”, kata si mata coklat, Ken, dengan pedenya.
“Aku berharap ini terakhir kalinya aku bertemu denganmu.”, Si mata biru Prussian sinis.
Ken terkekeh. Ia merasa bahwa si mata biru Prussian semakin menarik.
“Nee, setelah ini akan kuatar kamu berkeliling sekolah.”, Ken menunjuk rokok di antara telunjuk dan jempol tangan kirinya.
Si mata biru Prussian tertarik menoleh ke arah Ken.
“Tertarik?”, Ken tersenyum nakal.
Mau tak mau si mata biru Prussian mengangguk meski masih kesal.
“Tunggu!”, kata Ken sambil menghisap rokoknya yang makin pendek. Ia menghembuskan asapnya kemudian menjatuhkan rokoknya ke lantai dan menginjaknya.
“Hei! Buang sampah pada tempanya dong!”, protes si mata biru Prussian.
“Tenang! Jarang ada yang pakai ruang ini setelah pelajaran seni musik ditutup tahun lalu.”, kata Ken tenang sambil membuka pintu kelas, “Ayo, anak kucing!”
Mata biru Prussian itu melebar, “Kamu panggil aku apa?”
“Anak kucing!”, kata Ken tetap santai, “Habis kamu tidak menjawab siapa namamu. Jadi kuberi saja kamu nama sendiri.”
Ken melanjutkan langkah. Si mata biru Prussian mengekor di belakang.
“Kamu bolos saja. Sudah terlambat kalau mau masuk kelas ini.”, kata Ken sambil memimpin jalan.
“Itu kan gara-gara kamu.”
“Heh, jarang-jarang kamu bisa melihatku main piano!”
“Jangan berlagak!”
Ken tertawa lagi. Tapi hanya sebentar, sebelum ia diam dan tetap menghadap jalan di depan.
“Hei!”, panggil si mata biru Prussian.
“Hnn?”
“Jangan merokok lagi!”
“Ga’ janji.”
“Hei!”
“Apa?”
“Namaku Ogata Ritsu.”
Tiba-tiba Ken berhenti berjalan yang membuat si mata biru Prussian hampir menabraknya. Anak laki-laki itu menoleh kebelakang.
“A…..apa?”, tanya si mata biru Prussian bernama Ritsu itu gugup ditatap mata coklat tadi.
“Ritsu?”
“Iya. Kenapa?”
Ken tersenyum. Senyum yang hangat, “Tidak. Hanya saja, kurasa itu nama yang bagus.”
Mata Ritsu melebar lagi. Baru kali ini ada yang mermuji namanya. Perlahan bibirnya ikut tersenyum kecil. Hal yang mungkin tak pernah ia lakukan sebelumnya.
“Tapi “anak kucing” lebih bagus.”, lanjut Ken.
“Apa?”
-------------------------------------------------To Be Continue--------------------------------------------------
Pembaca : Jelaskan apa ini?? Kenapa kalian malah meng-eksis-kan diri sendiri dan bukannya nerusin “Youngsters”??
KeN : Tapi ini juga bagus kan?! *senyum maniak*
Ritsu : Sedang fakum dari fanfict dan menjajal kebolehan di orifict. *senyum damai*
KeN : Tapi Ritsu di sini sadis nih! *nyubit pipi Ritsu*
Ritsu : Hehe… Maaf deh! Soalnya kebawa sama pribadinya Ken yang satu lagi. Tapi pasti lebih keren kalo KeN bisa main piano beneran. *meluk KeN*
Pembaca : Jangan mesra-mesraan!!!! Awas kalo yang ini ga’ dilanjutin! Mau nyaingin CLAMP yang suka mandeg bikin cerita??
CLAMP : Apa maksud lo-lo pada, hah???
Pembaca + CLAMP : *death-glares*
KeN : Chappie 2 munculin Ran ya?! *ga’ peduli keadaan*
Ritsu : He eh. Semangat ya nulisnya! *meluk Ken lagi*
KeN : Semangat juga nyari idenya. *balas meluk*
Oke!
Jadi apa ini?
Ini orifict pertama dari saya, Sodara-sodara. Karakternya juga asli dari saya. Aneh ga’? Semoga aja ga’.
Hehehe… Ternyata saat vakum pun saya masih bisa bikin fict lagi. Kalo gini sih apanya yang vakum ya?! Ya, semoga saja karya-karya saya yang lain ga’ terbengkalai. Soalnya saya kan udah janji sama kalian untuk namatin “Free Bird” sama “Youngsters”.
Nee, saya mau menegaskan bahwa pihak cowoknya di sini tu ya si Ken. Jadi otomatis Ritsu jadi ceweknya. Hahahaha… Ritsu ada-ada aja nih bikin idenya. Tapi entah kenapa saya tertarik waktu dia ngajuin ide itu ke saya. Emang pada dasarnya pingin eksis kali ya?! Hehe..
Fyuuu…. See you on next chappie!!
Komen ya?! Boleh dalam bentuk apa pun, except FLAMES!!!!!


0 komentar:
Posting Komentar