Genki desu ka, minna-san?
Semoga semua selalu dalam lindungan dan rahmat Tuhan. Dan semoga author yang satu ini juga secepatnya dapat jalan menuju terang, hahahahaha...
Kepada para pembaca mau saya informasikan kalo untuk sementara waktu, saya vakum dari fandom Naruto. Tapi "Free Bird" akan tetep lanjut dan ga' akan saya biarkan menggantung kok!
Oke! Ini adalah chapter dua yang sudah ditunggu-tunggu (pembaca : sapa yang nunggu sih?) !! Di episode ini, bejadnya penulis udah mulai keliatan dan Kamui juga udah memulai perannya (Kamui : lha, bukannya gue udah maen dari dulu?).
Well, langsung saja kita mulai chapter dua ini!
A/N : Mulai sekarang mohon diingat!
"* * *" adalah tanda pergantian setting hari.
"+ + +" adalah pergantian setting tempat alias masih tetap dalam hari yang sama.
When Youngster Fall in Love _ Secret Job
Fict : KeN
Planning and idea : Ritsu
Special thank's to :
1. Tuhan YME
2. All readers
_______________________________________________________________________
Kehidupan tahun ajaran baru di Tsubasa-gakuen sudah berjalan. Dan tahu-tahu sudah memasuki bulan kedua. Anak-anak baru mulai beradaptasi, baik dengan lingkungan sekolah maupun dengan teman-teman baru mereka. Kegiatan club juga sudah mulai berjalan. Dan satu hal lagi yang meski ga' penting tapi harus dilaporkan, yaitu jumlah anggota dan penggemar Pangeran dan Primadona sekolah yang jadi bertambah.
Setiap saat dan setiap hari, ada aja para para cewek yang tereak histeris saat 'Pangeran Sekolah' tebar pesona --khusus Fuuma dan Rikuou-- atau para cowok yang bersui-suit atau berdecak kagum saat 'Primadona Sekolah', yang meski cuek bebek alias ga' nanggepin antusias penggemar, lewat dan memancarkan aura cantik mereka. Dan agaknya mulai kali ini, hubungan antara dua kubu itu akan terbina.
Oke! Kita masuk cerita!
-- Di kantin pas jam istirahat--
"Kamui! Kimi!", Kazahaya melambia penuh semangat pada dua kohai-nya dari meja yang udah diisi sama dia, Lelouch, dan Yukito.
"Udah pada ngumpul aja nih?", tanya Kamui begitu nyampe' meja para uke.
"Istirahatnya udah jalan sepuluh menitan ini! Kelas kalian aja yang telat keluarnya.", Kazahaya melirik arlojinya dengan pose manis.
"Buruan pesen makan! Ntar keburu masuk lagi!", kata Lelouch.
"Oke deh! Kita pesen dulu ya?!", Kimihiro dan Kamui meninggalkan meja yang sejak beberapa menit yang lalu udah jadi pusat perhatian beberapa pasang mata di kantin itu.
Kamui dan Kimihiro berjalan masuk medan perang alias masuk ke kerumunan anak-anak yang lagi pesen makan dengan hebohnya. Mereka saling gencet dan saling sikut. Udah berasa kaya' antri BKL aja lah!!
Dan dasar Kamui itu anaknya kecil dan kurus kering, jadilah dia kebawa arus anak-anak dan kepisah dari Kimihiro.
"Waduhh!! Kamui!!", panggil Kimihiro.
"Udah, ga' pa-pa! Kamu duluan aja!", balas Kamui setengah berseru untuk mengalahkan tereakan anak-anak yang kelewat lebay.
Sepeninggal Kimihiro, jadilah Kamui berjuang mati-matian menerobos lautan manusia yang ada di depannya. Dia nyelip ke kanan, nyelip ke kiri. Tapi ga' ada hasil. Yang ada dia malah kedorong mundur dan jatoh.
Kamui udah nutup mata aja. Pasrah.
HAP!!
Tepat saat tubuh Kamui udah tinggal beberapa inchi dari tanah, ada sesorang yang melukin pinggangnya agar dia ga' jatuh.
"Kamu ga' pa-pa?"
Kamui pelan-pelan membuka matanya dan begitu pupilnya fokus, dia sadar kalo orang yang nolongin dia adalah si Fuuma.
Mereka tatap-tatapan agak lama. Senyum Fuuma perlahan terkembang. Seme satu itu kembali menyerang Kamui dengan feromonnya.
"Ma..makasih, Senpai.", ucap Kamui berusaha tersenyum.
Fuuma pede, "Bukan apa-apa."
Dan mereka tatap-tatapan lagi. Satu kantin udah heboh aja liat mereka yang lagi sok syuting sinetron itu.
"Anoo...Senpai.", kata Kamui.
"Panggil Fuuma aja!", Fuuma tetep tebar senyum maut.
"Iya deh. Fuuma!"
"Hnn?", respon Fuuma dengan suara yang menggoda.
"Kakiku keinjek nih!", Kamui akhirnya ngomong sambil meringis nahan sakit.
GUBRAKK!! Fuuma senyumnya jadi garing.
"Upss, sori!", serta merta ia mindahin kakinya.
"Ga' papa.", Kamui senyumnya masih ga' enak.
"Bener ga' papa?", Fuuma sok-sok cemas.
"He'eh"
"Ga' ada yang sakit?"
Kamui menggeleng.
"Ga' butuh apa-apa gitu dari aku?", Pertanyaan Fuuma makin kemana-mana.
"Ngg..ada sih.."
"Apa?", Fuuma makin pasang tampang sok keren (Fuuma : emang gue keren geto!).
"Itoo.."
"Lo mau melukin Shirou sampe' kapan, Buaya?", Rikuou tiba-tiba datang dan ngegeplak ubun-ubun Fuuma, "Ga' liat apa dia udah jijik gitu liat muka lo?"
"Fuuma ngeliat tangannya dan buru-buru melepasnya, "Wahh, maaf banget!"
Kamui tersenyum lega.
"Nih pesenan lo!", Rikuou meletakkan nampan di tangan Fuuma yang kaya'nya ada indikasi bakal melukin Kamui lagi.
"Kamu udah dapat tempat duduk?", tanya Fuuma ke Kamui yang artinya ngacangin Rikuou.
"Udah! Di sana!", Kamui nunjuk ke tempat duduk para uke --di mana Kimihiro udah nikmain pesenannya--.
"Boleh ikutan gabung?"
NGEKK!! Kuping si Fuuma ditarik Rikouo menjauhi Kamui menuju meja para seme yang arahnya berlawanan dengan meja para uke.
"Selamat mesen makanan ya, Shirou! Kapan-kapan kalo buaya ini ganggu lo lagi, serang aja pake' bola energimu!", ujar Rikuou sambil manjauh dan tetep ngejewer si Fuuma.
Kamui yang cengok liat kelakuan dua pria yang baru ninggalin dia itu segera balik lagi ke kerumunan dan berjuang mati-matian mesen makan.
Setelah sepuluh menit tragis, akhirnya Kamui nongol dari kerumunan dengan nampan di tangannya. Semua uke tepuk tangan melihat keberhasilan Kamui --kecuali Lelouch--. Dan mereka mulai makan sambil ngobrol.
"Kaya'nya ada yang lagi gencar di deketin nih!", Kazahaya buka topik.
"Sapa?", tanya Kimihiro ingin tahu.
"Ya ada lah pokoknya!", Kazahaya ngelirik Kamui yang bikin Kimihiro senyum penuh pengertian.
"Apa?", tanya Kamui bingung saat dua pasang temennya ngeliatin dia.
"Kaya'nya si Fuuma kesengsem berat!", Kazahaya ngomong ke Yukito yang ditanggapi dengan senyuman khas cowok berambut perak itu.
"Nggak nyangka bakal laku secepat ini.", kata Lelouch cuek sambil melap bibir pake' tisu.
"Emang dia cantik sih.", balas Kimihiro.
Kamui mengunyah pentol sambil ngeliatin temen-temen ukenya bergantian, "Kita ni lagi ngomongin apa dan siapa sih? Kok aku ga' nangkap?"
Telepon di ruang tengah apartemen Kamui berbunyi. Cowok manis bermata violet, yang malam ini hanya mengenakan kimono mandi itu, keluar kama dan mengangkatnya.
"Halo?", sapa Kamui.
"Eh, udah diangkat ini!"
"Mana? Mana?"
"Yuki aja deh yang ngomong!"
Kamui bengong denger suara rame-rame di ujung lain telepon. Asli nih, para uke lagi pada ngumpul.
"Woi, beneran dong!", seru Kamui rada jengkel.
"Kamui?", terdengar suara yang lembut sekali.
"Yukito ya?!", tebak Kamui.
"He'eh!", Yukito mesem di ujung sana.
"Kok ga' telepon ke hape aja?", tanya Kamui yang duduk di sofa deket meja kecil tempat teleponnya berada.
"Laen operator. Pulsa kita sekarat ini, tanggal tua!"
"Oohh! Ya udah! Kapan-kapan kita ganti ke EXCEL (author : huahahaha, plesetan apa tuh?!) aja! Murah tuh! Bisa telepon-teleponan berlima pula!", Kamui promosi.
"Boleh,boleh! Bisa sering-sering telepon gitu ya?!", Suara Yukito makin manis aja.
"Terus, dalam rangka apa nih teleponnya? Rame-rame gitu lagi?", tanya Kamui.
"Oh iya, jadi lupa deh!", Yukito nepuk jidat, "Kita mau ngajakin keluar. Mumpung malem minggu ini!"
"Keluar?", raut wajah Kamui berubah.
"Iya. Ke distro yang baru buka itu. Kata temen-temen koleksinya bagus-bagus lho! Lucu-lucu! Dan ada diskon promosinya! Ga' tanggung-tanggung, 80%-an! Makanya...bla..bla..bla.."
Yukito masih semangat mendeskripsikan distro yang akan mereka kunjungi sementara Kamui makin gelisah dan terkadang membagi perhatiannya antara telepon dan menengok pintu kamarnya.
"Kamui? Denger ga'?", panggil Yukito yang membuat Kamui sadar.
"Eh..iya!"
"Jadi gimana?", Yukito memastikan, "Kita jemput ke rumah kamu aja nih?! Alamat kamu di mana?"
Kamui makin bingung, "Eee...anu.. Aku sebentar lagi juga mau keluar nih!"
Yukito mengerutkan dahi, "Kamu juga mau keluar?"
"Itu....aku ada urusan.", Kamui bohong lagi, "Aku ada kerjaan."
"Ada kerjaan?", tanya Yukito, "Kamu kerja sambilan?"
"I...iya."
"Di mana? Mungkin abis dari distro kita bisa mampir tempat kerja kamu!"
"Ga' usah!", seru Kamui yang membuat Yukito rada kaget.
"Kenapa?"
"Aku ga' bisa konsen kalo kerjaku diliatin."
Diam sejenak. Baik Kamui mau pun Yukito tak ada yang bicara.
"Kamu ga' lagi nyembunyiin sesuatu kan, Kamui?", incar Yukito.
DEGG!!
Kamui kaget banget ditodong pertanyaan macam gitu sama Yukito. Dia ga' nyangka cowok berkacamata itu peka juga.
"Eng..enggak! Emang aku nyembunyiin apa?", Kamui berusaha agar suaranya terdengar normal.
Yukito diem lagi semantara Kamui kerja jantungnya jadi gila-gilaan.
"Ya udah deh kalo gitu! Mungkin next time bisa pergi sama-sama lagi.", kata Yukito akhirnya.
Kamui menghela napas lega. Tapi sedetik kemudian mimik mukanya jadi merasa bersalah, "Maaf banget ya?!"
"Ga' pa-apa! Masa' kita juga mau maksain?! Orang kamu ada urusan juga!"
"Janji deh, lain kali pasti aku bisa pergi breng kalian!"
"Iya, iya!", kata Yukito sabar, "Tapi kalo kamu ada masalah, jangan ada yang disembunyiin ya?!"
"Eh?", Kamui bingung.
"Malem, Kamui!"
"Malem."
Kamui menatap gagang telepon yang baru ia letakkan dengan peraaan campur aduk. Maafin aku, Yuki!
Kamui terkejut saat merasakan ciuman di pundaknya. Ia menoleh dan menemukan ada pria berumur sekitar tiga puluhan yang kini tengah berusaha memeluknya.
"Jahat sekali kamu! Meninggalkanku sendirian di dalam.", kata pria itu -- yang kalo dikomikin, wajahnya sebagian besar ketutup poni dan cuma keliatan hidung dan mulutnya -- dengan suara menggoda.
"Aku kan harus angkat telepon!", Kamui hanya tersenyum tipis.
"Jangan pernah coba lari dariku!", kata pria tadi sambil menarik dagu Kamui mendekati wajahnya.
"Hnn.", hanya itu yang keluar dari tenggorokan Kamui saat bibirnya dikecup.
"Dia ga' bisa.", jawab Yukito singkat.
"Yahh...", Kimihiro dan Kazahaya, yang duduk di bangku depan sedan mewah yang mereka pakai malam itu, menghela napas kecewa, "Ga' lengkap nih kalo ga' ada Kamui."
"Kenapa Kamui ga' bisa?", tanya Lelouch yang duduk di belakang bareng Yukito.
"Katanya ada kerjaan.", jawab Yukito lempeng.
"Jadi gimana nih?", Kimihiro ngeliatin temen-temennya satu-satu.
"Kalo ke distro-nya besok-besok, aku takut uangku keduluan amblas buat yang lain!", Kazahaya., yang duduk di kursi supir, meletakkan dagunya di kemudi.
"Ya udah, kita jalan aja duluan!", Lelouch ngasih saran.
"Jadi Kamui ditinggal nih?", tanya Kimihiro.
Lelouch angkat bahu, "Mau gimana lagi? Lagian, masih ada hari lain buat jalan-jalan sama Kamui-nya!"
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat tanpa Kamui. Dan bener aja! Sepanjang perjalanan, yang ada mereka cuma diem-dieman ga' jelas.
Kazahaya dan Kimihiro kadang-kadang cuma saling pandang. Dan sesekali Kazahaya menilik kondisi dua penumpang di kursi belakang dari spioan di atasnya. Yukito lagi liatin lampu kota dari jendela kaca di sebelahnya. Lelouch asyik baca buku yang kaya'nya ada hubungannya sama hukum dan pemberontakannya *busyet dah si Lulu* gitu!
Akhirnya Kazahaya ga' tahan, "Ngomong napa? Jadi kaya' di kuburan ini!"
"Ngomong apa?", tanya Lelouch sambil membalik halaman buku.
"Apa kek! Banyak topik kan?! Kimihiro juga nih!"
"Lha itu kamu udah ngomong!", Kimihiro-nya ikutan letoy.
Kazahaya liatin Yukito daru spion atas, "Yuki! Kok jadi suram? Padahal tadi ceria!"
"Udah, kamu nyetir aja yang bener!", kata Yukito yang kini menyilangkan tangan sambil tetap memandangi lampu-lampu kota. Pikirannya melayang ke Kamui.
Matahari udah lumayan tinggi saat Kamui membuka mata. Ia duduk dari tidurnya yang membuat tubuh bagian atasnya yang polos lolos dari perlindungan selimut.
Kamui meraih gelas berisi air yang ada di meja kecil deket ranjang dan meneguknya. Saat mengembalikannya ke meja, ia melihat ada amplop panjang dengan isi yang tebal dan secarik kertas terlipat di atasnya.
Kamui membuka lipatan kertas itu.
"As usual, Kamui! You are a great servant!
P.S : Kalau masih kurang, bilang saja! Tambahannya akan segera kukirim."
Selesai membacanya, dengan emosi Kamui meremas kertas itu menjadi bulatan kecil dan melemparnya ke dinding. Kemudian ia meringkuk di ranjang dengan dua lengannya memeluk lutut. Air mata mengalir dari sudut matanya.
"Tolong hentikan semua ini!", katanya miris.
Kamui memukuli kaki dan lengannya, lalu menjambaki rambutnya sendiri. Ia meraung dan menangis makin keras. Ada perasaan benci pada dirinya senduru yang membuat emosinya tak terkendali.
KeN : Gue gigit!
Wahahahaha! Ada apa dengan Kamui? Udah berasa judul film aja!
Yahh, mungkin udah banyak yang tahu tentang apa yang terjadi dengan Kamui. Pokoknya Kamui tu gitu, gitu sama gitu-gitu lah, hehehe *ditabok* !
Awalnya saya terkejut saat Ritsu ngasih ide untuk langsung to the point. Padahal cerita ini sebenarnya baru muncul di chapter tiga atau empat gitu! Tapi Ritsu bilang kalo kebanyakan chapter takutnya ntar ga' fokus sama inti! Jadi ya udah lah, saya nurut aja.
KeN : Chapter depan giliran elo, Fum! *senyum setan*
Fuuma : Lo mau apain gue? *pucet*
KeN : Liat aja! Gue bikin lo nyesel udah lahir ke dunia ini! Hahahahahaha... *ketawa bengis*
Fuuma : Sebenernya gue tu ga' tau di mana letak kesalahan gue yang bikin gue tu selalu di-bashing para author di kebanyakan fict mereka! *mewek*
Biarkan Fuuma merenungi nasibnya yang buruk! Yang penting komen harus dan WAJIB dikirim! Yang mau kirim FLAME juga boleh kok kalo udah bosen hidup!!
Ketemu lagi di chapter selanjutnya ya?! Mohon dukungannya!!
Jaaaaaa.......................


0 komentar:
Posting Komentar