A Heart - chapter 3

>

A Heart --chappie 3--

An orifict by : KeN ft. Ritsu

Special thank’s to :

1. BIG BOSS -- Allah SWT --

2. All readers who always waiting for our stories



-----------------------------------------------------------------------------------------------------

--Ritsu POV--

Yakin tidak mau diantar?”, tanya ibu dari dalam mobil.

Aku menggeleng.

Baiklah kalau begitu.”, kata ibu, “Hari ini Ibu akan pulang cepat. Jadi biar ibu yang temani Ran. Kamu istirahat saja di rumah.”

Tidak apa-apa?”, tanyaku.

Ibu tersenyum, “Hari ini Ibu cuma ada rapat kecil setelah itu langsung pulang. Lagipula kamu juga pasti lelah setiap hari harus ke tempat Ran setelah pulang sekolah.”

Aku hanya diam.

Bagaimana?”, tanya ibu.

Sampaikan salamku untuk Ran.”

Pasti.”

Hnn.”

Sampai ketemu nanti malam.”, Ibu menghidupkan mesin.

Hnn.”

Ibu tersenyum dan mulai menjalankan mobil. Kutunggu mobil itu belok di ujung jalan dan kemudian menuju arah berlawanan.

Pagi yang seperti biasa. Tak ada rutinitas penting lain selain sekolah. Benar juga kata Ran. Kalau aku tidak suka sekolah, lalu untuk apa aku datang ke tempat itu?

Sekolah sudah ramai saat aku tiba. Kulihat satu-dua gerombolan anak perempuan membicarakan yukata dan hanabi.

Sebentar lagi memang musim panas sih. Tapi bagiku, tak ada yang spesial dari musim panas. Aku tak pernah punya teman untuk merayakannya. Aku tak begitu pandai bergaul. Mengingat keluargaku sering pindah ke kota satu ke yang lain, membuatku tidak mudah beradaptasi. Ran sendiri…………….jauh lebih tidak mungkin untuk menemaniku ke festival musim panas. Biasanya kami berdua nonton hanabi dari siaran langsung yang disiarkan di televisi kamar inapnya.

Dengan mata berbinar Ran akan berujar lirih, “Waahhh, kirei!!! Kapan ya aku bisa lihat langsung?”

Dan setiap mendengarnya, ibu akan beralasan untuk keluar kamar. Padahal aku tahu ibu keluar kamar inap Ran untuk menangis. Dan setiap kususul keluar, ibu pasti akan menyalahkan dirinya karena melahirkan Ran yang cacat.

Aku menghentikan langkah di dekat ruang loker. Pikiranku melayang ke Ran. Anak itu…………. Kenapa hanya dia saja yang merasakan itu? Padahal kami kembar. Padahal….

Ogata?”

Lamunanku buyar saat kudengar suara itu di belakangku. Kubalikkan badan dan menghadap sang pemilik suara.

He? Sepertinya anak perempuan dari kelasku, tapi aku tidak ingat namanya. Dia berdiri dengan ekspresi sedikit gugup.

Ya?”, kataku.

Eee…anoo..”, Dia merogoh tas slempangnya dan menarik sesuatu dari sana yang diserahkan padaku dengan kalimat terbata, “Ke…kemarin sepertinya…kamu terburu-buru. Buku teks bahasamu ketinggalan.”

Aku menerima bukuku dari tangannya dengan bingung. Kenapa dia sebegitu gugupnya?

Sudah ya?!’, katanya sambil bergegas meninggalkanku.

Hei!!”, panggilku cepat.

Dia berhenti dan perlahan berbalik badan.

Thank’s.”, kataku singkat.

Ia mengangguk kaku.

Maaf, aku lupa siapa namamu.”, ujarku jujur.

Oh…”, Dia gugup lagi, “Kato Miki.”

Hnn. Salam kenal, Miki.”

Tiba-tiba wajah Miki sedikit memerah, “Ah, salam kenal juga, Ogata.”

Panggil saja Ritsu.”

Bo…bolehkah?”

Aku mengangguk. Dan wajah Miki makin merah. Ia tersenyum padaku dan tidak jadi pergi. Membuatku bingung lagi.

Ada……yang lain?”, tanyaku.

Ohh, tidak! Aku hanya ingin jalan bareng…Ritsu…ke kelas.”, katanya yang cepat-cepat ditambahi, “Tapi kalau Ritsu tidak keberatan.”

Hah… Kenapa tidak bilang saja dari tadi?

Tunggu sebentar. Aku mau ambil baju olah raga di loker.”, kataku.

Iya!”, jawab Miki yang wajahnya masih tersipu.

+ + + + + + + + +

--Ken POV--

Terlambat lagi, eh?”, tanyanya setiap pagi begitu aku sampai di sekolah.

Apa kau?”, tanyaku. Sok sinis.

Okazaki Ken. Harus berapa kali kubilang kalau kau sedang berhadapan dengan ketua OSIS. Jadi jaga tingkahmu.”, balasnya dengan nada sok berwibawa.

Aku tahu kapan waktunya untuk menjaga kelakuanku kapan tidak, Orang aneh!”, kataku yang sudah kembali nyengir.

Hahh…”, Lawan bicaraku pun ikut kembali ke wajah asalnya. Wajah lelah berurusan denganku, “Kau ini…mau terus-terusan telat sampai kapan?”

Aku hanya mengangkat bahu sambil melanjutkan langkah masuk ke pekarangan sekolah.

Aku sudah habis alasan supaya kamu bebas hukuman.”, katanya lagi.

Namanya Kato Ryuuzaki. Ketua OSIS di SMA ini sekaligus teman sekelasku sejak SMP.

Aku kan tidak pernah menyuruhmu untuk membelaku.”, kataku santai.

Masukkan bajumu itu ke celana.”, bisiknya saat ada guru yang menghampiri kami.

Lagi-lagi Okazaki.”, kata guru itu dengan suara berat. Kobayashi-sensei, guru olahraga dengan wajah dingin yang membuat wajahnya terlihat angker.

Ohayou gozaimasu, Sensei! Hari ini pun Anda terlihat sangat tampan!”, kataku asal. Ryuuzaki mati-matian tidak tertawa di sebelahku.

Kupastikan kali ini kamu dihukum!”, kata Kobayashi-sensei lagi.

Eeee…..tunggu sebentar, Sensei…”, Kulihat Ryuuzaki mencoba menolongku lagi.

Yo, Sensei! Langsung beri saya hukuman saja!”, kataku.

Kobayashi-sensei dan Ryuuzaki menatapku bersamaan dengan ekspresi berbeda. Ryuuzaki dengan kaget dan cemasnya, sedangkan Kobayashi-sensei dengan kaget tapi senang karena merasa keadilan telah datang padanya.

Kita perlu bicara dengan kepala sekolah.”, kata Kobayashi-sensei yang hampir menggiringku ke kantor.

Saya tidak jamin saya akan dihukum kalau kita pergi ke sana. Mengingat kepala sekolah sangat dekat dengan ayah saya.”, ujarku yakin.

Ryuuzaki menatap kami berdua bergantian masih dengan wajah cemasnya. Kobayashi-sensei mendengarkan ucapanku. Kemudian mengangkat sebelah alisnya dan terlihat setuju denganku.

Baiklah! Untuk buku pelanggaran, biar aku yang urus. Kamu, lari keliling lapangan sepak bola sampai bel istirahat!”, Kobayashi-sensei mengeluarkan hawa-hawa ke-angker-annya.

OSH!!”, kataku yang langsung menuju lapangan sepak bola di halaman samping.

Ken!”, panggil Ryuuzaki bersamaan dengan masuknya Kobayashi-sensei ke gedung sekolah.

Ya?”

Apakah…….”

Aku bosan diperlakukan istimewa terus menerus.”, kataku yang melanjutkan langkah ke lapangan sepak bola.

+ + + + + + + + +

--(dari sini sampai ke bawah)Normal POV--

Ritsu!”, panggil Miki saat Ritsu sudah keluar kelas.

Ritsu melongok lagi ke dalam kelas.

Ke kantin?”, tanya Miki.

Hnn….”, Ritsu terlihat berpikir, “Boleh. Aku ke ruang guru sebentar. Kamu duluan saja, nanti aku menyusul.”

Baik. Aku akan carikan tempat untukmu.”

Ah, tidak perlu begitu.”

Tidak apa-apa. Aku ga’ keberatan kok.”, kata Miki yang mukanya merah lagi.

Ritsu hanya mengangguk bingung, “Ya sudah. Terima kasih.”

Miki mengangguk senang dan Ritsu pun melanjutkan misi ke ruang guru yang sama-sama ada di lantai dua itu.

Kenapa dia sampai senang begitu sih?, batin Ritsu.

+ + + + + + + + +

Wah, wah!”, terdengar suara mengejek saat Ken melepas lelah dengan duduk di halaman samping sekolah dan minum air mineral.

Lihat! Siapa yang baru dihukum?”

Ken mendongak dan mendapati anak-anak yang mengeroyoknya kemarin.

Ternyata nama ayahmu tidak selamanya bisa menyelamatkanmu ya?!”, ledek anak-anak itu lagi.

Sekarang kalian juga tidak bisa bilang kalau aku sok lagi.”, kata Ken cuek sambil minum air mineral.

Tergantung dari bagaimana caramu bersikap.”

Memangnya aku pernah buat masalah dengan kalian?”, tanya Ken. Agaknya mulai lelah diperlakukan seperti musuh.

Kelakuanmu yang sok itu yang menyebalkan.”, pemimpin rombongan anak-anak itu maju selangkah.

Mananya dari kelakuanku yang menurut kalian sok itu? Bilang saja kalian iri karena aku lebih tenar!”, Ken naik pitam juga.

Brengsek! Maumu apa sebenarnya?”, Anak-anak itu terpancing emosinya.

Pergi kalian dari hadapanku, Pecundang!”, kata Ken, sedikit berteriak.

Kami akan pergi kalau kau mau minta maaf atas kalimatmu tadi.”

Untuk apa? Kenyataannya begitu!”

Kalau begitu urusan ini akan jadi lebih panjang.”

Anak-anak itu menggulung lengan baju mereka. Pergumulan akan kembali terjadi.

+ + + + + + + + +

Permisi, Sensei.”, kata Ritsu yang masuk ruang guru.

Ah, Ogata. Masuklah.”, ujar Takama-sensei. Wali kelas Ritsu.

Ritsu mengangguk sambil menutup pintu di belakangnya.

Maaf ya, mengganggu acara istirahatmu.”, kata Takama-sensei yang menggeser tempat duduk untuk Ritsu.

Tidak apa-apa, Sensei.”, kata Ritsu, “Kalau boleh tahu, ada perlu apa?”

Duduklah!”, Takama-sensei duduk di kursinya, “Bagaimana hari keduamu?”

Hnn. Baik, saya sudah punya satu teman di kelas.”

Takama-sensei mengangguk, “Baguslah! Semoga kamu betah di sini.”

Ritsu hanya mengangguk lagi, Kenapa tidak langsung saja sih?

Jadi?”, Takama-sensei memulai, “Kudengar kamu punya prestasi di bidang melukis.”

Hanya hobi.”, jawab Ritsu singkat.

Nyatanya kamu dapat banyak penghargaan dari hobimu itu.”, Takama-sensei tersenyum di wajah bijaksananya.

Hnn.”

Wah, kamu tidak banyak omong juga ya?!”

Ritsu hanya melebarkan sedikit bibirnya. Maksudnya sih tersenyum, tapi jadinya hanya seringaian tak jelas.

Langsung saja.”, Takama-sensei lebih serius, “Apa kamu bersedia mewakili sekolah ini untuk kejuaraan nasional?”

Mata Ritsu sedikit melebar.

Tidak harus dijawab sekarang. Dipikirkan dulu matang-matang. Kejuaraannya masih satu setengah bulan lagi.”, lanjut Takama-sensei begitu melihat ekspresi Ritsu.

Ritsu lagi-lagi hanya mengangguk.

Takama-sensei berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah rak file dan mencari sesuatu.

Ini dia!”, katanya saat menemukan apa yang dicari, “Kamu baca dulu ketentuannya. Formulirnya juga ada di map itu.”

Ritsu menerima map itu dari Takama-sensei.

Tidak ada paksaan dari pihak sekolah. Jadi, tidak usah sungkan kalau kamu keberatan.”, tambah Takama-sensei.

Ritsu mengangguk sambil membaca sekilas ketentuan lomba.

Takama-sensei!”

Ritsu dan Takama-sensei menoleh ke asal suara. Ada guru dengan wajah angker mendekati mereka berdua.

Kobayashi-sensei?”, Takama-sensei tersenyum.

Kepala sekolah tidak ada?”, tanya guru yang dipanggil ‘Kobayashi-sensei’ tadi.

Sepertinya hari ini ada rapat kepala sekolah se-prefektur.”, Takama-sensei mengingat-ingat, “Ada apa?”

Aku butuh tanda tangannya.”, jawab Kobayashi-sensei sambil mengacungkan buku tipis berwarna merah, “Milik Okazaki.”

Alis Ritsu terangkat. Dia kenal nama marga itu. Satu nama dengan marga Okazaki yang dia kenal. Ken?

Dia lagi?”, tanya Takama-sensei.

Anak itu benar-benar perlu dididik keras.”, Kobayashi-sensei meletakkan buku tipis tadi ke meja Takama-sensei, “Masih kelas dua tapi buku pelanggarannya sudah hampir penuh.”

Ritsu mendengarkan dengan seksama sambil berpura-pura membaca ketentuan lomba.

Masa muda, Kobayashi-sensei. Masa memberontak.”, Takama-sensei tersenyum maklum.

Tapi dia bukan hanya pemberontak. Lebih pantas disebut berandal!”, kata Kobayashi-sensei agak keras, “Selalu terlambat ke sekolah. Baju tidak pernah rapi. Tidur di setiap mata pelajaran. Dan selalu berkelahi. Aku heran dia bisa dapat peringkat empat besar di kelas.”

Takama-sensei terkekeh, “Kita tidak bisa melihat kemampuan seseorang dari kelakuannya kan?!”

Kau ini, selalu membela murid.”

Yahh, kita pernah seusia mereka kan?!”

Tapi seingatku, aku tak pernah berkelakuan sebrutal Okazaki.”

Perubahan jaman. Ingat itu.”, Takama-sensei membuka buku pelanggaran Ken.

Terus saja kau bela dia!”, Kobayashi-sensei mendekati kursi Takama-sensei dan ikut melihat buku pelanggaran Ken, “Kalau begitu, kau saja yang tanda tangan. Kurasa kepala sekolah tidak akan keberatan kalau wakasek kesiswaan sepertimu yang menggantikan tanda tangannya.”

Takama-sensei tersenyum lagi, “Kamu mengenalku dengan baik.”

Kobayashi-sensei mengangkat sebelah alisnya.

Baiklah! Akan kutangani ini.”, kata Takama-sensei sambil menandatangani buku pelanggaran Ken, “Ngomong-ngomong, Okazaki kamu apakan? Atau dia berhasil lolos seperti biasa?”

Dia sendiri yang minta hukuman.”, Kobayashi-sensei melipat tangan, “Kusuruh dia lari keliling lapangan sampai istirahat. Harusnya sudah selesai.”

Wahh! Olah raga sekali ya?!”, komentar Takama-sensei sambil menyerahkan buku pelanggaran Ken.

(Stop! Gw bisa bikin adegan YAOI dua guru itu kalo gw terusin.)

Dia pantas mendapatkan itu sekali-kali.”, kata Kobayashi-sensei, “Terima kasih atas kerja samanya.”

Tidak masalah.”, Takama-sensei tersenyum lagi.

Kobayashi-sensei mengangguk sekali lantas meninggalkan meja Takama-sensei.

Dia itu sebenarnya hanya ingin murid-murid disiplin.”, kata Takama-sensei sambil melihat punggung Kobayashi-sensei menjauh.

Ritsu mendongak dan menatap wali kelasnya.

Rasanya waktumu jadi terbuang banyak, Ogata.”, Takama-sensei tersenyum kecut, “Kamu boleh pergi.”

Ritsu mengangguk lalu berdiri, “Permisi, Sensei.”

Jangan lupa untuk memikirkan tawarannya. Tapi tidak ada paksaan lho!”, kata Takama-sensei lagi.

Ritsu sekali lagi mengangguk sebelum benar-benar keluar ruang guru.

Selama perjalanan ke kantin –menemui Miki-- , Ritsu banyak berpikir tentang pembicaraan dua guru tadi. Termasuk kalimat Takama-sensei. Kita tidak bisa melihat kemampuan seseorang dari kelakuannya kan?!

Ritsu berhenti di lorong menuju kantin. Mengingat pertemuannya dengan Ken kemarin. Saat ia menemukan Ken terkapar dengan wajah memar. Saat ia melihat permainan piano Ken.

Kemudian mata Ritsu melebar. Ia memutar badan, tidak jadi ke kantin. Ia merasa harus pergi ke suatu tempat. Ritsu agak mempercepat langkahnya.

+ + + + + + + + +

Hhh… Hhhh.. Kalian mau lagi?”, tanya Ken di tengah nafasnya yang terengah setelah berhasil menumbangkan dua dari lima anak laki-laki yang mengeroyoknya.

Jangan sombong kau!”, Salah satu dari tiga yang tersisa maju menyerang.

Tinju melayang dan Ken dengan sigap mundur untuk menghindar. Sadar serangannya gagal, anak laki-laki tadi makin brutal menyerang. Lagi-lagi kalah cepat. Tangannya tertangkap oleh Ken yang langsung diputar ke belakang badannya.

Aaargghhhh!!”, jeritnya membumbung ke angkasa.

Kalian yang mulai ini!”, Ken menendang punggung anak laki-laki itu membuatnya tumbang menyusul yang lain yang sudah terkapar di tanah dan mengerang kesakitan sambil memegangi anggota tubuh mereka yang dislokasi.

Sedangkan dua anak laki-laki yang melihat ketiga temannya terkapar jadi sedikit bimbang.

Jangan bilang kalau nyali kalian jadi ciut!”, Ken tersenyum mengejek.

Brengsek!!”, seru keduanya yang maju menyerang bersamaan. Masing-masing dari kiri dan kanan Ken.

Aksi makin brutal. Ken yang dikeroyok agaknya juga makin kewalahan mengingat tenaganya terbatas. Tapi ia tak mau kalau hanya menyerah dan memilih untuk tetap mengayunkan tangan dan kaki ke segala arah untuk mengimbangi serangan dua pengeroyoknya.

Ada apa, heh? Sudah lelah rupanya.”, kata salah satu anak laki-laki yang menyerang Ken saat ia merasa gerakan Ken makin lambat.

Ken tak menjawab, ia masih sibuk mempertahankan diri. Deru nafasnya makin tak karuan. Rasanya memang dia tak akan menang kalau dikeroyok begini.

Saat itu, ada yang mengintip di balik pohon besar. Tak jauh dari perkelahian yang tengah berlangsung. Sepasang mata biru Prussian menatap was-was. Mata milik Ritsu.

BUGG!!

Satu serangan telak menyambut ulu hati Ken, membuatnya tersungkur. Ken hendak berdiri lagi saat satu serangan di punggungnya menekannya lagi ke tanah.

Ritsu hampir saja berteriak dan buru-buru menutup mulutnya.

Ada apa, Jagoan? Sekarang siapa yang pantas disebut pecundang?”, Dua anak laki-laki tadi tertawa.

Habisi saja dia!”, kata anak laki-laki yang menginjak punggung Ken kuat-kuat.

Dua anak laki-laki itu tertawa lagi. Suaranya terdengar mengerikan. Tanpa ampun hujan tendangan dilayangkan ke tubuh Ken yang tengkurap secara bertubi-tubi. Refleks Ken melindungi kepalanya dan bergerak miring.

Fatal! Kini ulu hatinya yang diserang.

Ritsu segera menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membantu Ken.

Ken berusaha bangkit. Tapi belum ada sejengkal dari tanah, tubuhnya ditendang lagi. Kali ini membuatnya sedikit muntah darah.

Lebih baik kau tidak banyak mengeluarkan tenaga. Karena setelah ini kau akan berteriak kesakitan.”, kata anak laki-laki yang memegang lengan Ken bersiap memutarnya ke arah yang tidak semestinya.

PRAKK!!

Aaakh!!”, Salah satu anak laki-laki yang mengeroyok Ken berteriak kesakitan dan menggosok belakang kepalanya. Ada luka robek yang berdarah.

Dua anak laki-laki itu berbalik badan. Menemukan anak perempuan yang tidak mereka kenal berdiri dengan mengacungkan batang pohon yang lumayan besar.

Anak itu sedikit terengah. Tampaknya tadi ia memukul dengan sekuat tenaga.

Wah, wahh! Ada lagi yang cari masalah!”, kata anak laki-laki yang masih memegang lengan Ken.

Kalian mau apa?”, tanya anak perempuan itu. Ritsu.

Uso! Anak kucing?, batin Ken saat melihat Ritsu berjarak sekian meter darinya. Jangan ke sini!

Ini tidak ada urusannya denganmu. Jadi lebih baik kau tutup mulut dan pergi saja!”, kata anak laki-laki tadi.

Pergi? Hei, dia barusan memukulku!!”, Anak laki-laki yang dipukul Ritsu protes pada rekannya.

Kau berani pada anak perempuan?”, sahut yang masih memegang lengan Ken.

Dia sendiri yang cari penyakit!”, Yang dipukul Ritsu ngotot.

Yang memegang lengan Ken terkekeh, “Ya sudah. Asal jangan sampai kau bunuh dia.”

Tergantung sejauh mana dia memberontak.”, Anak laki-laki yang dipukul Ritsu mendekat ke arah gadis bermata biru Prussian itu.

A…nak….kucingghhh…la..ri..”, Ken berusaha berteriak.

Kau diam saja dan lihat permainannya!”, Punggung Ken ditendang lagi.

Ritsu mengambil langkah mundur setiap anak laki-laki di hadapannya selangkah lebih maju mendekatinya.

Kau dipanggil ‘anak kucing’?”, tanya anak laki-laki di hadapan Ritsu, “Kau peliharaan anak menyedihkan itu?”

Bukan urusanmu!”, sahut Ritsu dengan nada bergetar. Campuran menantang dan takut.

Anak laki-laki itu terkekeh, “Ya, ya, ya! Itu memang bukan urusanku! Urusan kita hanya tentang pemukulan ini!”

Secepat kilat anak laki-laki itu mendekat ke arah Ritsu. Membuatnya terlambat membentengi diri. Anak laki-laki tadi merebut batang pohon yang ada dalam genggaman Ritsu dan langsung dipukulkan balik pada gadis itu.

Ritsu limbung dan kepalanya terbentur pohon cukup keras. Tak ada erangan atau rintihan sakit. Tubuh Ritsu ambruk ke tanah dalam diam.

Anak laki-laki yang memukul Ritsu tersenyum setan dan kembali menghadap Ken.

Sudah puas?”, tanya rekannya.

Kalau rahangnya tidak patah, namanya mukjizat!”

Wahh, kau kejam ya?!”

Dua anak laki-laki tadi tertawa.

Sekarang, bocah ini enaknya diapakan?”, tanya anak laki-laki yang masih *terus aja* memegang lengan Ken.

Hajar saja sampai sekarat!”

Dan kaki-kaki mereka kembali menghujani tubuh Ken sementara sang korban sudah tidak terlihat memberi perlawanan. Tampaknya sudah pingsan.

Ada gerakan halus dari Ritsu. Ia mendongak dan melihat Ken dijadikan bulan-bulan. Kepalanya pusing dan rasanya sudah tidak sanggup untuk berdiri. Jadi yang bisa Ritsu lakukan hanya merangkak mendekat. Ia tahu ini berbahaya. Tapi kalau dibiarkan akan ada nyawa yang melayang.

Ritsu menyeruak di antara hujan tendangan. Ia melindungi tubuh Ken yang entah masih ada jiwanya atau tidak.

Minggir kau!”, Salah satu dari anak laki-laki itu menyeret tangan Ritsu menjauh dari tubuh Ken. Tapi gadis itu malah mempererat pelukannya pada tubuh Ken.

Kini Ritsu yang jadi korban. Tendangan itu nyasar ke perut dan punggungnya. Ia banyak memekik perlahan. Pandangan matanya perlahan kabur.

Dan tepat sebelum kegelapan menyelimutinya, Ritsu melihat Ken membuka matanya dengan lemah dan berujar lirih, “Anak…kucing....”

--------------------------To Be Continue--------------------------

Yo, minna!!

Liburan bukannya hiatus malah jadi makin banyak kerjaan. Dan bukannya fokus aja ke satu judul, malah nambah kerjaan dengan bikin fict judul lain.

Tapi……yahhhhhh……..gw cuma manusia rakus yang pingin ngewujudin semua yang gw mau. Termasuk bikin fict.

Nee!! “A Heart” udah nyampe’ chappie 3 aja. Dan sebagai penulis, gw makin dibikin puyeng dengan rikues-an si Ritsu. Tu anak punya ide banyak banget. Belum kelar ide ini, nongol ide itu. Ide yang ini udah kelar diketik, minta diganti sama ide baru. Gimana gw ga’ sebel coba? Untung dia masih sepaket sama gw. Coba kalo enggak? Gw jitak tu anak.

Wokeehhh…. Silakan yang mau komen. Ditunggu dengan sabar!!!!!

See ya……………

0 komentar:

Posting Komentar