MiniFF YAOI / HaeHyuk / When You Need To Forget / OneShoot

Note : Typos, bahasa kacau, membingungkan, aneh, geje, dan lain sebagainya.

Disclaimer : When You Need To Forget

Cast : Lee Donghae – Lee Hyukjae

Genre : Angst (??)

Rating : 19+

Rules : Tag random, yang ga suka langsung REMOVE dan BANTING SETIR, DILARANG COPAS dan BASH, WAJIB MENINGGALKAN JEJAK lho!!

Happy read :))

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

---Donghae POV---

“Ayo kita pacaran!” Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir kecil nan ranum dari namja di hadapanku.

Aku terdiam melihat ekspresi yang muncul di wajahnya malam ini. Aku tahu dia baru menangis. Jejak airmatanya begitu kentara, sekalipun ia mati-matian mengusapnya tadi. Tadi, sebelum aku datang di tengah guyuran salju yang menggila karen panggilannya yang sangat mendadak di taman yang sering kami gunakan untuk bermain ketika masih kecil.

Mengetahui aku yang tidak kunjung mengatakan apapun, dia menatapku dengan ekspresi yang mulai menunjukkan emosi. “Aku bilang, ayo kita pacaran!”

Aku hanya menutup mata lalu menggeleng.

“Wae?” Kulihat matanya berair lagi. “Kau bilang kau menyukaiku kan?!”

Aku masih terdiam.

“Wae, Donghae-ya?!”

Aku kembali menutup mata. “Aku tidak mau memilikimu dengan cara seperti ini.”

“Pembohong! Bilang saja kau tidak sungguh-sungguh menyukaiku! Sama seperti yang Sungmin-hyung lakukan!” Nada suaranya meninggi meskipun ia menunduk.

Aku kembali terdiam.

“Dia berulang kali bilang kalau dia menyukaiku, ingin menjagaku, mencintaiku. Tapi apa yang dia lakukan? Dia memilih Cho Kyuhyun daripada aku! Memilih menikah dengannya daripada tetap berada di sisiku!” Airmatanya tumpah saat ia mendongak dan menerjangku, mencengkeram kerah bajuku.

Aku menatap matanya yang basah. Berusaha mati-matian untuk tidak ikut meluapkan emosi. Emosi yang selalu muncul setiap kali ia bicara tentang Lee Sungmin, kakak angkatnya –Lee Hyukjae, teman sepermainanku— yang ia sukai. “Kau salah mengartikan perasaannya.”

Dia, Lee Hyukjae, melepas cengkeramannya pada kerah bajuku dengan sedikit kasar lalu membalikkan badan. Ia tertawa hampa. “Aku…salah?”

Jika saja aku bisa, aku ingin sekali merengkuh pundak itu. Jika saja aku bisa, aku ingin sekali mencium bibir yang berkata-kata itu. Jika saja aku bisa, aku ingin sekali memiliki hati itu. Jika saja aku bisa…………

Namun nyatanya aku tak bisa.

Kulihat ia melangkah pergi, tanpa berpamitan atau mengatakan apapun. Ia menyeret kakinya dan menciptakan jejak-jejak tak beraturan di jalan yang tertutup salju.

“Kau mau kemana?”

Eunhyuk –panggilan sayangnya— menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh ia menjawab, “Kemana saja, asal aku tidak perlu mengingat apa-apa lagi.”

“Mwo?” Suaranya terlalu lirih untuk sampai ke telingaku.

Ia tidak menjawab lagi dan melanjutkan langkahnya. Memaksaku untuk bergerak menyusulnya dan menarik tangannya. Dengan paksa kubuat ia memandangku, sekalipun matanya tetap kosong.

“Kau akan menyesal kalau berbuat yang tidak-tidak!” ancamku.

Ia tersenyum miris. “Memang…apa yang akan kulakukan?”

Demi Tuhan, kalau aku tidak menyukainya, akan kupukul dia yang menyunggingkan senyum menjijikkan seperti ini.

“Lepaskan aku, Donghae-ya.” katanya lagi, dengan lirih.

Namun bukannya melepaskan cengkeramanku, justru kutarik tangannya. Aku bisa merasakan langkahnya yang terpaksa mengikutiku.

“Donghae-ya…”

“Diam!” potongku cepat.

Aku berjalan ke arah mobil dan membuka pintu di sebelah kursi sopir. Kembali kupaksa Eunhyuk untuk masuk ke sana kemudian membanting pintu.

Eunhyuk memberanikan diri menatapku sambil memegang pergelangan tangannya –yang mungkin ngilu akibat tarikanku barusan— saat aku duduk di kursi kemudi dan menyalakan mesin. Namun mungkin melihat ekspresiku, ia kembali menunduk.

Kuinjak pedal dan kujalankan mobil dengan kecepatan yang tidak pelan.

“Kita…mau kemana, Hae?” Suara Eunhyuk terdengar setelah hampir sepuluh menit yang beku. Ia menatap jalan lewat kaca di sebelah kanannya.

“Kemanapun…asal kau tidak ingat apa-apa lagi.”

Aku tahu Eunhyuk terkejut karena ia langsung mengalihkan pandangannya padaku.

“Itu yang kau inginkan kan?!” lanjutku.

“Hae…”

“Akan kubuat kau melupakannya, kalau itu maumu.”

Eunhyuk menunduk lagi. Dan setelah itu tak ada lagi suara di antara kami.

.

.

.

.

.

Aku mematikan mesin mobilku saat yakin sudah terparkir dengan benar. Dengan cepat kubuka pintu mobil dan menghampiri pintu sebelah.

“Kajja!” Kembali kutarik tangan Eunhyuk.

“Hae, chamkam…”

Aku menghentikan langkah dan menghadapnya. Ia terkejut dan menunduk lagi.

“Kau takut?” tanyaku dingin. “Bukankah kau yang minta kita pacaran? Bukankah kau yang ingin melupakan Lee Sungmin itu?”

Nafas Eunhyuk berhenti sejenak saat aku mengucapkan nama namja yang disukainya itu.

“Kalau kau menginginkan semua itu, sekalipun itu artinya sama saja dengan menjadikan aku pelarian, sekalipun aku tidak benar-benar memilikimu, akan kulakukan.”

Mata kecil Eunhyuk melebar.

“Jadi jangan bicara lagi dan ikuti aku!” Aku menyeret Eunhyuk lagi.

“Anni, Hae…” Ia mulai berontak namun kuabaikan dan makin memperkuat cengkeramanku padanya. “Hae, lepas!”

Aku menekan tombol pada lift dan tidak sampai menunggu lama pintu besi di hadapanku terbuka. Kudorong tubuh Eunhyuk ke dinding besi sampai terdengar suara keras saat tubuh ramping namja itu menabraknya.

“Ap…a (read : sakit)…” rintihnya sambil memegang pundaknya.

Kutekan tombol untuk menutup pintu lift sambil intensif mendekati Eunhyuk. Dengan kasar kerenggut dagunya dan mengulum bibir merah itu.

---normal POV---

Eunhyuk terbelalak saat menyadari Donghae tengah menekan bibirnya. Didorongnya tubuh namja itu untuk menjauh namun gagal. Namja yang tengah menghisap bibirnya itu mengangkat tangan kanannya dan menahannya di dinding besi, membuat geraknya terbatas.

Donghae memiringkan kepalanya ke kiri dan makin memperkuat tekanannya.

Dan harus Eunhyuk akui, ia ketakutan sekarang. Selama mereka bersama, tak pernah dilihatnya Donghae seperti ini. Ia mati-matian mendorong tubuh namja itu saat Donghae menjilat bibir bawahnya.

“Haeee…emmhh!” Eunhyuk gagal bicara saat lidah Donghae sudah menerobos masuk dalam rongga mulut nya.

Eunhyuk menutup mata saat merasa tangan kanan Donghae menelusup masuk ke dalam bajunya dan membelai punggungnya. Dan lenguhan terdengar saat Donghae menurunkan ciumannya ke leher putih susu milik Eunhyuk.

“Hh…hae… Shireo~”

Donghae membuka matanya dan menjauhkan bibirnya dari leher namja yang di’mangsa’nya itu.

“’Shireo’?” Donghae mengulangi apa yang diucapkan Eunhyuk sambil menyeringai. Ia kembali mendekati leher Eunhyuk dan menjilat redmark yang barusan tercipta dari pekerjaan menghisapnya. “Aku namjachingu-mu kan?!”

“Ah…anni…” Eunhyuk mendongak dan merapatkan kepalanya ke dinding besi di belakangnya saat sekali lagi Donghae menghisap lehernya.

“Aku akan membuatmu melupakannya, Hyukjae.”

.

.

.

.

.

Donghae menyeret Eunhyuk menyusuri lorong dengan lampu temaram. Melewati pintu-pintu mewah khas apartemen.

Eunhyuk tidak bisa melakukan apapun selain menurut. Jujur, tenaganya hilang setelah apa yang dilakukan Donghae di dalam lift tadi. Bukan hanya tenaganya, rasanya otak Eunhyuk juga gagal berfungsi. Ia hanya bisa terdiam mengikuti Donghae sambil menutupi leher kirinya tempat tanda kepemilikan namja itu berada.

Mereka berhenti di sebuah pintu berwarna silver. Donghae menekan beberapa angka kombinasi sampai terdengar suara mesin dan kemudian ia membuka pintu. Eunhyuk bisa melihat isi apartemen yang ternyata minimalis itu sekalipun hanya beberapa lampu yang dihidupkan.

Donghae kembali melanjutkan langkah kakinya ke sebuah pintu putih dan membukanya. Di situ adalah kamar besar dengan ranjang besar berseprei biru laut.

Donghae menghempaskan tubuh Eunhyuk di sana. Mengabaikan tatapan takut Eunhyuk dan melepas jaket tebalnya. Dalam keremangan Eunhyuk bisa melihat mata Donghae yang dingin dan menatapnya lapar.

Donghae menghampiri Eunhyuk yang terduduk di ranjangnya. Tanpa berkedip, diusapnya pipi kiri Eunhyuk dengan tangan kanannya. “Apa kau bisa melihatku, Eunhyuk-ah?”

Nada suara itu sangat kontras dengan sorot mata Donghae saat ini. Nada itu, sampai ke telinga Eunhyuk dengan sangat miris.

“Apa sekarang aku bisa memintamu untuk hanya melihatku?” tanya Donghae lagi.

“Hae…”

“Sekarang hanya ada aku di hadapanmu, bisakah kau melihatku? Dan bukan orang lain?”

Eunhyuk tertegun.

Donghae mendorong tubuh Eunhyuk hingga telentang di ranjangnya. Dan ia pun menurunkan badannya mendekat ke arah namja itu.

“Dengan semua yang sudah kulakukan padamu tadi, tetap tidak bisakah?” Donghae mendekatkan bibirnya ke telinga Eunhyuk.

Entah kemana ketakutan Eunhyuk tadi menghilang. Yang mengisi hatinya kini hanya perasaan bersalah.

Bagaimana mungkin selama ini ia mengabaikan orang yang selalu ada di dekatnya? Berulang kali menyatakan cinta padanya dan berulang kali pula hanya senyum yang ia berikan. Bagaimana mungkin selama ini ia begitu egois menceritakan semua perasaannya tentang Sungmin? Padahal jelas-jelas Eunhyuk tahu bahwa orang itu memiliki perasaan padanya.

“Tidak bisa, rupanya..” Donghae menjawab pertanyaannya sendiri.

Donghae menghirup aroma di leher Eunhyuk dan merasa matanya basah. Sakit ini sudah lebih dari cukup untuk membunuhnya. Mungkin memang saatnya ia menyerah. Lagipula, bagaimana bisa ia berkata seperti ini padahal Eunhyuk sendiri sedang terluka?

Donghae bangkit dan menatap Eunhyuk sejenak sebelum memutuskan untuk berbalik badan. Diraihnya jaket yang dibuangnya begitu saja di lantai kemudian mengenakannya lagi.

“Akan kuantar kau pulang.”

Kalimat itu membuat Eunhyuk tersadar dari lamunannya.

“Kurasa kakakmu sudah khawatir.”

Kembali Eunhyuk merasa hatinya diiris saat Donghae mengingatkannya tentang Lee Sungmin.

“Aku akan tunggu di luar.” Selesai mengucapkannya, Donghae menutup pintu dan meninggalkan Eunhyuk sendirian.

Sepeninggal Donghae, Eunhyuk terdiam menatap kosong lurus ke depan. Dicengkeramnya dadanya yang berdenyut menyakitkan. Entah mana yang lebih menyakitinya, kabar tentang pernikahan Lee Sungmin atau kalimat Donghae barusan. Ia menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, airmatanya kembali mengalir.

Sementara itu, di luar, Donghae bersandar pada daun pintu yang memisahkan ruangnya dengan Eunhyuk.

Harusnya lebih cepat melepaskannya, Hae. Donghae berkata pada dirinya sendiri. Ditatapnya langit-langit dan tersenyum pahit, “Tapi aku tidak tahu, bagaimana melepaskanmu, Lee Hyukjae.”

---END---

MUHEHEHEHEHEHEHE!!! Geje, ngegantung, sarap, minta ditabok!!

Ayo, yang mau bunuh saya! Saya siap!! #plak #plak

Gara-gara liat MV-nya FIX nih jadi bikin beginian. Kurang hot ya?! #plakk

Hehe.. Ga tau dehh mau ngomong apa lagi. Terimakasih sudah mampir dan membaca. Ga wajib RCL lengkap, tapi wajib meninggalkan jejak dalam bentuk apapun. Jejak bisa ditinggalkan via facebook ya?!

Bye bye~~ :D

0 komentar:

Posting Komentar