An Evening Story

Note : Fic pertama setelah vakum berabad-abad dari dunia per-semeuke-an *lebay*. Typo (maybe), bahasa kacau, membingungkan, aneh, geje, dan lain sebagainya.

Disclaimer : Aku Bahkan tak Tahu Namamu (c) Jean C. Fulton

An Evening Story on the Train (c) Ken

# # # # # # # # #

Langit sudah hampir gelap saat aku melangkahkan kaki keluar dari gedung kampus sehabis mengurus makalahku dengan dosen wali yang lagi-lagi katanya kurang detil dan perlu perbaikan di sana-sini.

Rasanya aku ingin mengumpat! Ini hanyalah karya ilmiah tak wajib yang kukerjakan dengan jaminan nilai A untuk mata kuliah Politik Internasional. Kenapa bebannya melibihi skripsi begini? Tahu begini, aku memilih mengandalkan absensi dan nilai UAS murniku!

Aku mengacak rambutku gemas. Pusing, harus cari bahan kemana lagi dengan waktu yang juga terus memburu tanpa toleransi.

Ponsel di saku celanaku bergetar, membuyarkanku dari obrolan singkat dengan batinku. “One message received” terpampang di layar ponselku begitu benda mungil itu kusejajarkan dengan mataku. Sms dari temanku yang member tahu tentang perbuahab jadwal untuk mata kuliah Komunikasi Internasional.

Aku mencibir karena sms yang menurutku tidak berguna itu. Kukembalikan lagi ponselku ke tempat semula dan mulai menyusuri jalan menuju stasiun yang tidak begitu jauh dari kampus.

Angin dingin menyapa membuat bulu tengkukku sedikit berdiri. Sepertinya mulai malam ini akan turun salju. Kutarik resleting jaketku lebih tinggi, membungkus rapat tubuh bagian atasku dengan sedikit kehangatannya dan mempercepat langkah agar cepat sampai ke stasiun.

Stasiun petang ini cukup padat. Ini untuk pertama kalinya aku naik kereta jam segini. Di antrian depan loket tiket, ada banyak anak-anak SMA yang sepertinya baru saja main entah dari mana. Wajah mereka penuh tawa sekalipun jelas terlihat keletihan juga di sana. Dengan gerombolan masing-masing saling bertukar cerita dan sesekali saling sikut, menggoda. Aku tersenyum sedikit dan perlahan memoriku terseret ke hari-hari saat aku masih menjadi siswa berseragam. Teringat teman-teman seperjuanganku dan berbagai pemberontakan yang kami lakukan. Rasanya benar-benar geli saat ingat hari-hari dimana kami dihukum karenanya. Tapi hukuman macam apa pun tidak akan bisa menghentikan anak-anak muda yang sudah bandel seperti kami ini, kan?!

Aku terkekeh lirih dan menggeleng-gelengkan kepala mengingatnya sambil sekali lagi merogoh saku celanaku untuk menarik keluar beberapa lembar uang yang akan kugunakan untuk membeli tiket. Saat menghitung kembali uang dalam tanganku, sebuah tangan menepuk pundakku. Aku menoleh dan menatap pemilik tangan itu sekilas.

Uangmu jatuh,Hyungnim.” katanya.

Ohh…” Refleks aku menunduk kemudian membungkuk untuk mengambilnya. “Gamsa…”

Vakum.

Kalimatku sukses terhenti saat aku berdiri dan menatapnya untuk yang kedua kali. Kali ini lebih fokus. Aku tertegun menatap wajahnya itu. Wajahnya kecil. Mata kirinya yang tak tertutup poni panjangnya sedikit lebih lebar dari mata sipitku dengan alis tebal menghias bagian atasnya. Rautnya tegas tapi ada kesan imut juga di sana. Dia memandangku dengan kening yang sedikit berkerut.

Hyungnim?” panggilnya. Menyeretku dengan kasar dari acara mendeskripsikan wajahnya pada pembaca.

Aku buru-buru mengerjapkan mata. “Ya?”

Bisa maju sedikit?” tanyanya.

Kulihat orang-orang di belakang namja –eh…..dia namja kan?!— itu memandangku dengan muka sebal. Aku tersentak dan menoleh ke belakang. Ada jeda panjang antara aku dan pengantri terakhir di depanku.

Mi—mianhe..” Dengan tampang bersalah, aku buru-buru maju dengan namja tadi dan orang-orang di belakangnya yang mengikutiku.

Lain kali jangan melamun di barisan antrian, Hyungnim.” Kalimat itu terdengar dari belakang telingaku. Kalimat dengan suara yang sama. Suara milik namja tadi.

+ + + + + + + +

Tak banyak suara dalam stasiun. Entahlah karena tidak diperbolehkan gaduh dalam transportasi umum atau karena memang para penumpang ini lelah dengan segala aktivitas mereka seharian melihat ada banyak anak SMA dan bapak-bapak berjas yang memadati kereta. Dan ini membuatku beruntung dengan tidak dapat tempat duduk.

Sedang asyik mengedarkan pemandangan ke sekeliling, aku menemukan seseorang yang kukenal. Namja yang kutemui di barisan antrian tadi, duduk di sebelah pintu masuk kereta sambil membaca sebuah buku tebal. Sepertinya novel.

Sekali lagi aku memperhatikannya dari sini. Padahal ada beberapa anak SMA berseragam sama dengannya di sekitarnya, tapi entah mengapa ia lebih tertarik untuk menenggelamkan diri pada apa yang dibacanya. Namja yang menarik, membuatku tergerak untuk mendekatinya.

Gamsahamnida.” kataku. Membuatnya menengadah padaku seketika.

Ah! Hyungnim.” katanya sambil menghela napas, terlihat kaget.

Maaf mengejutkanmu. Hanya saja, tadi aku belum berterima kasih.” kataku lagi.

Gwaenchana.” jawabnya sambil kembali menunduk menghadap bukunya.

Aish! Kenapa dia dingin sekali sih??

Hmm… Salju sudah turun.” Aku menatap keluar kaca di belakang kepalanya. Berharap dia mau ikut menatap objek yang sama dan kami bisa berbincang lebih.

Tapi harapanku tidak terwujud. Dia hanya menanggapiku dengan mengangguk.

Kau tidak suka salju?” tanyaku.

Hampir selama tiga bulan tiap tahun dalam 18 tahun hidupku ini aku melihatnya. Dan kurasa tak ada yang istimewa lagi.” jawabnya dingin.

Aku sedikit melongo. Sekalinya dia bicara agak panjang, kalimatnya membuatku mati gaya. Akhirnya aku memilih diam dan memperhatikannya membalik novelnya dari lembar ke lembar.

Chicken Soup for the Single’s Soul.” Aku membaca cover depannya.

Tak ada respon.

Aku tak banyak menemukan anak laki-laki seusiamu suka membaca buku-buku seperti itu. Apalagi cover depannya seorang yeoja.”

Salah kalau aku membacanya?” sahutnya cepat.

Tidak!” jawabku buru-buru. “Aku hanya…errr…hanya….”

Dan lagi-lagi dia mengacuhkanku dengan kembali membaca.

Aku tak menyerah dan berusaha menemukan topik yang tepat agar perhatiannya terpusat penuh padaku. Menaklukkan namja ini ternyata jauh lebih sulit dari makalah Politik Internasional-ku

Aku juga pernah membaca buku yang sama kok. Cuma sekali dan hanya beberapa judul sih. Aku pinjam sepupu perempuanku.” Aku memulai.

Masih tak ada respon.

Dan aku suka cerita yang berjudul…….’Aku Bahkan Tak Tahu Namamu’?” Aku mencoba mengingat.

Kali ini dia mengangkat kepalanya padaku dan menutup novelnya. Entah karena terpaksa atau memang tertarik untuk menganggapiku yang mengoceh sedari tadi.

Aku tak begitu ingat nama tokohnya. Aku hanya suka bagaimana cara mereka bertemu, berkenalan, dan berpisah.” lanjutku.

Orang yang bukan siapa-siapa bertemu dengan orang yang juga suka menjadi bukan siapa-siapa.” Kutipnya dari salah satu bait di cerita itu.

Yahh….pertemuan yang manis sekali. Aku yakin mereka akan bertemu lagi nantinya. Sayang tidak ada lanjutannya.”

Akan lebih indah kalau kita sendiri yang membayangkan bagaimana akhirnya hubungan kedua orang itu.” Jawabnya.

Aku mengangguk. “Tiap orang punya imajinasi berbeda.”

Percakapan kami terhenti ketika kereta berhenti di stasiun dan beberapa orang di sampingku menyeruak turun. Kulihat ia tersenyum pada seorang nenek yang duduk di sebelahnya dan mengucapkan selamat tinggal padanya sebelum bergabung dengan barisan orang-orang yang turun tadi. Ya Tuhaaaan!! Senyum itu begitu cantik. Benarkah dia ini namja?

Duduk, Hyungnim?” tawarnya yang lagi-lagi merusak acaraku yang sedang memujanya.

Ah, gamsahamnida.” Dengan kikuk, aku mengambil tempat duduk kosong di sebelahnya.

Pulang kuliah?”

Dan kali ini aku terkejut dengannya yang tiba-tiba memulai percakapan.

Aku mengangguk. “Sebenarnya tidak selarut ini. Tapi ada tugas yang harus dibicarakan dengan dosen. Jadi harus menunggu sampai beliau selesai mengajar.”

Ohh..”

Sekarang jam pulang sekolah juga makin mundur ya?!” kataku.

Ada jam belajar tambahan untuk kelas tiga.”

Wahh, kelas tiga? Tahun ini masuk universitas dong?”

Hyahh…begitulah.” Tuhaaaaan, senyumnya terbit lagi! “Hyungnim ambil jurusan apa?”

Hu—hubungan Internasional.” jawabku terbata, masih terhipnotis senyumnya.

Wahh! Hyungnim mau jadi duta Negara ya?!” Tuhan!! Senyumnya makin mengembang. Jangan siksa aku lebih dari ini!!

Ah—errr….entahlah.” Aku hanya nyengir sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

Hmm…” Kulihat ia menerawang. “Aku ingin masuk farmasi.”

Pilihan yang bagus!” kataku sambil menyunggingkan senyum.

Aku ingin membantu pekerjaan Umma sebagai perawat.” lanjutnya.

Kalau begitu, biar kuramal masa depanmu!” Kutarik tangan kirinya dan menelentangkan telapaknya.

Dan dia hanya menatapku dengan terkejut yang begitu berani menyentuhnya, namun sama sekali ia tak ada keinginan untuk melawan.

Aku menyusuri garis tangannya dengan telunjukku dan membuat raut mukaku seserius mungkin. Berhasil!! Senyumnya terbit lagi. Bahkan kemungkinan sebentar lagi aku mendengar tawanya.

Kau akan lulus di usia 22 dan menemukan obat untuk menyembuhkan semua penyakit. Lalu menikah di usia 28 tahun dan memiliki 4 anak.” kataku asal.

Dan benar saja. Tawa menggelak!

Hyungnim…” Ia menahan tawanya saat beberapa penumpang menoleh ke arah kami. “Kenapa jadi lari ke masalah asmara?”

Hei! Ini juga merupakan masalah serius. Jangan diremehkan!”

Ia terkekeh. “Geurae! Geurae! Terima kasih atas ramalan dan doanya. Aku akan berjuang.”

Satu senyuman super manis diberikannya padaku.Dan detik itu juga aku tak sanggup lagi menahan detak jantungku yang bekerja gila-gilaan. Aku hanya menatapnya yang menatap keluar kaca dengan masih meninggalkan jejak-jejak senyum di wajahnya.

Ahh!” serunya tiba-tiba. “Aku turun di pemberhentian berikutnya.”

Kalimat itu seolah seperti bom yang meledak mendadak tanpa hitungan mundur. Rasanya aku ingin menghentikan waktu saat itu juga agar aku bisa lebih lama menghabiskan waktu dengan namja asing ini.

Dia sibuk berkemas dan tidak melihat raut mukaku yang seolah berkata, “Bisakah tinggal lebih lama lagi?”. Kapan lagi aku bisa bertemu dengannya? Aku tidak mau ini adalah kali pertama dan terakhir dari pertemuan kami.

Sementara aku masih bergelut dengan kekecewaanku, kereta perlahan melambat dan stasiun tujuan si namja mulai terlihat.

Kulihat si namja berdiri dari duduknya sambil menyelempangkan tas ke bahunya. “Hyungnim, aku duluan.”

Tanpa menunggu jawaban bahkan respon dariku, ia melangkahkan kakinya tepat saat pintu kereta terbuka. Menyadari itu, tanpa komando otakku menyuruh tubuhku berdiri dan meraih lengannya.

Dengan terkejut ia menoleh.

Besok…aku akan pulang dengan kereta ini.” kataku.

Ia menatapku bingung. Tak mengerti maksud ucapanku.

Jika besok bertemu lagi, bagaimana aku memanggil namamu?”

Dan sekali lagi meski mungkin terakhir di hari itu,ia tersenyum. “Kim Kibum.”

Aku membalas senyumannya yang cantik itu dan melepaskan tangannya. “Lee Jinki.”

Baiklah! Sampai besok, Jinki-hyung.” katanya, masih dengan senyum di bibirnya.

Sampai besok”? Apakah ini janji untuk bertemu lagi?

Annyeong.” Ia kembali melanjutkan langkah ke arah pintu kereta yang mulai lengang dari serbuan penumpang yang turun.

A—annyeong.”

Aku melihatnya turun dan berhenti untuk melihatku dari luar. Kugerakkan tanganku lewat kaca, memberinya instruksi untuk pulang saja tanpa menunggu kereta berjalan. Tapi ia tetap di sana, tersenyum dan tetap menatap ke arahku sampai peluit petugas stasiun terdengar dan kereta kembali bergerak.

Kulambaikan tanganku dan ia membalasnya. Kami saling berpandangan sampai kereta makin cepat melaju. Membuat sosoknya lenyap dari pandangan dan hanya menyisakan sebuah senyum masih terpatri jelas di kedua mataku.

Senyumku mengembang.

Kim Kibum. Sampai besok.

# # # # # # # # #

Huahhhh!!!! Kagak berani bikin lebih dari ini, Pak, Bu, Om, Tante, Kakak, Adek, Uwak!! Jadi maaph kalo kagak bias muasin kecanduan Sodara-sodara terhadap Onkey! MAAPH!! *nunduk-nunduk* Selain itu juga aye udah lama banget kagak nulis fic yang berujung pada kemampuan nulis saya yang jadi menurun tajem, setajem silet!! #plakk

Pah Onew! Mah Key! Gomenasai kalo saya bikin kalian jadi OOC.

Euummm….kagak tau dehh mau ngomong apa lagi. Misi udah kelar!! Jadi sekarang giliran kalian untuk KOMEEEEEEEEEENNNN!!!!! Wajib hukumnya!!!!

0 komentar:

Posting Komentar