An orifict by : KeN ft. Ritsu
Special thank’s to :
1.BIG BOSS –Allah SWT—
2.All readers who always waiting for our story
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Special thank’s to :
1.BIG BOSS –Allah SWT—
2.All readers who always waiting for our story
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--Ran POV—
Matahari tenggelam. Sekali lagi kejadian alam itu kusaksikan meski kali ini di tempat yang sama sekali baru.
Satu lagi hari terlewati. Esok hari, entah aku mengharapkannya atau tidak. Tapi aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku harus tetap hidup demi ibu dan Ritsu. Dan hanya dengan memikirkan mereka saja hatiku merasa lebih tentram.
Aku memalingkan pandangan dari jendela kaca di sebelah kiri ranjang rawatku ke arah jam dinding. Jam 5 kurang.
Fuuhhhh…. Ritsu belum datang ya?!
Tapi kemudian aku tersenyum. Aku tak boleh egois. Ritsu pasti sedang berjuang di sekolah barunya. Dia pasti akan datang nanti. Aku yakin itu.
SREGG!!
Pintu kamar rawatku dibuka dan ada sepasang dokter dan suster yang masuk.
“Bagaimana perasaanmu hari ini, Ogata?”, Dokter tadi tersenyum padaku.
Namanya Doumoto Akira. Dia dokter yang merawatku. Memang kelihatannya dia masih muda. Tapi dari kabar yang beredar, prestasinya sudah berhasil membuat para seniornya tercengang. Dan karena itulah, ibu mempercayakan perawatanku padanya.
“Saya baik-baik saja, Akira-san.”, jawabku sambil membalas senyumnya.
“Nee, sudah kubilang kan?!”, Akira-san mulai bekerja dengan stetoskopnya yang disentuhkan di sekitar dadaku. Membuat darahku sedikit berdesir, “Tak perlu formil begitu.”
Aku hanya tersenyum, “Dan berhenti memanggil saya ‘Ogata’. Cukup Ran.”
“Baiklah! Baiklah!”, kata Akira-san sambil memberi ruang pada suster untuk mendekat padaku dan menyuntikkan cairan berwarna kuning-keputihan di lenganku, “Suntikan imun yang terakhir untuk hari ini.”
Aku meringis sepanjang suntik itu menancap di bawah kulitku. Akira-san terkekeh melihatnya.
“Masih benci jarum suntik rupanya.”, katanya setelah suster berhasil mentransferkan cairan tadi ke tubuhku.
“Tidak akan pernah suka.”, Aku tersenyum kecut.
Lalu kulihat ada yang berdiri di belakang Akira-san. Dan tak lama setelah itu senyumku terkembanng.
“Ri-channn!!!”, panggilku. Ritsu sudah datang.
Akira-san dan suster tadi menoleh. Ritsu sedikit membungkuk kecil pada keduanya. Ia sudah lengkap mengenakan pakaian khusus yang berwarna hijau dan segala item steril itu.
“Ahh, satu lagi Ogata.”, sapa dokter Akira.
Ritsu hanya melebarkan sedikit ujung bibir kirinya. Membuatku tersenyum.
“Baiklah. Akan kutinggalkan kalian.”, Dokter Akira dan suster tadi ijin meninggalkan ruangan dan meninggalkan kami, aku dan Ritsu, dalam keheningan.
Tapi jangan harap keheningan itu berlangsung lama.
“Bagaimana hari pertamanya?”, tanyaku.
“Hnnnn….”, jawabnya. Gumaman panjang seperti biasa.
“Apa artinya itu, sih??”, Aku pura-pura sebal.
“Tak ada”, Ritsu meletakkan tasnya di kursi sofa panjang dekat pintu.
“Andai aku bisa sekolah juga.”, kataku.
Ritsu menghentikan gerakannya. Tak menoleh atau merespon. Tapi aku tahu ia mendengarkanku.
Hening sejenak.
“Nee…”, ucapku manja. Memecah suasana, “Sudah kubilang jangan pakai baju jelek itu.”
Akhirnya Ritsu menoleh padaku.
“Aku ingin lihat seragam barumu.”, kataku sambil tersenyum.
“Bajunya sudah tidak bersih.”, ujar Ritsu datar.
“Tapi aku ingin lihat!”, kataku makin manja.
“Tidak!”, Suara Ritsu masih datar. Tapi aku tahu kata itu tidak boleh dilanggar.
Aku hanya cemberut sambil mendelik padanya.
“Aku tak akan takluk karena itu. Jadi hentikan itu dan hemat energimu!”, katanya lagi.
“Ritsu jelek!!”, kataku merajuk.
“Memangnya aku peduli?”, Ritsu mengucek rambutku. Membuat perasaanku jadi nyaman.
Kuraih tangannya dan dengan cepat kutarik sarung tangan yang ia kenakan.
“Ran!!”, protesnya.
Tapi aku tak peduli. Kusentuhkan telapak tangannya ke pipiku, “Begini lebih hangat, Ri.”
--Ritsu POV—
Aku tak berkutik saat kulihat ia begitu menikmati telapak tanganku. Ada sesuatu yang aneh dalam diriku setiap melihat wajah adik kembarku ini bahagia.
“Aku bersyukur masih bisa bertemu hari ini.”, kata Ran dengan senyum damainya yang seperti biasa.
Aku diam sejenak. Dan mengamati wajahnya yang entah mengapa selalu ceria itu.
“Ritsu bagaimana?”, tanyanya saat aku tak menjawab kalimatnya tadi.
“Apa?”, tanyaku balik.
“Ritsu senang bertemu denganku?”
“Pertanyaan macam apa itu?”, Aku mengernyit.
“Habis, Ritsu tak pernah kelihatan senang kalau bertemu denganku.”, katanya dengan nada manja. Lagi.
“Jangan ambil kesimpulan seenaknya.”, kataku dingin.
“Kalau begitu, kenapa kamu ga’ pernah terlihat bahagia?’, tanyanya.
Aku terdiam. Pertanyaan apa ini?
“Kenapa kamu ga’ pernah tersenyum? Ri?”
“Apa kamu akan diam kalau aku tersenyum?”, tanyaku lagi.
Lagi-lagi ekspresi cemberut itu muncul di wajahnya.
“Sudah makan?”, tanyaku. Mencoba mengalihkan topik.
“Hnn.”, jawabnya.
“Jangan bajak trademark-ku.”, kataku sambil mencubit pipinya.
Dan Ran tertawa lepas.
“Ngomong-ngomong, kamu belum jawab pertanyaanku tadi. Bagaimana hari pertama di sekolah?”, tanyanya.
“Menurutmu?”
“Kamu suka sekali membalikkan pertanyaan?!”
“Kapan aku pernah peduli dengan tempat bernama ‘sekolah’ itu?”, Aku melangkah ke lemari dekat sofa panjang dan mengambil air minum.
“Kalau kamu ga’ peduli dengan sekolah itu, kenapa kamu rajin datang ke tempat itu? Kelihatannya kamu malah menikmatinya.”
“Siapa? Aku? Hhh, jangan konyol!”, kataku sambil tersenyum mengejek.
“Hei, aku serius! Kalau kamu memang ga’ suka sekolah, kenapa kamu harus capek-capek datang ke sana?”, Ran terus saja mengoceh. “Kamu paling benci dengan segala sesuatu yang merepotkan kan?!”
“Seperti kamu kenal aku saja.”, kataku setelah meneguk air.
“Walau lebih banyak waktu kuhabiskan dengan terbaring di rumah sakit, tapi setidaknya dengan sedikit waktu yang kamu luangkan untuk menengokku, aku punya kesempatan untuk mengenalmu lebih jauh.”, jawabnya sungguh-sungguh. Padahal aku tak bermaksud membuatnya merasa begitu.
Dan tak ada lagi yang bisa kukatakan untuk membalas kalimatnya itu. Hingga aku teringat sesuatu.
“Aku bertemu seorang lelaki.”, kataku dan tak fokus.
“Ha?”, Ritsu terlihat bingung dengan pergantian topik yang tiba-tiba ini.
“Namanya Ken.”, lanjutku. “Dan kurasa ada yang aneh dengan isi kepalanya.”
+ + + + + + + + +
--Ken POV—
Kuharap ibu tak ada di rumah. Bisa gawat kalau beliau tahu keadaan wajahku yang seperti ini. Yahh, memang sudah bukan pertama kali ibu mendapati aku pulang dengan wajah babak belur begini. Tapi sebisa mungkin aku tak ingin beliau tahu.
Kulangkahkan kaki ke halaman samping sambil setengah mengendap-endap. Untung aku punya duplikat kunci semua pintu di rumah, jadi aku bisa masuk rumah lewat pintu samping lalu bergegas ke anak tangga menuju kamar.
Rencana bagus!!
Pintu samping terbuka tanpa masalah. Dan masih dengan berjingkat-jingkat, aku segera menuju tangga. Setelah ini, masalah beres.
“Ken?”, Terdengar suara di belakangku.
Sial!! Suara ini……………………
“Kenapa lewat situ?”, tanya suara itu lagi.
“Ahh, tadaimaaa!!”, kataku tanpa membalik badan.
“Jangan alihkan pembicaraan!”, suara itu terdengar lagi “Kenapa pulang lewat pintu samping?”
“Hehe.. Ingin saja, Bu.”, jawabku asal.
“Hadap sini kalau bicara dengan Ibu!”
“Hari ini aku ada banyak tugas. Aku harus cepat-cepat mengerjakannya.”
“Sejak kapan kamu peduli dengan PR? Jangan bohong ya?! Pasti ada yang kamu sembunyikan!”
“Be…betsuni.”, kataku terbata.
“Ayo hadap sini!”, Dan tubuhku dibalikkan begitu saja.
Praktis kami sekarang jadi berhadapan. Aku hanya bisa memandang ke segala arah asal tidak ke mata itu. Mata coklat yang sama denganku. Mata yang saat ini pasti tengah meneliti wajahku yang memar-memar. Mata ibuku.
“Kamu berkelahi lagi?”, tanyanya frustasi.
Aku hanya diam dan menunduk.
“Sudah berapa kali Ibu bilang? Jangan cari masalah!”
“Dan berapa kali juga aku harus bilang? Mereka selalu memukuliku tanpa alasan jelas.”, jawabku malas.
“Mana ada orang yang akan melakukan ini tanpa alasan?”, protes ibu, “Mereka tidak akan memulai kalau kamu tak buat masalah! Berhentilah acuh terhadap sekitarmu!”
“Ibu pikir aku suka diperlakukan begini?”, Suaraku sedikit meninggi.
Kulihat ibu sedikit tersentak dan akhirnya terdiam. Hanya memandang dua bola mataku dengan tatapan sedih. Aku jadi merasa bersalah sudah berkata keras. Aku memejamkan mata dan berusaha mengontrol emosi.
“Gomenasai.”, kataku.
Ibu menggeleng, “Harusnya Ibu yang minta maaf sudah memojokkanmu.”
Disentuhnya ujung bibirku yang robek pelan-pelan.
“Sakitkah?”
Aku tersenyum, “Tidak akan sakit lagi kalau sudah tersentuh tangan Ibu.”
Dan mata itu semakin terlihat sedih.
“Cepat ganti baju! Ibu akan siapkan air hangat dan menngompres bengkaknya agar berkurang.”, kata ibu sebelum berlalu meninggalkan aku di lorong menuju tangga ke kamarku.
“Rasanya aku selalu membuat Ibu khawatir ya?!”, kataku lirih.
“Apa?”, tanya ibuku. Sepertinya beliau tidak begitu mendengarnya.
“Tidak. Tidak apa-apa.”, kataku sambil mengembangkan senyum dan bergegas menaiki tangga.
+ + + + + + + + +
--Normal POV—
Ran masih mengamati Ritsu yang baru saja selesai mendeskripsikan tentang Ken.
“Apa?”, tanya Ritsu salah tingkah.
“Rasanya baru kali ini kamu bicara banyak tentang anak laki-laki.”, jawab Ran sambil tersenyum geli.
“A…apa maksudmu?”, Ritsu makin salah tingkah.
“Kurasa, kamu menyukai anak laki-laki bernama Ken itu.”, tebak Ran.
Dan wajah Ritsu pun merona.
“Tuh kan?! Wajah Ritsu jadi merah!”, kata Ran senang.
“Tidak!”, Ritsu memalingkan wajahnya.
“Kalau tidak merah, kenapa tidak berani menatapku, ha??”, goda Ran.
“Aku…..tidak… Ahhhh!!! Berhenti menggodaku!!”, seru Ritsu frustasi.
Ran pun tertawa gelak.
“Apa yang lucu, Baka?”, tanya Ritsu sambil mencubit pipi Ran.
“Ittai yo….”, Ran meringis sambil masih tertawa.
Ritsu mengamati wajah Ran dan perlahan senyumnya terkembang membuat Ran berhenti tertawa melihat pemandangan ‘menakjubkan’ di depan matanya itu.
“Ri?”
“Hnn..”
“Kamu tersenyum?”
“Masa’?”
Ran hanya bisa menganggukkan kepala.
“Hnn. Mungkin hanya halusinasimu.”, Ritsu mengucek rambut Ran.
Kemudian gerakan tangan Ritsu terhenti. Ia mengangkat telapak tangannya dari rambut Ran dan mendapati telapaknya penuh dengan rambut.
“Rambutmu rontok lagi.”, kata Ritsu datar.
“Ha?”
“Lebih banyak.”, lanjut Ritsu.
Ran mengamati telapak tangan Ritsu yang penuh rambutnya.
“Pertanda buruk ya?!”, Ran terseyum kecut.
Ritsu terdiam.
“Mungkin memang tak akan lama lagi.”
“Jangan bicara yang tidak-tidak!”, sahut Ritsu cepat.
“Kenyataannya begitu, Ri.”, kata Ran tegar.
“Tidak seperti itu!”, sanggah Ritsu, “Kamu akan baik-baik saja! Hidup sampai punya banyak keturunan. Hidup lebih lama dari pada aku atau ibu.”
Ritsu mengatur nafasnya sebelum melanjutkan, “ Jadi……… jangan bilang begitu!”
Ran hanya tersenyum kecil, “Iya. Aku akan hidup lebih lama dari kalian. Aku akan punya banyak keturunan dan hidup bahagia.”
Ritsu terdiam lagi. Ia hanya mengamati gadis di hadapannya itu dengan perasaan yang tak sanggup ia ekspresikan. Bukan salahnya kalau ia takut kehilangan gadis itu kan?! Jangankan kehilangan, membayangkannya saja mungkin Ritsu tak pernah.
Dan perlahan didekapnya tubuh yang terbalut seragam pasien itu.
“Ri?”, Ran bengong mendapat perlakuan spesial itu.
“Berjanjilah untuk tidak pergi kemana-mana.”, kata Ritsu dengan suara tertahan.
Mata Ran membulat.
“Berjanjilah, Ran!”, ulang Ritsu sambil mempererat dekapannnya dan membenamkan kepalanya di pundak kecil Ran.
Ran mengangguk dan balas merengkuh punggung Ritsu.
“Aku tak akan kemana-mana.”, katanya dengan airmata menggenang.
----------------------------To Be Continue-----------------------------
Hnn…
Lama menunggu, minna??
Maaf baru bisa apdet sekarang. Berhubung tugas dan ujian menggunung, jadi chappie 2 baru kelar.
Ending-nya melo ya?! Padahal ga’ niat mau bikin begitu. Tapi tau-tau kok jadi gini??? Apa emang pada dasarnya saya suka sad-ending-story??
Yahh, apapun itu, semoga semua suka dan ga’ kecewa dengan chappie 2 ini.
Nee…………komen-komennya ditunggu!!
Tunggu chappie selanjutnya!!
Jaa…………


0 komentar:
Posting Komentar