I Can't

Note : Typos. Bahasa kacau. Cerita membingungkan, aneh, geje, dan lain sebagainya. Bahasa baku-ga-baku. Lebay!!!

Disclaimer : I Can’t (c) KeN

I Can’t (c) 2PM

# # # # # # # # #

--Key POV—


Dan demi apa aku kembali ingat dia? Demi apa dia mampir lagi di otakku? Demi apa??

Aku mencoret-coret buku tulis kimiaku gemas begitu wajahnya singgah lagi di kedua mataku. Ayolah, Keeeeyyy!!! Lupakan si Onew itu!!

Dan kali ini lembaran yang tadinya kucoret-coret telah terenggut tanganku dan kutarik sampai robek dari buku. Kuremas dengan barbar lalu kulempar keluar jendela.

Seosaengnim!” panggilku pada pak Guru yang masih sibuk dengan segala rumus kimia di papan tulis.

Beliau menoleh dan menatapku. “Ya?”

Saya sedikit tidak enak badan. Boleh saya ijin ke ruang kesehatan?” kataku beralasan.

Beliau mengamati wajahku sebentar. Mencari tanda-tanda bahwa aku benar-benar sakit. Dan celakanya, aku tidak begitu pandai berakting. Jadi aku cuma pasrah kalau ternyata seosaengnim tahu aku berbohong dan memarahiku.

Baiklah,” Jawaban di luar dugaan, eh? “Minta seseorang menemanimu.”

Tidak perlu, Seosangnim. Biar mereka tetap mengikuti palajaran. Saya cuma sedikit pusing.” kataku.

Yakin?” tanya seosaengnim yang wajahnya jadi sedikit khawatir.

Aku hanya mengangguk.

Baiklah. Yang penting buat dirimu enakan.”

Kamsahamnida. Permisi.” Aku berdiri dari dudukku dan keluar kelas.

Kulangkahkan kakiku ke ruang kesehatan di lantai satu. Kurasa aku butuh sedikit penyegaran dengan tidur sebentar. Masih ada tiga jam pelajaran sebelum bel pulang. Jadi bisa kumanfaatkan waktu selama itu.

.:oOo:.

--Onew POV—


Yakin tidak butuh yang lain?” tanya Jonghyun sambil menyelimutiku.

Aku menggeleng sambil memiringkan posisi tubuhku dan merapatkan selimut yang baru saja dikenakan Jonghyun padaku. “Sementara belum ada. Kau pergi kuliah saja. Aku mau tidur.”

Kenapa tidak pulang saja sih, Hyung?” tanyanya.

Aku tak mau merepotkan orang rumah. Lagi pula hanya demam biasa.”

Ini sudah dua hari lho.” Jonghyun cemas.

Iya. Kalau besok aku masih demam akan kuperiksakan ke rumah sakit.”

Jonghyun mengamatiku dalam diam sebelum menawarkan, “Perlu kupanggilkan adikku?”

Dan itu cukup membuatku terkejut.

Dia bisa masakkan sesuatu untukmu. Jadi kau bisa istirahat total.” tambahnya.

Lebih baik tidak perlu. Aku tidak mau membuatnya sakit hati lagi dengan kembali ke tempat ini.”

Ckk! Kau ini! Kenapa kau tidak jelaskan yang sebenarnya padanya, hah?”

Waktu itu sudah kali ke berapa dia melihatku dengan Yuri.”

Lalu? Kau kan tidak pacaran dengannya.”

Sudahlah. Adikmu itu bisa dapatkan orang yang jauh lebih baik dariku.” Aku mengubah posisi tidur jadi membelakangi Jonghyun.

Dasar! Ya sudah, aku kuliah dulu.” Jonghyun menyelempangkan tasnya.

Hnn.” jawabku malas.

Kutunggu pintu mengayun menutup kemudian menelentangkan badanku. Menatap langit-langit kamar yang siang itu tersiram cahaya matahari. Kututup mataku dengan sebelah lenganku. Berusaha mengabaikan rasa pusing hebat di kepalaku dan pergi tidur. Berharap bertemu dia di dalam mimpi. Nae Key……

Masih pantaskah aku mengklaim dia sebagai milikku?

.:oOo:.

--Key POV—


Kulangkahkan kaki dengan malas keluar gedung sekolah. Sengaja pulang paling akhir agar tak bertemu dengan teman dan pulang bersama. Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun. Mood-ku sedang tidak baik.

Sekalipun aku sudah tidur di ruang kesehatan tadi, aku masih belum bisa melenyapkannya dari otakku. Si namja chubby menyebalkan bernama Lee Jinki yang menolak mentah-mentah dipanggil dengan nama aslinya dan minta dipanggil Onew itu. Mantan namjachingu-ku yang dengan sukses membuatku gila karena tidak bisa melupakannya selama tiga bulan ini.

Onew-hyung sialan!!” umpatku sambil menghentakkan kaki ke tanah. Tak peduli tatapan aneh yang dilayangkan orang-orang yang lewat padaku. “Kenapa aku harus menyukaimu, HAHH??”

Key-hyung?” panggil seseorang dari belakang telingaku.

Aku terkejut dan membalikkan badan. Kulihat dua orang yang kukenal.

Taemin-ah? Minho-ah?”

Ngapain kau teriak-teriak di jalanan?” tanya namja dingin berpostur tinggi menjulang yang juga teman sekelasku bernama Minho.

Aku salah tingkah.

Tadi Minho-hyung bilang kalau Key-hyung agak tidak enak badan. Benarkah?” tanya si rambut almond bernama Taemin.

Ahh…tadi aku sudah tiduran di ruang kesehatan dan agak mendingan.” jawabku sambil mencoba tersenyum.

Jinjja?” tanyanya khawatir. “Jaga kesehatan, Hyung. Onew-hyung juga sedang sa---”

Kulihat Taemin menutup mulutnya cepat dengan wajah terkejut.

Mi—mian..” katanya buru-buru.

Tak apa.” Kurasa senyumku akan terlihat aneh. Tapi aku tetap memaksakannya.

Ya. Lee Taemin di depanku ini adalah adik Lee Jinki aka Onew-hyung aka namjachingu-ku yang kuceritakan barusan. Bagus! Sekarang aku jadi makin mengingat namja itu.

Tadi mau bicara apa, Taemin-ah?” tanyaku basa-basi mengingat dia belum menyelesaikan kalimatnya yang tadi.

Nngggg….” Dia terlihat berpikir.

Katakan saja.” kata Minho dingin.

Ta---tapi kan..”

Tidak apa-apa. Katakan saja.” tambahku.

Taemin masih terlihat bingung antara mengatakannya atau tidak.

Onew-hyung sakit.” Akhirnya Minho yang mengatakannya.

Minho-hyung…” Taemin memberikan tatapan protes pada namjachingu-nya itu.

Jinjja?” tanyaku spontan.

Taemin mengangguk kecil. “Dua hari ini demam. Ibu sudah minta dia pulang, tapi dia tidak mau. Padahal kan di apartemen tidak ada yang mengurus.”

Kugigit bibir bawahku. Aku tidak bisa membohongi diriku. Aku cemas tentangnya.

Tapi kudengar hari ini Jonghyun-hyung berkunjung. Nanti tolong sampaikan terima kasihku padanya ya, Hyung?!” Taemin tersenyum manis padaku.

Ya sudah, kalau begitu kami duluan,” kata Minho membangunkanku dari lamunan. “Taemin masih harus mampir ke tempat Onew-hyung.”

SIAL! Sepertinya namja ini sengaja mengingatkanku pada Onew-hyung.

Bolehkah aku ikut?” tanyaku lirih.

Mata Taemin melebar dan kemudian senyum jahilnya merekah.

.:oOo:.

--Onew POV—


Taemin bilang mau kemari, tapi kenapa sampai jam sekarang belum datang?

Kulihat jam dinding di atas lemari es. Biasanya dia pulang jam tiga-an dan sekarang sudah jam empat lebih. Dia juga tidak sms atau telepon kalau akan terlambat. Pikiranku mulai tak enak.

Kupaksa badanku turun dari ranjang dan mengambil ponsel di meja. Mencari nama Taemin di phonebook sambil duduk di kursi.

Nada sambung terdengar dari seberang. Lama. Dan Taemin tidak mengangkatnya. Kucoba menghubunginya lagi. Dan hasilnya nihil.

Dia tidak bisa atau tidak mau mengangkat??

TING TONG!!

Bel pintu membuatku sedikit terlonjak.

Taemin? Buat apa dia membunyikan bel? Apa ibu tidak memberikan kunci serep apartemenku?

Kuangkat badanku dan menyeretnya ke depan pintu.

Taemin?” panggilku di ambang pintu. “Teleponku kenapa tidak diangkat?”

Dan kubuka pintu.

Ibu tidak---”

Dan siapa yang berdiri di luar pintu adalah seseorang yang langsung membuatku membatu. Dia bukan Taemin.

Annyeong.” katanya kikuk.

Key?” Masih berusaha percaya bahwa di hadapanku itu adalah benar-benar dia.

Kata Taemin, Hyung sakit,” Ia menatap mataku gugup. “Jadi aku mampir.”

Aku diam dan masih menatap ke arahnya yang menggenggam kantong plastik yang sepertinya bahan-bahan untuk dimasak.

Apa aku tidak boleh masuk?” tanyanya akhirnya.

Aku tersentak dan menggeser badanku, memberinya jalan masuk. “Tentu saja boleh.”

Permisi.” Key masuk ke dalam dengan penuh sungkan. Terlihat dari gerak tubuhnya.

Aku menutup pintu dan menyusulnya ke dalam.

Sudah makan, Hyung?”

Aku menggeleng. “Tadi rencananya mau makan bareng Taemin.”

Ahh, Taemin bilang kalau besok dia ada remidi matematika dan minta Minho mengajarinya. Padahal tadi jelas-jelas mau datang kemari.” Ia meletakkan bawaannya di meja.

Ya ampun, Key! Kau ini pura-pura tidak tahu atau terlalu polos. Mau-mau saja termakan trik Taemin?!

Taemin juga bilang tadi pagi Jjong-hyung ke sini.” lanjutnya.

Iya.” jawabku singkat. Masih terkejut dengan kedatangannya.

Kenapa tidak pulang saja kalau sakit?”

Tidak apa-apa. Aku cuma demam.”

Kulihat ia berjalan ke arah lemari es. “Jangan sepelekan demam.”

Aku tak menjawab.

Aku akan masak bubur. Hyung tiduran saja.”

Masih belum bisa menjawab, aku mengangguk kaku dan melangkahkan kembali kakiku ke ranjang.

.:oOo:.

--Normal POV—


Hyung,” Key membangunkan Onew yang tengah tidur dengan hati-hati. “Hyung, ayo makan dulu.”

Onew membuka matanya dengan berat. Masih dikuasai pusing.

Makan dulu. Minum obat, lalu tidur lagi.” ulang Key.

Hnn.” Onew duduk dari tidurnya.

Key mengambil nampan dengan segelas air putih dan bubur di atasnya ke ranjang Onew.

Onew tak lantas meraih buburnya. Ia menyempatkan diri memandang namja cantik di hadapannya. Membuat yang bersangkutan sedikit gugup.

Makan sendiri atau….” Key tidak melanjutkan pertanyaannya.

Aku makan sendiri saja.” Onew mengambil mangkuk bubur dari nampan lalu mulai menyendoknya.

Pelan-pelan, masih panas.” kata Key.

Dan detik-detik berikutnya hanya terisi dengan denting sendok yang beradu dengan mangkuk bubur Onew. Tak ada suara. Key pun hanya bisa mengamati namja di depannya menghabiskan masakan buatannya dalam diam.

Bisa minta tolong ambilkan obatku di meja?” tanya Onew begitu urusannya dengan bubur selesai.

Ahh…ya.” Key beranjak mengambil benda yang diminta Onew. “Mana yang harus diminum?”

Semua, kecuali yang tablet warna merah. Itu untuk malam.”

Key membawa butiran-butiran kecil itu ke tangan Onew. Dan tanpa ragu, semua masuk ke mulut namja berpipi chubby itu. Onew mendorongnya masuk tenggorokannya dengan air putih.

Tidur lagi saja, Hyung. Aku akan mencuci ini.” Key mengangkat nampan dari pangkuan Onew dan hendak beranjak ke wastafel. Key menatap tangan yang menahannya itu sekilas lalu menatap pemiliknya.

Mata sipit Onew menatap dalam ke mata manik-manik Key tapi tak ada yang keluar dari bibirnya.

Wae, Hyung? Butuh yang lain?” tanya Key berusaha menetralisir debaran dalam jantungnya.

Onew memberikan tatapan kecewanya. Bukan kalimat itu yang ingin dia dengar. Bukankah dulu mereka pernah tinggal bersama di sini, mengukir banyak kenangan di sini, saling melengkapi satu sama lain sebelum masalah itu membuat semuanya berantakan dan mereka harus terpisah?! Lalu kenapa yang keluar dari bibir namja yang lebih muda dua tahun darinya itu cuma kalimat dan pertanyaan standar? Seakan semua masih baik-baik saja. Masih seperti dulu.

Apa Key tidak merasakannya? Apa dia tidak merasakan hal yang sama seperti yang Onew rasakan sekarang. Sesak. Sesak sampai Onew tidak tahu bagaimana menamakannya saat ia melihat namja itu muncul di depan pintu apartemennya. Memasakkan untuknya. Menemaninya seperti ini. Memaksanya mengingat semua kenangan yang mereka lalui di bulan-bulan yang lalu. Tidakkah Key juga merasakannya?

Hyung!” panggil Key.

Onew sedikit tersentak. Ia lepaskan pegangannya pada Key, yang membuat namja itu makin terlihat bingung.

Mian.” ucap Onew pelan.

Atas?”

Onew mendongak, menatap namja cantik yang sampai saat ini masih disukainya. “Membuatmu kemari.”

Key diam. Gilirannya kehilangan kata-kata untuk membalas.

Kamu pulang saja. Aku sudah mendingan.” kata Onew.

Key melebarkan matanya.

Aku akan telepon Jjong untuk menjemputmu.” Onew tak melihat ekspresi Key dan malah meraih ponselnya dan menelepon kakak Key itu.

Namun belum sampai ponsel itu ke telinga Onew, Key merampas dan melemparnya. Membuat benda malang itu pecah jadi beberapa bagian dan Onew yang terkaget-kaget karenanya.

Key.”

Kalau kamu memintaku untuk tidak mengganggu hidupmu lagi, akan kulakukan, Hyung! Tanpa perlu mengusirku dengan seperti ini!”

Onew melihat namja yang berdiri di hadapannya itu dadanya naik-turun karena emosi. Nampan di tangannya dicengkeram kuat-kuat.

Key, aku tidak…”

Kalau memang tidak suka, kenapa tidak sekalian saja mengusirku saat di depan pintu tadi?” potong Key.

Key!”

Apa? Mau bilang kalau aku seperti anak kecil lagi?” Key tidak memberi kesempatan pada Onew untuk bicara. “Iya, Hyung! Aku memang selalu jadi anak kecil egois di matamu kan?!”

Onew tertegun melihat setetes airmata jatuh di pipi kanan Key.

Tidak mau mendengarkan alasanmu dan hanya berteriak padamu. Iya! Itulah aku! Makanya kau muak dan mencari orang lain!”

Jebal, Key..”

Tidak apa-apa, Hyung. Katakan saja.” Key menghapus airmatanya. “Karena aku yang cari perkara dengan datang kemari. Mengganggumu lagi. Harusnya aku tahu kalau kau sudah tidak mebutuhkanku. Menggelikan! Aku sama sekali tidak tahu malu! Tidak…”

KIM KIBUM!!!” teriak Onew. Kali ini dia sudah habis kesabaran.

Key terlonjak. Tapi ia bertahan dengan semakin mempererat pegangannya pada nampan yang dibawanya.

Onew terengah. Sebenarnya ia masih belum cukup kuat untuk meledakkan emosinya begini. Tapi namja di depannya ini sudah kelewatan. Bagaimana dia bisa berkata demikian? Benar-benar tak sadarkah kalau bukan hanya dia yang tersakiti selama ini? Benar-benar tak sadarkah dia kalau setiap kata tadi menyakiti Onew?

Isakan Key terdengar samar, tapi Onew bisa mendengarnya.

Bisa beri aku kesempatan untuk bicara?” tanya Onew dengan volume suara yang sudah normal.

Tak ada jawaban maupun penolakan.

Aku memang menyuruhmu pulang, tapi bukan berarti aku mengusirmu. Kau tidak lihat ini jam berapa?”

Masih tak ada jawaban.

Aku sudah janji pada Jjong untuk tidak menyusahkanmu lagi. Tidak mengganggumu lagi. Tidak membuatmu mengingatku lagi. Tidak membawamu ke sini lagi. Tidak menyakitimu lagi.”

Kali ini ada respon. Key mendongak. Menatap namja yang duduk di pinggir ranjang itu sambil menunduk.

Dan tentang dirimu yang seperti anak kecil, aku tak pernah berpikir demikian. Walau memang ada kalanya kamu egois. Tapi bukankah dulu sudah kubilang, itu tak membebaniku. Sudah kubilang aku menerimamu sebagai seutuhnya Kim Kibum. Almighty Key yang selalu ingin semua sesuai dengan yang dia inginkan.” Onew menatap Key dengan mata teduh.

Key yang mendengarnya hanya bisa makin terisak.

Onew berdiri dan menghampiri Key yang kini menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang belepotan airmata.

Mian. Membuatmu menangis lagi.” kata Onew.

Key menggeleng.

Dan tentang ini…” Onew memberi jeda. “…kurasa kamu mungkin masih menganggapku bohong atau bagaimana. Antara aku dan Yuri benar-benar tak ada apapun. Kebetulan karena ayah kami dekat dan kami juga satu klub jurnalistik, jadi kadang memang sering terlihat bersama. Tapi jujur, Key….aku tak punya hubungan apapun dengannya.”

Key masih dalam diamnya.

Jebal, Key. Katakan sesuatu.” pinta Onew sambil memegang kedua lengan Key.

Apa…yang harus kukatakan?” tanya Key di antara isakannya.

Apapun. Memakiku seperti tadi pun tak apa.”

Bagaimana caranya kalau Hyung sudah membuatku luluh duluan begini?”

Onew bingung.

Apa aku bisa pegang kalimatmu yang terakhir?” Key memberanikan diri untuk menatap Onew.

Namja bermata sipit itu menghapus jejak airmata di pipi Key. “Aku bersumpah!”

Key mendadak tersenyum. Membuat jantung Onew berdetak cepat lagi. Betapa ia merindukan senyum ini.

Aku tidak memintamu sampai seserius itu. Hanya…”

Hanya apa?”

Key terdiam sebentar dan menatap Onew sungguh-sungguh. “Jangan biarkan aku melewati pintu itu lagi.”

Mata Onew melebar.

Jangan biarkan aku melangkah keluar lagi.” lanjut Key.

Onew menyentuh pipi Key dan menatap dalam mata manik-manik itu sekali lagi. “Tidak lagi! Aku akan menahanmu lain kali sekalipun kamu menendangku untuk melepaskanmu.”

Lagi-lagi Key tersenyum. “Kubilang jangan tunjukkan wajahmu yang serius itu. Tidak cocok dengan imej-mu.”

Tangan Onew turun ke pinggang Key dan menggelitikinya. “Berani menertawaiku? Aku benar-benar serius, tahu?!”

Ahaha..” Key berusaha menghindar. “Andwae!! Shireoyo!!!”

Coba saja kalau kamu bias menghindar!” Onew tersenyum jahil dan mengejar Key.

Hyung! Hentikan!” seru Key yang tertangkap begitu meletakkan nampan di wastafel dan digelitiki lagi oleh Onew.

Tidak akan!” Onew semakin semangat menggelitiki Key.

Hyuuung!! Ahaha…” Key antara jengkel dan geli.

Onew begitu semangat sampai tak melihat ada genangan air dari cipratan keran wastafel di bawah kakinya. Akibatnya, ia terpeleset saat menginjaknya. Jatuh dengan Key yang masih dalam kuasanya.

BRUKK!!

Key menindih tubuh Onew dan kedua bibir mereka bertemu tanpa penghalang.

Key terbelalak dan buru-buru memindahkan tubuhnya dari atas tubuh Onew dengan muka memerah. “Mi….mian.”

Onew masih dalam posisi telentangnya. Lumayan kaget juga dengan adegan yang berlangsung cepat barusan. “Andwae. Gwaenchana.”

Mereka berdua jadi salah tingkah.

Hyung…..tidur lagi saja. Aku akan mencuci mangkuk tadi.” kata Key kikuk sambil berdiri dari duduknya.

Tapi sekali lagi Onew menarik tangannya. Membuat namja itu jatuh lagi dan mencim bibirnya sekilas.

Hyung!!” protes Key sambil menutup bibirnya dengan muka merah padam.

Wae?” Onew tersenyum jahil. “Aku cuma melakukan hak sebagai namjachingu-mu.”

Key membuka mulut lagi untuk protes lagi tapi Onew menginterupsinya. “Kalau kamu menolak, bukan cuma bibirku saja yang akan menghentikanmu.”

Mata Key melebar. “Mesum!!”

Onew tertawa saat Key memukul-mukul lengannya dan menangkap kedua tangan namja cantik itu. “Jeongmal mianhe, Key.”

Key berhenti dari prosesi pemukulan itu dan menatap wajah Onew yang kembali serius. Senyumnya terbit. “You know, Hyung?! I want nobody, just you.”

Onew mengelus pipi Key yang tanpa cela. “And you have to know that I can’t forget you. I can’t stop thinking about you.”

Wajah Key makin merah matang.

Come back to me.” kata Onew seperti berbisik.

Dan cukup dengan kalimat itu, Key kembali merasa airmatanya siap menetes lagi. “You know the answer.”

Onew tersenyum. Diapitnya kedua pipi Key sebelum mengeliminasi jarak antara mereka berdua.

Sementara hari semakin gelap.

.:E-N-D:.

Ken : *nyingkirin papa Onew* Udah! Mama nanti ketularan demam!

Onew : *cemberut*

Key : *muka masih merah*

Pembaca : *nabok Ken rame-rame*

Hahahahaha….akibat kebanyakan denger “I Can’t”-nya 2PM nih. Akhirnya bikin beginian.

Ya Alloh!! Maap banget buat pah Onew dan mah Key yang saya bikin OOC dan ngasih mereka adegan kea begini!! Huaaaa…. *sembunyi di bawah selimut*

Tapi YESUNGlahh….udah terlanjur ini! *ditabok* Saya nge-tag-nya random ya?! Jadi yang merasa ga suka di-tag, silakan diremove sendiri (bias ga ya?!). Dan yang belom ke-tag, maaph!!! Sorry, sorry, sorry, sorry *sambil ngedance*…mungkin kelewat.

KOMEEEEEEEEEEENNN!!! AWAS KALO ENGGAK!! SAYA BUANG KE KALI CILIWUNG!! *dibuang duluan* DAN NO FLAME!! NO BASHING!!

Ne, gomawo udah baca.. *nunduk*

0 komentar:

Posting Komentar