Summary :
Castral hanya sebuah kerajaan kecil. Kerajaan yang konon rakyatnya tak akan bisa hidup lebih dari usia 25 tahun. Kisah ini bercerita tentang Biskyuu Clan yang mencoba mempertahankan hidupnya setelah kematian sang ibu.
Mempertahankan hidup. Mungkin memang itu kalimat yang tepat.
Dan kali ini Biskyuu sudah ada di istana Castral. Dengan segenggam kecil hasil curiannya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Blood of Judgement – Part 1
Sabaki no Chi © Taeko Tonami
Blood of Judgement © KeN
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Itu dia! Di sini!!”, teriak penjaga saat Biskyuu mencoba kabur setelah mencuri tanaman obat abadi dari Istana.
“Wahh!!”, Dan karena panik, Biskyuu melompat keluar jendela yang cukup tinggi dari tanah.
“Eh? AWAS!!”, teriak Biskyuu saat ia melihat ada sosok berjubah putih yang berdiri tepat di bawah jendela.
GABRUKK!!
Terlambat! Biskyuu pun jatuh menimpa sosok itu.
“Go…gomenasai! Aku buru-buru!”, Segera Biskyuu menyingkirkan diri, “Kamu luka tidak?”
Sosok berjubah putih itu diam.
Biskyuu pun membersihkan baju orang tersebut dari debu dan daun-daun.
“AHH!!”, seru Biskyuu tiba-tiba, “Ada darahku di bajumu!”
Sosok berjubah putih itu masih tetap membisu sambil mengamati jubahnya yang kotor karena darah dari luka di pipi bawah mata kiri Biskyuu.
“Dia di sana! Di taman belakang!”, teriak para penjaga yang berhasil menemukan Biskyuu.
“Lebih baik cepat sembunyi!”, kata sosok berjubah putih. Akhirnya.
“Ada bekas darah!”, seru para penjaga tepat setelah Biskyuu menyembunyikan diri.
“Kalau ketemu, bunuh dia!”, kata pemimpin para penjaga dengan nada dingin dan tajam.
“Baik!!”, jawab para penjaga serempak.
“Ada apa ribut-ribut?”, tanya sosok jubah putih yang keluar entah dari mana dan menghampiri para penjaga.
“Ada penyusup yang mencuri tanaman obat abadi dari rumah kaca. Tadi lewat sini.”, kata pemimpin para penjaga tadi dengan hormat.
“Tak ada seorang pun yang lewat sini.”, kata sosok berjubah putih dengan tenang.
“Tapi bekas darahnya…”
“Ini darahku. Ada keluhan?”, tanya sosok berjubah putih sambil menunjukkan telapak tangannya yang baru saja ia sayat dengan belati pendek.
Semua orang, termasuk Biskyuu yang mengintip dari tempat persembunyiannya, dikejutkan oleh darah si sosok berjubah putih.
Darah biru?, Biskyuu membatin.
“Ayo bubar!”, Pemimpin para penjaga memberi komando.
Dengan cepat kerumunan para penjaga menguap. Langkah mereka sepertinya tergesa. Entah takut atau apa.
“Hapus darahmu dengan dadaku!”, seru Biskyuu yang sudah keluar dari persembunyian. Setelah keadaan aman tentunya.
Sosok berjubah putih itu hanya menatap Biskyuu dalam diam. Tak lama ia membalikkan badan dan terkikik. Membuat Biskyuu salah tingkah karena malu.
“Kenapa kamu tertawa?”, tanya Biskyuu.
Sosok tinggi berjubah putih kembali serius, “Tidak usah dipikirkan. Darahnya akan segera berhenti. Lagipula, kalau darahnya disentuh sembarangan…….”
Kalimat itu terhenti saat serta-merta Biskyuu memeluk tubuh ramping sosok berjubah putih.
“Maaf ya?! Gara-gara aku pakaianmu yang indah jadi kotor.”, kata Biskyuu. Terdengar sangat menyesal.
“Mendiang ibuku pernah bilang, bagi seorang wanita, pakaian itu jauh lebih berharga daripada saudara.”, kata Biskyuu lagi dengan semangat sambil melepaskan pelukannya.
Sosok berjubah putih itu *bahasa EYD-nya sweatdrop?* . Terlihat sedikit bingung. Anak laki-laki yang barusan memeluknya cukup berani untuk mengasumsikan bahwa ia wanita.
“Hnn. Tak akan cukup kalau cuma menjual ini.”, ujar Biskyuu sambil menatap tanaman obat abadi di genggamannya.
Sosok berjubah putih masih tak berkomentar.
“Kalau begitu, suatu saat akan kubawakan baju baru dan menjemputmu!”, kata Biskyuu mantap, “Saat itu aku akan jadi lebih kuat!”
Biskyuu pun berlari pergi meninggalkan sosok berjubah itu lewat jalan tersembunyi. Ia melambaikan tangan, “Tunggu ya?! Tidak akan lama kok!”
Terdengar seperti sebuah janji. Dan rasanya Biskyuu sungguh-sungguh.
# # # # # # # # #
--Sepuluh tahun kemudian—
DZINGG!! ZLEPP!!
Sebuah pedang jatuh menancap di tanah.
“A…ampun, Biskyuu! Aku kalah!”, seru pemilik pedang tadi ketakutan.
“Sekarang kamu tahu kan kalau badan besar itu belum tentu hebat?!”, kata Biskyuu yang tengah duduk di atas batu. Sedikit bangga.
“Ba….baiklah! nih uang yang kujanjikan!”, Pemuda yang menjadi lawan Biskyuu tadi menjatuhkan sekantung uang ke tanah dan berlari ketakutan.
“Uang jangan dilempar dong!”, gerutu Biskyuu sambil memungut kantung uang tadi.
Dan saat itu, ada seorang gadis yang berlari mendekati Biskyuu.
“Biskyuu Clan! Kamu bertanding dengan taruhan uang lagi ya?!”, seru gadis itu sambil mendekat.
“Jangan-jangan kamu benar-benar mau pergi ke istana Eldora ya?!”, kata gadis itu lagi.
“Begitulah.”, kata Biskyuu santai.
“Katanya di istana itu ada penyihir wanita lho! Lagipula, kenapa kamu ingin jadi ksatria dari raja yang wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?”, tanya si gadis.
“Remi.”, Begitulah Biskyuu memanggil si gadis.
“Kamu tahu tidak?”, tanya Biskyuu yang wajahnya berubah horor, “Kalau kita menyebut kata ‘penyihir wanita’ tiga kali, maka kita akn berubah menjadi katak berpunggung mawar yang berwarna pink itu lho!”
Agaknya gadis bernama Remi itu sedikit takut juga.
“Tapi itu kata mendiang ibuku sih.”, kata Biskyuu sambil tertawa dan mengembalikan pedang kembali ke sarungnya.
“Bo…bohong! Sebetulnya kamu tidak ingat wajah ibumu kan?!”, kata Remi yang masih ketakutan.
“Pulanglah sebelum kamu jadi katak!”, kata Biskyuu sambil meenggang pergi.
“Hei! Biskyuu, baka!! Jangan pergi!”, seru Remi, “Aku tidak mau tahu kalau kamu dimakan penyihir wanita!”
“Kurang satu lagi!”, kata Biskyuu usil sambil melenggang pergi.
# # # # # # # # #
“Sebagai ksatria muda yang telah mempersembahkan kebebasan, kehormatan, dan nyawamu, Biskyuu Clan….”
Kali ini Biskyuu tengah menghadap raja. Ia jongkok hormat di depan raja dan sedang diberi tahu tentang tugasnya ke depan sebagai ksatria. Sedikit hilang konsentrasi saat ia melihat banyak buku tercecer di sekitarnya.
“….kuperintahkan kau untuk menjaga putrid Kiera!”, Raja mengakhiri kalimatnya.
Biskyuu mendongak dan mengamati dua ayah-anak yang sedang duduk santai di kursi panjang di hadapannya.
“Kenapa?”, tanya raja.
“Tidak. Selain mengharapkan menjadi seorang ksatria, saya tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan Tuan Raja.”, jawab Biskyuu tanpa mengurangi rasa hormat.
“Di istana ini hanya ada sedikit prajurit. Aku butuh prajurit muda untuk menjaga putriku sattu-satunya.”, kata raja lagi.
Inikah raja Eldora? Kok masih muda?, Biskyuu mengamati sang raja, yang memang terlihat masih sangat muda *dan UKE*, dengan seksama.
Putrid Kiera menatap Biskyuu dengan wajah polos, tanpa ekspresi, dan tanpa dosa. Lama dan hening. Membuat Biskyuu sedikit *EYD-nya sweatdrops apaan sih?* .
“Cebol!!”, kata sang putri datar tapi tajam.
Anak ingusan ini!! Suatu saat kuhajar dia!, sumpah Biskyuu dalam hati sambil menahan marah. Sementara sang putri kembali ke wajahnya semula yang tanpa ekspresi.
“Seperti yang kau dengar, putriku sedang belajar bahasa orang awam.”, jelas raja Eldora sementara sang putri menguap bosan di sampingnya, “Mulai sekarang, maukah kau gunakan cara bicara yang biasa padaku dan Kiera?”
“Ya.”, jawab Biskyuu singkat sambil menggumam dalam hati, Ayah dan anak yang aneh.
Tiba-tiba Biskyuu teringat tentang sosok –yang menurutnya wanita-- berjubah putih sepuluh tahun lalu.
Kalau anak ini –Kiera-- putri satu-satunya, berarti wanita itu bukan putri, katanya Biskyuu dalam hati.
“Kau boleh berjalan-jalan bebas keluar istana.”, Raja memberikan hak pada Biskyuu sebelum menambah dengan penekanan, “Kecuali rumah kaca di halaman dalam.”
Tak ada jawaban dari Biskyuu. Tak ada protes atau persetujuan.
“Mulai sekarang kita bertiga akan hidup seperti keluarga.”, lanjut raja Eldora.
Kiera hanya melirik ayahnya.
“Berdirilah, Biskyuu!”, kata raja lembut.
Biskyuu pun berdiri dari jongkok –hormat—nya dan memperhatikan sang raja lagi yang kini tengah tersenyum manis *?*dan hangat.
# # # # # # # # #
Dan hari-hari Biskyuu yang penuh perjuangan pun dimulai. Hari-harinya sebagai seorang ksatria dan hari-harinya sebagai seorang……..
Keluarga apanya? Ini sih pembantu namanya, batin Biskyuu jengkel sambil mencuci segunung kecil baju.
“Bis, bawakan baju ganti untuk ayah!”, kata Kiera sambil bersolek saat Biskyuu membersihkan kamarnya.
“Ya, ya.”, jawab Biskyuu sambil yang sibuk membawa nampan di kedua tangan –bahkan di atas kepala—nya.
Kalau sibuk begini mana ada waktu untuk mencari wanita itu?, kata Biskyuu dalam hati saat perjalanan menuju danau tempat Eldora –sang raja— mandi. Agaknya keinginannya untuk menemukan wanita berjubah putih belum luntur.
Biskyuu sudah sampai di danau saat ia mendapati bahwa bukan hanya ia dan Eldora saja yang ada di tempat itu. Di belakang Eldora ada seorang laki-laki yang berjalan pelan. Dan sebelum ketahuan, Biskyuu pun sembunyi di balik pohon.
“Siapa yang memberimu ijin?”, tanya Eldora tanpa menoleh pada laki-laki di belakangnya.
“Jangan begitu!”, kata laki-laki tadi, “Aku kan hakim di negeri ini.”
Biskyuu mengenali laki-laki ini. Ia adalah pemimpin para penjaga yang mengejarnya saat mencuri dulu.
“Lagipula di istana ini sudah tidak ada seorang pun.”, lanjut si hakim.
“Kalau ingin bicara, nanti saja.”, kata Eldora sambil membasuh rambutnya dengan air.
“Aku ingin Anda mengerti.”, Si hakim berbicara dengan latar belakang Biskyuu yang sudah memanjat pohon demi menguping pembicaraan *dengan gaya ga’ keren* .
“Jika Anda ijinkan aku untuk bisa menjadi suami putri Kiera,”, kata si hakim lagi sambil menyentuh bahu kecil Eldora, “beban di bahumu ini mungkin akan sedikit berkurang.”
Si hakim makin mendekat ke arah Eldora.
“Aku ingin melindungi negeri ini juga dirimu.”, katanya sembari menurunkan bibirnya ke pundak pucat Eldora, “Aku ingin melindungi Kiera yang kucintai.”
Eldora tak menjawab.
“Jika Anda keras kepala, tidak baik untuk putri Kiera kan?!”, Dan sang hakim mengeratkan rengkuhannya pada tubuh Eldora yang masih polos itu.
Menangkap sinyal-sinyal bahaya, Biskyuu pun bergegas turun dari pohon dan muncul dengan suara lantang.
“Yang Mulia Raja! Saya bawakan baju ganti yang Anda minta!”
Sang hakim dan Eldora menoleh ke belakang.
“Bis?”, Eldora sedikit terkejut dengan keberadaan ksatrianya di situ.
Dan khusus sang hakim, ia –dengan sebal tentunya— membalikkan badan dan meninggalkan ttempat itu karena merasa pendekatannya dengan sang raja terganggu.
“Biskyuu, ini perintah Kiera ya?”, tanya Eldora sambil tersenyum. Masih membelakangi Biskyuu.
Tiba-tiba Biskyuu menarik kasar Eldora hingga menghadap padanya.
“Kamu ini bodoh ya?!”, seru Biskyuu, “Kenapa kamu tidak melawan sedikit pun pada kakek cabul itu, dasar orang tua bodoh!”
Kalimat Biskyuu sukses membuat Eldora melongo. Karena baru kali ini ada yang berbicara sedemikian kasar padanya. Kalimat yang baru pertama ia dengar.
Dan Biskyuu yang masih meledak-ledak itu tanpa sengaja melihat sesuatu di tubuh Eldora yang membuatnya dengan serta-merta membuka lagi pakaian Eldora yang belum selesai dipakai *wahh!* dan ia terkesiap dengan apa yang tersaji di hadapannya.
“Kenapa luka seperti itu?”, tanya Biskyuu yang melihat tubuh Eldora dipenuhi luka sayat yang dalam.
Eldora hanya diam sambil membenarkan letak bajunya.
Membuat Biskyuu sekali lagi terbelalak dengan gerakannya. Dan mengingatkan kstrianya itu akan sesuatu yang ia cari selama ini. Wanita berjubah putih. Biskyuu ternganga dan dengan gemetar menunjuk ke arah Eldora. Ternyata wanita itu adalah……………..
“Sebenarnya,”, kata Eldora sambil tersenyum, “kalau ada yang melihat kulit keluarga raja harus dihukum mati kan?!”
+ + + + + + + + +
“Be….be…berapa sebenarnya umurmu?”, tanya Biskyuu gugup, “Bukankah sudah sepuluh tahun sejak saat itu?”
Biskyuu sedang menunggu ‘wanita berjubah putih’ , yang tak lain adalah Eldora, tengah ganti baju di balik pohon.
Gawat! Kenapa aku tegang begini? Dia kan laki-laki?!, batin Biskyuu dengan muka merah dan kerja jantung yang menggila.
“Usiaku tahun ini 721 tahun.”, jawab Eldora sambil mengenakan anting.
“Mana mungkin!”, sahut Biskyuu yang masih berusaha rileks, “Rata-rata usia hidup di negeri ini kan cuma 25 tahun. Usia 100 tahun saja sudah untung untuk para orang kaya yang melakukan imunisasi dengan tanaman obat abadi.”
“Kau tahu tentang tabib dan penyihir bernama Teito?”, tanya Eldora yang sudah berpakaian lengkap, “Aku baru bertemu sakali dengannya dalam 700 tahun ini.”
“Katanya dia bisa menyembuhkan penyakit atau luka apapun dengan cara menukarnya dengan anggota tubuh dari orang yang terikat perjanjian.”, terang Eldora.
“Teito datang ke istana tak lama setelah aku menduduki tahta raja. Dan setelah mendengar cerita tentang tanaman obat keabadian yang dapat memperpanjang usia rakyat Castral, tanpa ragu aku mengikat perjanjian dengannya dan menukarnya dengan darah yang ada di seluruh tubuhku.”
Biskyuu hanya bisa diam mendengarkan penjelasan Eldora.
“Sihir yang diberikan Teito telah mengubahku menjadi setan berdarah biru. Tubuhku ini sudah tidak bisa lagi menerima hukuman kematian.”, kata Eldora lagi.
Banyak hal yang berputar di kepala Biskyuu. Usia Eldora yang sudah 700 tahun. Tubuh Eldora yang tak bisa mati. Semua terlalu rumit untuk dicerna otaknya.
Setelah itu, percakapan berhenti. Eldora hanya mengamati rajanya yang tengah bermain dengan beberapa kupu-kupu yang hinggap dan berseliweran di antara semak bunga.
Dan saat itu, tanpa sengaja jari Eldora tergores duri dan membuat luka cukup dalam. Mengakibatkan kupu-kupu yang tadi hinggap di tangannya mati karena terinfeksi darahnya.
“Keberadaanku akan mengundang ketakutan bagi banyak orang.”, kata Eldora tak fokus, “Untuk bisa mengatur negeri ini, dibutuhkan orang yang bisa berdiri di depan. Seperti hakim Noiz Luiz itu.”
Lagi-lagi Biskyuu naik darah saat nama hakim itu disinggung.
“Apa maksudmu? Kau mau membiarkan apapun yang dia ingin lakukan padamu?”, serunya, “Lagipula, bukankah kau membencinya. Tatapanmu tadi…”
Kalimat Biskyuu terhenti saat ia teringat teringat Eldora yang masih belum berpakaian lengkap di danau tadi. Dan wajah Biskyuu pun merah seketika.
“Kenapa marah, Bis?”, Eldora hendak menyentuh rambut Biskyuu.
“Ah…”, Biskyuu mundur teratur sambil menutup muka dengan tangan kirinya, “A….aku dipanggil Kiera.”
Biskyuu pun bergegas meninggalkan Eldora sebelum ia mati grogi di hadapan sang raja.
Dia kakek-kakek berusia 700 tahu! Kakek-kakek berusia 700 tahun!, Biskyuu mengulang kalimat tadi seperti mantra untuk bisa menghilangkan pikiran-pikiran aneh dalam kepalanya.
# # # # # # # # #
“Kamu apakan ayahku?”, tanya Kiera, yang sedang tiduran di kursi santai sambil bermain bersama burung parkitnya, saat Biskyuu bersih-bersih, “Belakangan ini dia sering muram.”
“Memangnya apa yang sudah kulakukan?”, tanya Bikyuu balik yang wajahnya mendadak merah.
“Kamu takut juga ya?! Pada darah ayah?”, tanya Kiera lagi.
Biskyuu memilih diam. Banyak hal tentang Eldora yang ada di pikirannya.
“Benar juga. Belakangan ini dia jarang kelihatan.”, kata Biskyuu basa-basi.
“Di rumah kaca.”, jawab Kiera singkat.
Biskyuu teringat kalimat Eldora saat pengangkatannya menjadi ksatria dulu.
Kau boleh berjalan-jalan bebas di dalam istana kecuali rumah kaca di taman dalam.
+ + + + + + + + +
Akhirnya Biskyuu memutuskan untuk mengabaikan pesan Eldora dan tetap menuju ke rumah kaca.
Ini sih bukan taman, tapi hutan. Jauh lebih lebat daripada saat aku mencuri dulu, keluh Biskyuu dalam hati saat menyeruak di antara tanaman perdu yang tinggi.
Setelah perjuangan menelusuri yaman bak hutan itu, akhirnya rumah kaca pun terlihat. Perlahan Biskyuu membuka pintunya. Dan pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah Eldora yang berdiri di antara tanaman obat abadi. Dengan tangannya yang terjulur dan bersimbah darah biru. Darahnya sendiri.
“Eldora?!”, Biskyuu terbelalak dan segera menghampiri Eldora.
“Bis?”, Eldora sedikit terkejut dengan keberadaan Biskyuu.
“Apa-apaan kamu?”, teriak Biskyuu.
“Sudah kubilang jangan ke sini kan?! Ksatria harus mematuhi perintah raja.”, kata Eldora kalem.
“Tapi……kenapa kamu harus melukai seluruh tubuhmu hanya demi tanaman obat ini?”, tanya Biskyuu yang memeluk Eldora dari belakang.
“Tanaman obat ini membutuhkan darahku agar bisa tumbuh. Walau pun begitu, hanya segini yang bisa kudapatkan selama ratusan tahun.”, jelas Eldora, “Aku butuh lebih banyak tanaman lagi untuk bisa menyelamatkan hidup rakyat Castral.”
Biskyuu hanya mengeratkan pelukannya.
“Lepaskan aku, Biskyuu. Darahnya….”
“Berjanjilah!”, potong Biskyuu, “Jangan lakukan ini lagi!”
Eldora melirik ke belakang. Ke arah kstria-nya yang tengah berlutut dan sungguh-sungguh memohon padanya.
“Berjanjilah… Onegai….”, kata Biskyuu lagi, “Kalau tidak jantungku bisa pecah.”
Eldora tersenyum sendiri. Ada denyutan di balik telapak tanganku.
Dan tahu-tahu Eldora tertawa renyah.
“Kenapa tertawa, Kakek?”, tanya Biskyuu jengkel dengan muka merah.
“Ah, tidak.”, jawab Eldora masih dengan wajah cerianya.
Kamu ga’ dengar kata-kataku ya?!, seru Biskyuu dalam hati.
+ + + + + + + + +
“Sayangi dirimu dong!”, gerutu Biskyuu saat ia dan Eldora tengah duduk-duduk dan berbincang, “Mendiang ibuku pernah bilang begitu!”
“Ibumu yang bilang kalau pakaian lebih berharga dari saudara ya?!”, tanya Eldora sambil tertawa kecil.
“Benar.”
“Usia berapa saat ibumu meninggal?”
“Aku tak begitu ingat. Mengkin sekitar 25 tahun.”, Biskyuu berhenti sebentar, “Usia hidup.”
“Seandainya ada tanaman obat keabadian, mungkin dia bisa hidup lebih lama ya?!”, kata Eldora dalam.
“Bicara apa kamu? Hidup lama belum tentu bahagia kan?!”, kata Biskyuu bersemangat.
Mata Eldora melebar kemudian ada senyum yang terlihat sedikit pahit muncul di wajahnya, “Benar juga ya?!”
“Kamu bagaimana?”, todong Biskyuu yang tiba-tiba serius, “Apa kamu bahagia?”
Eldora kembali merasa dipukul telak oleh pertanyaan Biskyuu.
“Apa kamu tidak mau bebas?”, tanya Biskyuu lagi.
Rasanya pembicaraan mereka jadi melebar dan makin menjurus pada tujuan hidup. Hingga tanpa mereka sadari ada mata licik di luar pagar yang terus mengawasi mereka sedari tadi. Mata berambisi yang sepertinya punya rencana jahat. Mata itu milik hakim Noiz Luiz.
-------------------------------------- To Be Continue ---------------------------------------
Yoo, minna-san. Bagaimana???
Hehehe…. Ada yang bingung dengan apa yang gw tulis ini?
Jadi, fict kali ini bukan sembarang fict. Maksudnya? Cerita dalam fict ini gw sadur dari manga garapan Taeko Tonami yang sangat nyerempet ke YAOI yaitu “Sabaki no Chi” atau kalo tankoubon yang di Indo judulnya “Blood of Judgement”.
Manga lawas sih. Gw dapet tu manga dari pas jaman gw masih SMP, saat gw untuk pertama kalinya mengenal BL, akar kecintaan gw ke YAOI. Kukukukuku…..
Semoga ga’ aneh deh. Soalnya lumayan juga untuk mengubah gambar jadi cerita.
Isi ceritanya sih gw masih ngikut manganya. Paling cuma ada penghilangan satu-dua-tiga-empat-lima dialog yang gw maksudkan supaya lebih to the point aja. Trus penambahan beberapa materi kata untuk keterangan setting juga. Jadi biar kalian-kaliannya ga’ bingung nanti.
Hoo, minna. Kebayang badan mulusnya Eldora jadi pingin mimisan *digampar Biskyuu* . Kalian juga kudu lihat badan bohai-nya Eldora lho!! Wahahahahaha……
Nee, apdet-nya ditunggu ya?!
Saran dan komennya jangan lupa!!!!!
Jaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………….


0 komentar:
Posting Komentar